​JAKARTA – Seiring waktu, ketidakpastian ekonomi global dilihat semakin menggejolak. Disebabkan oleh beberapa faktor seperti perang dagang antara Amerika-China, Amerika-Eropa, serta Turki ditambah pula dengan kebijakan proteksionisme yang dilakukan oleh Amerika dan naiknya suku bunga The Fed sudah menyebabkan gelombang tekanan kuat yang berdampak pada depresiasi mata uang di berbagai negara berkembang seperti Indonesia, Turki, Venezuela, Brazil, Argentina, Meksiko Iran, dan Rusia.

Setelah beberapa waktu rupiah mengalami tekanan yang cukup besar oleh dolar Amerika, Rupiah sedikit bangkit menjauh dari zona mendekati Rp. 15.000 per dolar Amerika. Kamis pekan lalu rupiah menguat ke posisi Rp. 14.875 per dolas Amerika dari Rp. 14.989 per dolar Amerika pada hari Senin, 3 September 2018. Mengacu pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate, pada hari Kamis, 6 September 2018 posisi rupiah kembali menjadi Rp. 14.891 per dolar AS.

Senin 10 September 2018 hari ini, Forum Merdeka Barat 9 di Ruang Serbaguna Menkominfo hadir dengan bertemakan ‘Bersatu untuk Rupiah’ yang mendatangkan beberapa narasumber dari berbagai Lembaga Pemerintahan, Juru Bicara Otoritas Jasa Keuangan Sekar Putih Djarot, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian RI Iskandar Simorangkir, Staf Ahli Bidang Kebijakan Peneriman Negara Kemenkeu RI Robert Leonard Marbun, serta Direktur Eksekutif Departemen Internasional Bank Indonesia Doddy Zulverdy.

Diskusi dibuka oleh Iskandar Simorangkir dengan menjabarkan informasi serta data yang menyatakan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini sebenarnya cukup aman. “Saya pikir cukup rasional apabila pertumbuhan ekonomi sedang tinggi maka nilai impor kita juga tinggi dan itu wajar, cuma dikarenakan ada faktor global terjadilah kondisi rupiah seperti ini” ungkap Iskandar.

Iskandar juga menyajikan data yang membandingkan kondisi ekonomi Indonesia dan beberapa negara berkembang yang mengalami depresiasi mata uang seperti Argentina, Venezuela, dan Turki. “Janganlah membuat informasi yang membuat panik,” tambah Iskandar menghimbau agar media memaparkan data yang meyakinkan masyarakat bahwa Indonesia masih mempunyai fundamental yang masih solid.

​Argumen juga diperkuat oleh Doddy Zulverdy tentang penyebab yang menimbulkan situasi ekonomi belakangan ini, “Situasi ini memang betul disebabkan oleh ekonomi dunia yang bertumbuhnya berat sebelah” tuturnya.

Dalam kesempatan ini juga Doddy menyampaikan informasi serta data pembanding bahwa situasi ekonomi Indonesia saat ini sangat berbeda pada tahun 1997-1998 dimulai dari tingkat inflasi sebesar 78,2% pada Agustus tahun 1998 dan 3,2% pada Agustus tahun 2018 hingga besarnya cadangan devisa sebesar USD 23,61 miliar pada tahun 1998 dan USD 118,3 miliar pada tahun 2018.

Doddy Zulverdy menyampaikan beberapa tindakan yang sudah dilakukan oleh Bank Indonesia dalam menangani situasi ekonomi seperti sekarang, “Ada 3 tindakan yang sudah dilakukan Bank Indonesia sebagai Bank Central, pertama yaitu adanya intervensi ganda di pasar valas dan SDN. Kedua yaitu kenaikan suku bunga, dan yang ketiga adalah adanya pengelolaan dalam lalu lintas modal,” ungkap Doddy.

Dilanjut Robert Leonard Marbun yang menjabat sebagai Staf Ahli Bidang Kebijakan Penerimaan Negara Kemenkeu yang memaparkan tindakan apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah seperti penjelasan detail terhadap PPh impor yang dinaikan oleh pemerintah agar dapat memperkecil nilai impor dan menyampaikan bahwa pemerintah terus berkomitmen terhadap pembangunan yang berkualitas dan berkesinambungan seperti peningkatan daya saing dan produktifitas ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas.

“Kami dari Kemenkeu bersinergi dengan OJK, BI, Kemennko Pereknomian mengendalikan, menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar. Dengan demikian kami berupaya mengurangi dampak negatif dari faktor eksternal. Intinya, kami dari masing-masing K/L bersinergi dan melihat mengapa ini terjadi. Sehingga bagaimana ekonomi Indonesia bisa bertumbuh dan pertumbuhan ekonomi menguat,” kata Robert Marbun.

Argumen Robert juga didukung oleh Juru Bicara OJK Sekar Putih Djarot bahwa pemerintah berkomitmen dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Sekar juga menyampaikan bahwa OJK juga membuat langkah-langkah untuk menangani kondisi ekonomi seperti meningkatkan ekspor domestik.

Seluruh pihak jasa keuangan, lanjut Juru Bicara OJK, sudah bisa dipastikan mendukung pemerintah dalam sejumlah program ekonomi yang sedang dijalankan. Di antaranya terkait pembiayaan dalam transaksi ekspor.

“Dari semua itu, kami berharap koordinasi terus ditingkatkan, khususnya antara pihak pemerintah dan BI. Sehingga, industri hingga saat ini masih dalam keadaan terjaga. Sejauh ini kami mengapresiasi kebijakan pemerintah yang telah melakukan intervensi kepada pasar,” ulas Sekar.