BERITA UTAMA

PROGRAM PRIORITAS

BLUSUKAN

Ajak Umat Muslim Teladani Sikap Kecintaan Bangsa Para Kiai

Para kiai di Tanah Air dikenal memiliki sikap kepedulian dan kecintaan yang tinggi pada bangsa dan negara. Bahkan, sejak sebelum perang kemerdekaan, para kiai...

Dari Lombok, Menuju Cirebon

Setelah menjalani penerbangan dengan menggunakan Pesawat CN-295 TNI AU selama hampir dua jam, Presiden Joko Widodo beserta rombongan tiba di Bandar Udara Cakrabhuwana, Kota...

Resmikan Masjid Nurul Bilad di Mandalika

Setelah meresmikan beroperasinya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, pada Jumat, 20 Oktober 2017, Presiden Joko Widodo melaksanakan ibadah Salat Jumat di Masjid Nurul Bilad....

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika Resmi Dioperasikan

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika yang berada di Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, resmi dioperasikan. Peresmian yang dilakukan langsung oleh Presiden Joko...

Penyerahan 5.750 Sertifikat Tanah di Mandalika

Mengawali hari kedua berada di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat, 20 Oktober 2017, Presiden Joko Widodo menyerahkan 5.750 sertifikat kepada masyarakat se-Provinsi NTB...

FOTO VIDEO

Jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup banyak dirasai. Tiga tahun semenjak menjadi Presiden Republik Indonesia, saya telah mendatangi 33 provinsi di luar ibukota Jakarta, dari Aceh di ujung barat sampai Papua di ujung timur, dari Nusa Tenggara di pinggir selatan sampai ke Pulau Miangas yang terluar di utara.

Sejak kunjungan pertama ke Kabupaten Karo di Sumatera Utara pada 29 Oktober 2014, sembilan hari setelah dilantik, sampai hari ini, saya tetap blusukan: menghadiri sedikitnya 520 acara dalam 1.095 hari sebagai Presiden!

Apa yang saya inginkan dari blusukan ke seluruh pelosok negeri?

Saya ingin memastikan semua program pemerintah yang sudah direncanakan telah dilaksanakan dengan benar, mengontrol jalannya proyek-proyek strategis nasional, mengecek hambatan-hambatan dan mencarikan jalan keluarnya.

Kita gencar membangun infrastruktur untuk mengejar ketertinggalan pembangunan dan meningkatkan daya saing dengan negara lain. Anggaran untuk infrastruktur ini telah ditingkatkan pemerintah dari Rp177 triliun pada tahun 2014 menjadi Rp401 triliun pada tahun 2017.

Kita telah menyelesaikan pembangunan tujuh Pos Lintas Batas Negara yang layak dan membanggakan di perlintasan utama sepanjang perbatasan dengan negara tetangga Malaysia, Papua Nugini dan Timor Leste.

Selain itu, dalam tiga tahun ini, panjang jalan tol di Indonesia telah bertambah 300 kilometer dari semula hanya 780 kilometer di tahun 2014. Jalan-jalan tol untuk mempermudah konektivitas antardaerah dan memperlancar arus barang dan logistik kini sedang dikebut pengerjaannya. Saya menargetkan, jalan tol di Indonesia bertambah 1.800 kilometer dalam periode 2015-2019. Saat itu, Sumatera dan Jawa serta sebagian Kalimantan telah terhubungkan jalan bebas hambatan dari ujung ke ujung.

Selain jalan tol, kita pun membangun jalan-jalan nasional di berbagai lokasi. Total jalan yang sudah dibangun dalam tiga tahun terakhir sudah mencapai 2.623 kilometer termasuk jalan-jalan perbatasan, Trans Papua, Kalimantan dan Nusa Tenggara Timur. Panjang jembatan yang dibangun sampai Oktober 2017 juga telah mencapai 25.149 meter.

Kita juga membangun pelabuhan, mulai dari Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta, Kuala Tanjung di Sumatra Utara, dan Makassar New Port di Sulawesi Selatan, serta pelabuhan-pelabuhan kecil di berbagai pulau. Tahun depan akan dimulai pembangunan pelabuhan di Sorong, Papua.

Indonesia sebagai negara besar yang memiliki 17.000 pulau namun tidak semua pulaunya dapat disinggahi kapal. Karena itu di pulau-pulau terpencil di Natuna, Miangas, kita bangun bandara. Tiga tahun ini kita membangun tujuh bandara baru dan membenahi 439 bandara lama.

Tahun 2017 ini, pemerintah juga menyelesaikan pembangunan 33 waduk dari 49 yang direncanakan.

Di antara berbagai kunjungan itu, saya tak pernah melewatkan bertemu masyarakat dan anak-anak sekolah, untuk membagikan Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, Program Keluarga Harapan serta sertifikat hak milik atas tanah.

Saya telah membagikan secara langsung 1.286.395 lembar Kartu Indonesia Sehat untuk warga 514 kabupaten dan kota. Sampai Oktober 2017 ini, KIS telah diterima 182 juta penduduk Indonesia. Saya juga membagi langsung 46.336 lembar Kartu Indonesia Pintar di 39 kota dan kabupaten dari lebih 8 juta KIP yang telah dibagikan kepada siswa-siswa sekolah.

Mengapa bantuan sosial nontunai ini begitu penting? Karena ini investasi sumber daya manusia, bagian dari persiapan kita menghadapi bonus demografi di tahun 2025-2030. Pada periode itu diperkirakan penduduk usia produktif Indonesia paling besar.

Selain itu, untuk mengejar target sertifikasi lahan di seluruh Indonesia, saya pun turun tangan dengan membagikan langsung 137.035 lembar sertifikat hak milik tanah untuk rakyat dalam dua tahun program ini di setidaknya 37 lokasi di 22 provinsi.

Di seluruh Indonesia ada 126 juta bidang tanah, baru 46 juta bidang yang bersertifikat. Inilah yang membuat rakyat lebih sering salah ketika terjadi sengketa tanah antara orang dengan orang, orang dengan perusahaan, orang dengan pemerintah. Mereka tidak memiliki sertifikat, tak ada bukti kepemilikan atas tanah.

Begitulah. Tiga tahun sebagai Presiden Republik Indonesia, tiga tahun pula saya blusukan ke seluruh Indonesia.

Tak semua pembangunan itu dapat saya sampaikan satu per satu. Perjalanan kita tentu masih jauh mengingat negara ini sungguh besar dalam arti sebenar-benarnya. Dihuni 255 juta penduduk, membentang di atas lebih 17.000 pulau, terdiri atas 714 suku bangsa yang berbicara dalam lebih 1.100 bahasa.

Di atas keragaman itu, kita tetap hidup dalam harmoni, dipersatukan oleh Pancasila, sebagaimana semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Tiga tahun menjadi Presiden Republik Indonesia, pekerjaan kita masih jauh dari selesai. Negara kita besar, maka target kita juga harus besar. Agar kita berdaya saing kuat, berdiri tegak dan sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya.

Terima kasih, semoga Allah SWT meridhai segenap kerja kita bersama.

Foto: Biro Pers Setpres ... See MoreSee Less

View on Facebook

Jangan bermimpi kita bisa bersaing dengan negara-negara lain, apalagi memenangkannya, apabila infrastruktur kita tertinggal.

Karena itulah, tiga tahun ini, kita begitu gencar membangun infrastruktur: jalan, jembatan, bendungan, pelabuhan, bandara, dan lain-lain. Sedang kita bangun misalnya di Kalimantan ada 24 proyek, di Sulawesi 27 proyek, di Maluku dan Papua 13 proyek, di Sumatra 61 proyek, dan di tempat-tempat lain.

Nah, di balik proyek-proyek pembangunan itu, ada kontribusi besar dari sumber daya manusia yang bekerja seolah tak kenal lelah, ya para tenaga konstruksi, tenaga terampil dan terlatih. Anda tahu berapa tenaga kerja konstruksi yang kini bekerja di pemerintah, BUMN dan swasta di seluruh Indonesia?

Tujuh juta orang!

Masalahnya, dari tujuh juta itu, yang bersertifikat baru sembilan persen di antaranya. Kira-kira baru 600.000 pekerja.

Karena itulah, Kamis 19 Oktober 2017, kita memulai program Percepatan Sertifikasi Tenaga Kerja Konstruksi secara serempak di seluruh Indonesia. Saya sendiri yang membuka program itu di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat.

Saya berharap dengan percepatan sertifikasi ini, kualitas sumber daya manusia Indonesia akan semakin meningkat.

Foto : Biro Pers Setpres ... See MoreSee Less

View on Facebook

Saya sudah mendengar suara-suara yang mengatakan, seolah-olah investasi di negara ini hanya dari barat, dari Jepang, Korea Selatan, atau Tiongkok.

Saat bertemu keluarga besar Persatuan Islam (PersIs) se-Bandung Raya di Bandung, semalam, saya sampaikan bahwa isu ini tidak sepenuhnya benar.

Sejak tiga tahun lalu saya sudah berkunjung dan melakukan pendekatan ke negara-negara di Timur Tengah juga. Tiga tahun lalu saya sudah bertemu dengan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz, Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad Al Thani, dan Perdana Menteri Uni Emirat Arab Syekh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, dan juga beberapa negara lain. Saya mengajak mereka semua di kawasan Timur Tengah untuk berinvestasi ke Indonesia.

Yang datang baru Raja Salman yang menanamkan investasi Rp80 Triliun di Indonesia. Ini angka yang besar sekali.

Siang tadi, Syekh Tamim dari Qatar juga telah tiba di Indonesia. Ia membawa serta 43 delegasi bisnis dari Qatar untuk menghadiri forum bisnis bersama 150 pengusaha Indonesia di Jakarta.

Setelah itu, kita siap-siap menanti kedatangan Perdana Menteri Uni Emirat Arab Syekh Mohammed bin Rashid Al Maktoum pada awal Desember nanti.

Foto: Biro Pers Setpres ... See MoreSee Less

View on Facebook

Program dana desa ini salah satu andalan pemerintah untuk membangun desa, dan mengurangi ketimpangan, sudah berada pada jalur yang tepat. Tapi yang harus diingat, dari 74.000 desa yang ada di Indonesia, tidak mungkin bagi pemerintah untuk mengawasi jalannya pemanfaatan dana desa satu per satu.

Karena itulah, dari Garut, Jawa Barat yang saya kunjungi kemarin, saya mengajak masyarakat untuk ikut mengawasi penggunaan dana desa ini apakah untuk irigasi, jalan, dan sebagainya. Uang itu ditransfer langsung dari pusat ke desa. Tanggung jawab ada di desa.

Kepada para kepala desa, saya meminta agar melibatkan masyarakat dalam menentukan pemanfaatan dana desa itu. Apa pun pemanfaatan dana desa tersebut, diperbolehkan sepanjang itu untuk hal-hal produktif yang dapat memajukan perekonomian desa.

Foto: Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi ... See MoreSee Less

View on Facebook