BERITA UTAMA

PROGRAM PRIORITAS

BLUSUKAN

Padat Karya Tunai Untuk Tingkatkan Daya Beli Masyarakat

Presiden Joko Widodo memanfaatkan kunjungan kerjanya ke Provinsi Jawa Tengah, pada Senin, 15 Januari 2018, untuk meninjau pembangunan saluran irigasi tersier 130 hektare yang...

Pembagian Lebih Dari 5.000 Sertifikat di Tegal

Usai melakukan kegiatan kunjungan kerja di Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, Presiden Joko Widodo pada Senin, 15 Januari 2018, kembali melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten...

Penyerahan KIP dan Kartu PKH di Pekalongan

Perhatian pemerintah terhadap akses kepada pendidikan yang layak bagi pelajar Indonesia sangatlah besar. Perhatian tersebut ditunjukkan salah satunya melalui program Kartu Indonesia Pintar (KIP)....

Keberagaman Adalah Takdir Tuhan yang Harus Dijaga

Presiden Joko Widodo menyatakan sukacitanya untuk dapat bertemu dan bersilaturahmi kembali dengan para kiai, ulama, dan habaib dari seluruh penjuru Tanah Air. Pertemuan tersebut...

Resmikan Bendungan Raknamo Di Kupang NTT

  Presiden Joko Widodo meresmikan sejumlah proyek infrastruktur yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satunya adalah Bendungan Raknamo yang berada di Desa...

FOTO VIDEO

Indonesia saat ini, ibarat manusia, memiliki kesehatan fisik yang prima: kolesterol, asam urat, jantung, ginjal, dan semua organ tubuh lainnya dalam kondisi sehat. Hanya sesekali terkena masuk angin.

Tapi kenapa kita tidak bisa lari cepat? Ternyata setelah dicermati secara rinci masih banyak masalah di lapangan.

Contohnya di perbankan. Seperti saya sampaikan pada Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan Tahun 2018 di Jakarta, Kamis lalu, kapasitas kredit yang dimiliki Indonesia sebesar Rp640 triliun dan ketersediaan likuiditas juga pada angka Rp626 triliun. Itu cukup baik.

Bank-bank kita asyik mengumpulkan dana pihak ketiga (DPK), tapi pemberian kreditnya susah, terutama kepada pengusaha kecil, menengah, mikro. Atau di atas kertas, pemberian kreditnya bagus tapi hanya ke debitur yang itu-itu saja, sehingga tidak menyebar dan tidak merata.

Karena itulah, untuk meningkatkan pemberian kredit, saya mendukung pendirian bank wakaf mikro oleh Otoritas Jasa Keuangan. Misalnya, bank wakaf mikro di lingkungan pesantren yang telah dibuka. UMKM harus diperhatikan, kalau kita ingin ketimpangan di negara kita semakin menyempit.

Foto: Biro Pers Setpres ... See MoreSee Less

View on Facebook

Minum kopi di Sejiwa Cafe, Bandung. Baristanya anak-anak muda. Kopinya dari Gunung Puntang, Jawa Barat ... See MoreSee Less

View on Facebook

Beberapa pemimpin negara Islam bertemu saya di konferensi Organisasi Kerja Sama Islam beberapa waktu lalu, dan memberi saran yang menggelitik. Kata mereka: "Generasi muda Indonesia yang dikirim ke Timur Tengah sebaiknya belajar ekonomi, perdagangan atau perminyakan. Sebaliknya, generasi muda Timur Tengah belajar mengenai Islam ke Indonesia.”

Kita pun sudah merencanakan pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) yang dimulai pertengahan tahun 2018 ini. Peraturan Presiden pembangunan UIII sudah saya tanda tangani lebih setahun lalu.

Kemarin, saya memimpin rapat terbatas di Jakarta untuk mengetahui perkembangan pembangunannya. UIII ini akan dibangun di daerah Cimanggis, Depok, Jawa Barat di atas lahan seluas 143 hektare. Anggaran pembangunannya total Rp3,9 triliun yang bersumber dari APBN dan hibah dari negara-negara lain.

UIII ini dibentuk bukan hanya untuk menjawab kebutuhan domestik, tetapi untuk menjawab kebutuhan masyarakat internasional, serta memperkokoh kepemimpinan Indonesia di dunia internasional, terutama umat Islam internasional. Bila telah rampung pada tahun 2022, kampus itu akan menonjolkan pengajaran mengenai peradaban dan ilmu-ilmu Islam yang berkembang di Indonesia. Hal itu dianggap baik oleh negara-negara tetangga, sebagaimana yang mereka sampaikan di pertemuan OKI dulu itu.

Foto: Biro Pers Setpres ... See MoreSee Less

View on Facebook

Ni Nengah Widiasih (paling kanan depan) datang ke Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga di kawasan Senayan, Jakarta, Rabu pagi dengan busana batik. Duduk di atas kursi roda, perempuan 28 tahun ini menampakkan wajah gembira. Hari itu, ia diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil di Kemenpora berkat prestasinya di dunia olahraga yang mengharumkan Indonesia.

Ni Nengah Widiasih adalah atlet difabel berprestasi dunia. Ia meraih medali perak pada Asian Para Games 2014 di Incheon, Korea Selatan, medali perunggu pada Kejuaraan Dunia Angkat Berat 2016 di Dubai, medali perunggu di Paralimpiade 2016 Rio de Janeiro, dan medali perak pada ASEAN Para Games 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia. “Dengan pengangkatan ini kami punya tanggung jawab besar untuk memberi yang lebih baik lagi untuk Indonesia,” katanya.

Ni Nengah adalah satu dari 137 atlet berprestasi yang diangkat menjadi PNS. Atlet-atlet berprestasi yang juga diangkat menjadi PNS antara lain Eki Febri Ekawati (Peraih Emas Tolak Peluru, SEA Games 2017), pebulutangkis Tontowi Ahmad, Liliyana Natsir, Kevin Sanjaya, dan Marcus Ferinaldi, perenang I Gede Siman Sudartawa, atlet senam Rifda Irfanaluthfi, juga atlet wushu Lindswell Kwok.

Pengangkatan 137 atlet berprestasi menjadi PNS itu adalah komitmen pemerintah bahwa para atlet harus diberi penghargaan, tidak hanya bonus tetapi masa depan mereka yang berkelanjutan. Mereka yang diangkat menjadi PNS ini peraih medali di olimpiade dan paralympiade atau kejuaraan tingkat dunia lainnya, Asian Games dan SEA Games.

Foto: Humas Kemenpora ... See MoreSee Less

View on Facebook