Presiden Joko Widodo mengajak para ulama untuk menebarkan kesejukan bagi seluruh masyarakat, terutama mengingat pesta demokrasi yang akan digelar beberapa bulan ke depan. Ia juga meyakini, jika ulama dan umara dekat dan sering silaturahmi, maka negara akan tenteram, dingin, dan sejuk.

“Saya meyakini apabila para ulama sudah memberikan tausiah dan wejangan pada umatnya, kepada santrinya, inilah yang selalu dijadikan panutan,” ujar Presiden saat bersilaturahmi dengan ulama se-Jadetabek di Istana Negara, Jakarta, pada Kamis, 7 Februari 2019.

Era keterbukaan media sosial seperti sekarang ini menurut Presiden telah membuka ruang bagi setiap individu untuk membuat berita dan opininya sendiri tanpa bisa dikoreksi redaksi. Hal ini menjadi salah satu pemicu mengapa banyak fitnah dan hoaks beredar di masyarakat.

“Menurut saya, yang paling penting bagaimana kita membentengi pribadi-pribadi yang ada di negara kita ini dengan sebuah budi pekerti yang baik, karakter keislaman yang baik, karakter keindonesiaan yang baik, dengan tata krama yang baik, dengan nilai-nilai agama yang baik. Saya kira bentengnya seperti itu. Bukan dilarang, bukan diblok, karena itu justru makin membuat lebih besar lagi. Kalau dalam istilah medsos, malah lebih viral lagi,” ungkapnya.

Situasi tersebut menurut Presiden tidak hanya dialami oleh Indonesia, melainkan terjadi di hampir semua negara. Bagi Indonesia, tantangannya lebih besar lagi karena banyaknya peristiwa politik, mulai dari pemilihan bupati, pemilihan wali kota, pemilihan gubernur, hingga pemilihan presiden.

“Enggak ada di dunia ini sebanyak Indonesia peristiwa politiknya. Dulu sebelum digabung yang namanya pilkada itu, hampir setiap hari di seluruh Indonesia pasti ada pilkada, entah pilihan bupati atau pilihan wali kota karena kita memiliki 514 kabupaten dan kota, 34 provinsi,” tuturnya.

Presiden menilai jika kematangan dan kedewasaan dalam berpolitik sudah ada, maka sebetulnya fitnah dan hoaks itu tidak akan menyebabkan masalah. Namun, bangsa Indonesia dinilai masih pada tahapan proses menuju sebuah kedewasaan dan kematangan dalam berpolitik.

“Sehingga sering sekali berita-berita fitnah itu sangat mengguncangkan masyarakat, sangat memengaruhi kenyamanan masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya,” lanjutnya.

Oleh sebab itu, Presiden mengingatkan sekaligus mengajak para ulama agar bisa memberikan wejangan dan tausiahnya kepada umat untuk mengingatkan masalah-masalah yang timbul jika terjadi konflik di Indonesia. Presiden memberikan contoh negara Afghanistan yang kaya namun tidak bisa dikelola karena konflik yang berkepanjangan.

“Perbandingannya tadi, di sana 7 suku, di sini 714 suku di negara kita. Perbedaan yang sangat jauh sekali. Kalau ini tidak kita ingat-ingatkan, sering kita lupa sebagai sebuah negara besar. Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, sering lupa kita masalah ini,” ungkapnya.

Turut mendampingi Presiden dalam acara ini yaitu Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko.