Peran negara-negara Timur Tengah sangat penting dalam mendukung kemerdekaan Republik Indonesia. Mesir, Siria, Palestina, Irak, Arab Saudi, Yaman, Iran, dan Turki adalah pendukung awal kedaulatan RI atas penjajah, bahkan jauh hari sebelum proklamasi 17 Agustus 1945. Negara-negara Timur Tengah tersebut tercatat banyak mengirimkan bantuan dana untuk perjuangan kemerdekaan di 1944, serta mendukung lewat propaganda di media cetak negara masing-masing.

Presiden RI Soekarno pun mengerti arti dari dukungan ini. Karenanya, beliau menggagas Konferensi Asia Afrika 1955 (KAA), yang nafas utamanya adalah untuk menghantam kolonialisme dan penjajahan di Asia Afrika. Namun hingga 60 tahun kemudian, ada satu negara KAA yang belum juga merdeka, Palestina. Adalah sebuah hutang sejarah yang besar, jika Indonesia berdiam diri melihat Palestina, yang bahkan bisa dikatakan menderita akibat penjajahan oleh Israel. Dalam membantu Palestina Indonesia berpegang pada Nawacita sebagai pedoman strateginya, terutama butir tentang “mengintensifkan proses dialog antarperadaban dan tata aturannya” dan “pelaksanaan diplomasi Indonesia dalam penanganan konflik di Timur Tengah”.

Sesuai koridor tersebut, Presiden Jokowi memasukkan dukungan bagi kemerdekaan Palestina sebagai salah satu tujuan utama di peringatan KAA tahun 2015. Dan dukungan ini tercatat dalam Deklarasi Palestina, yang disetujui oleh 32 kepala negara yang hadir.

Seperti ditulis oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (23/4/2015), Deklarasi Palestina berisi komitmen para pemimpin Asia dan Afrika untuk merebut kemerdekaan dan menentukan nasib sendiri seperti yang terangkum dalam Komunike Final Bandung. Selain itu, isi Deklarasi Palestina juga menyoroti persoalan menghormati ketahanan dan keteguhan rakyat Palestina dalam berjuang untuk merdeka dari Israel. Hal ini termasuk pengakuan kedaulatan dan kemerdekaan Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota, berdasarkan batas-batas wilayah pada 4 Juni 1967 dan resolusi PBB yang relevan, serta solusi pendirian dua negara.

Selain mendukung kemerdekaan, Deklarasi Palestina juga menyinggung sejumlah konflik yang timbul sebab pendudukan Israel, seperti soal permukiman Yahudi, ribuan rakyat Palestina yang terusir dari tempat tinggal, hingga sengketa wilayah perbatasan. Dokumen yang disahkan oleh co chair KAA 2015, Presiden Jokowi dan Presiden Zimbabwe Robert Mugabe juga menyinggung soal pembahasan perdamaian antara Israel dan Palestina yang tak kunjung mencapai kata sepakat. Sejumlah isu lainnya dibahas dalam dokumen tersebut. Terutama tentang kecaman atas operasi militer Israel di Jalur Gaza pada Juli hingga Agustus 2014, atau saat bulan Ramadhan. Korban meninggal mencapai ribuan warga Palestina. Deklarasi Palestina tidak lupa mengecam provokasi tak henti-henti dari Israel di Yerusalem Timur terhadap situs-situs keagamaan seperti Masjidil Aqsa.

Terakhir, Deklarasi Palestina juga mengajak seluruh negara Asia dan Afrika untuk bersatu dalam persaudaraan dan solidaritas, serta membantu pembangunan infrastruktur Palestina yang telah hancur utamanya di jalur Gaza. Yang juga krusial adalah mendukung Palestina sebagai anggota tetap Perserikatan Bangsa Bangsa. Ketua delegasi Palestina dalam Konferensi Anggota Parlemen Asia Afrika, Abdullah berterima kasih kepada pemerintah dan rakyat Indonesia yang senantiasa mendukung perjuangan rakyat Palestina untuk merdeka. Sebelum menutup KAA pada 23 April lalu, Presiden Jokowi juga telah bertemu dengan para anggota OKI (Organisasi Negara Islam) untuk menindaklanjuti Deklarasi Palestina. Ini bukti bahwa Indonesia sangat menjunjung tinggi semangat anti kolonialisme dari masa ke masa.