BERITA UTAMA

PROGRAM PRIORITAS

BLUSUKAN

Mengunjungi Museum Kontemporer Nyoman Gunarsa

Saat melakukan kunjungan kerja di Bali, Presiden Joko Widodo secara khusus mengagendakan kegiatannya untuk berkunjung ke museum lukisan klasik dan museum kontemporer Nyoman Gunarsa....

2019, Semua Tanah Di Bali Sudah Bersertifikat

Setelah menghadiri Rapimnas ke-1 Partai Hanura Tahun 2017, Presiden Joko Widodo menyerahkan sertifikat hak atas tanah program strategis nasional di Lapangan Renon, Kota Denpasar,...

Awasi Penggunaan Dana DesaTerus-Menerus

Dana desa merupakan salah satu program pemerintah untuk membiayai pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan desa serta pemberdayaan masyarakat desa. Tak tanggung-tanggung, jumlah dana desa...

Manfaatkan Momentum Kepercayaan Publik

Presiden Joko Widodo resmi membuka Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) ke-1 Partai Hanura tahun 2017. Dalam pembukaan Rapimnas yang digelar di The Stones Hotel, Kuta,...

Puji Kualitas Bangunan Rumah Bersubsidi di Riau

PEKANBARU - Salah satu agenda Presiden Joko Widodo pada Minggu, 23 Juli 2017, adalah mengunjungi Kelurahan Karya Indah, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau....

FOTO VIDEO

Saya melesatkan anak panah dari busurnya ke sasaran di Lapangan Monumen Nasional, tepat pada pukul 19.25 WIB semalam. Saat itu juga, jam digital di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta dan Stadion Jakabaring, Palembang mulai berdetak menghitung mundur setahun menuju pembukaan Asian Games 18 Agustus 2018.

Setelah itu adalah pertunjukan yang meriah.

Hitung mundur dipandu tayangan warna-warni di dinding tugu Monas. Lalu sebanyak 300 drone terbang membentuk aneka gambar di udara seperti atlet yang berlari membawa obor, Burung Garuda dan bendera Merah Putih. Juga ada tarian daerah Nusantara, penampilan artis-artis nasional, serta pesohor Asia dari Korea Selatan, Taeyeon dan Hyoyeon dari SNSD yang datang untuk merayakan hitung mundur setahun menuju pesta olahraga negara-negara se-Asia itu.

Asian Games 2018 dibuka 365 hari lagi. Tuan rumah, Jakarta dan Palembang, kini berbenah menyambut perhelatan besar itu. Mari, bekerja bersama, satukan kekuatan, untuk mensukseskan Asian Games 2018.

Foto: Biro Pers Setpres ... See MoreSee Less

View on Facebook

Sebenarnya kejadian ini tak seorang pun yang tahu di luar saya dan Ruth. Ya, hanya saya dan Ruth Cheline Eglesya Purba, pembawa baki Bendera Merah Putih saat upacara Penurunan Bendera 17 Agustus, Kamis sore lalu.

Ketika sang pembawa baki dengan bendera terlipat di atasnya melangkah berderap lewat undakan tangga dan mengangsurkannya ke hadapan saya, saya benar-benar lupa: yang harus diangkat bakinya atau hanya kain bendera di atasnya.

Baki kuningnya sudah saya pegang. Untunglah, Ruth begitu dekat dan saya berbisik. “Ruth, ini yang diambil bendera atau bakinya?”

Ruth balas berbisik,“Bapak, hanya benderanya saja.”

Ya, sudah. Untung bisikan saya tidak ada yang dengar 😀 Pak Wakil Presiden Jusuf Kalla yang berdiri dekat saya pun tidak mendengarnya.

Mengapa saya sampai lupa? Karena tidak ikut gladi upacara penurunan bendera. Tapi, Alhamdulillah, upacara berjalan dengan baik.

Foto: Biro Pers Setpres ... See MoreSee Less

View on Facebook

Sebelum terbenamnya matahari 17 Agustus 2017, rangkaian Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 kemarin ditutup dengan upacara penurunan bendera Merah Putih. Setelah itu, bendera dan naskah Proklamasi, kembali diantar dengan kirab kereta kencana ke tempat penyimpanannya di Monumen Nasional. Alhamdulillah.

Kemeriahan peringatan kemerdekaan kali ini sungguh tak terlupakan. Kehadiran veteran, para presiden pendahulu, perwakilan negara sahabat, dan tamu-tamu undangan yang mengenakan busana adat Nusantara telah menguak kembali kekayaan budaya bangsa ini.

Untuk mereka yang berbusana tradisional terbaik, saya menghadiahkan sepeda sebagai penghargaan. Lima sepeda seusai upacara pagi, dan lima sepeda pada sore tadi.

Terus melaju, dan MERDEKA!

Foto: Biro Pers Setpres ... See MoreSee Less

View on Facebook

Puluhan tahun mereka hidup dalam kegelapan. Tak ada listrik yang menjangkau desa. Malam-malam di rumah mereka hanya diterangi cahaya pelita. Anak-anak sekolah belajar dengan penerangan seadanya. Asap dari pelita membentuk jelaga, minyak tanah yang dibakar lewat sumbu membuat mata mereka memerah dan pedih.

Di usia 72 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, desa-desa di pegunungan Papua, bermandikan cahaya listrik di malam hari. Inilah kisah kehadiran pemerintah di Desa Ampas, Kabupaten Keerom, Papua. “Terima kasih. Luar biasa, sudah dibangun listrik dan lampu di desa saya,” kata Yohanis Yafok, Kepala Desa Ampas.

Untuk video selengkapnya, bisa dilihat di:
youtu.be/CRktS0pwn-4 ... See MoreSee Less

View on Facebook