Minggu (2/9/2018) Presiden Jokowi menyambangi Kelurahan Pemenang Baru, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Salah satu wilayah yang paling parah diterjang gempa di Lombok, NTB. Tempat ini adalah tanah kelahiran Lalu Mohammad Zohri, juara  lari 100 meter pada kejuaraan atletik U-20 di Finlandia.

Jejak kerusakan akibat gempa masih tampak nyata. Dinding bangunan banyak yang sudah tidak utuh, atap runtuh, bahkan rata dengan tanah. Pada tanah yang cukup lapang berdiri tenda berukuran besar  untuk menyambut Presiden. Tempat ini,  hanya sekitar 50 meter dari tempat gerai swalayan yang disumbangkan untuk pahlawan lari tersebut.

Di atas panggung pada latar tertulis  “NTB Bangun Kembali” dengan warna mencolok. Bersebelahan dengan tenda tersebut, berdiri tenda orange berukuran lebih kecil bertuliskan BNPB. Kerumunan warga mengantre tertib untuk mengambil bantuan stimulasi perbaikan rumah.

Hari itu Presiden Jokowi  menyerahkan bantuan untuk rumah yang rusak berat, sedang, dan ringan untuk pertama kali sesuai yang dijanjikannya.

Sejak gempa pertama menghantam pulau ini pada 29 Juli 2018, Presiden sudah tiga kali berkunjung ke NTB.  Menurutnya, hal itu dilakukan untuk memastikan bantuan sampai ke masyarakat tanpa potongan satu rupiah pun.

Lima perwakilan warga menerima langsung dari Presiden, masing-masing sebesar Rp 50 juta untuk rumah berkategori rusak berat, Rp 25 juta untuk rumah dengan kategori rusak sedang, dan Rp 10 juta untuk  rusak ringan.

“Ini adalah cobaan yang diberikan Allah pada kita,” ucap Presiden dihadapan 5.293 warga yang menerima bantuan.

Bagi yang belum mendapatkan, Presiden minta agar bersabar. “Ini bantuan pertama perbaikan  rumah bagi yang telah terverifikasi kerusakannya di lapangan. Untuk yang lain, pemerintah akan mem-verifikasi pada lebih dari 70.000 rumah,” ucapnya.

Tak lupa Presiden juga mengingatkan, agar bantuan tersebut betul-betul dipakai untuk perbaikan rumah dengan memakai konstruksi tahan gempa. “Nanti dalam perbaikan rumah akan didampingi  insinyur-insinyur dari Kementerian PUPR dan mahasiswa teknik,” ungkap Presiden.

Kepala negara sekaligus menggarisbawahi, kalau negara Indonesia berada dalam posisi ring of fire – jalur cincin api. Gempa di Sumatera Barat, Aceh, Yogya, pun di Lombok pada tahun 1979 adalah akibat posisi pada jalur tersebut.

Sahiruddin, salah satu penerima bantuan  Rp 50 juta untuk perbaikan rumah yang tinggal di Dusun Kerujuk, Kecamatan Pemenang  mengisahkan bagaimana rumahnya hancur oleh kekuatan gempa ke dua  sebesar 7 pada skala Richter pada malam tanggal 5 Agustus 2018. “Waktu itu saya sedang di mushola selaku Imam.  Setelah sholat Isya berjamaah, selesai zikir, mulai ada getaran kecil yang makin lama makin besar. Kami lari ke luar. Lampu padam. Kami tidak bisa melihat apa-apa, keliling cari rumah masing-masing. Sudah rata, semua sudah habis di Dusun Kerujuk ini,” ungkapnya tegar, saat kami temui pada 3 September lalu di saung di dekat tenda pengungsi.

Sementara itu Basiruddin, Kepala Dusun Kerucuk mengatakan, pada tahap pertama 55 warganya sudah mendapatkan rekening bantuan lewat Bank Rakyat Indonesia. “Saya mengucapkan beribu terimakasih  karena Presiden telah menepati janji untuk memberikan ganti rugi. Bukan hanya itu, kami juga diberikan sembako,” ungkap Basiruddin yang membawahi 220 kepala keluarga di dusunnya.

Menjelajahi kawasan yang terkena gempa dan menemui para warga memunculkan keprihatinan Tapi ketegaran dan semangat untuk  bangkit tampak pada wajah mereka.

Suprapto, guru honorer yang membuka usaha warung makan dan sebagian tempat usahanya rata dengan tanah di Pemenang pun mengajak masyarakat untuk optimis. “Berharap mereka tetap semangat untuk  survive dan melakukan aktivitas seperti biasa. Yang usaha dagang, tani  bisa berjalan lancar sesuai yang diharapkan,” ungkapnya bersemangat.

Serangkaian gempa kecil masih kerap terasa, tenda pengungsi pun masih bertebaran. Namun roda ekonomi tetap bergerak. Berbagai elemen masyarakat, instansi, dan relawan bencana bekerja keras bahu-membahu memulihkan keadaan.

NTB  Bangun Kembali, seperti motto yang digaungkan dalam Apel Siaga yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo.