Ada beberapa Proyek Strategis Nasional (PSN) dan Program Prioritas di wilayah Kalimantan Barat. Di antaranya adalah pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN), pembangunan Pelabuhan Kijing, Kawasan Industri Ketapang, pembangunan food estate di beberapa kabupaten.

Dalam Rapat Terbatas tanggal 14 Maret 2017, Presiden Jokowi menekankan pentingnya membangun zona pendukung di kawasan perbatasan dan memperlancar jalur konektivitas, sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat yang saat ini berada pada angka 5,22%.

Urusan pembangunan fisik di PLBN sudah diselesaikan oleh Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Presiden Jokowi juga sudah meresmikan pos lintas batas antarnegara yang menghubungkan Indonesia dan Malaysia tersebut.

Akan tetapi, masih ada tantangan lain yang juga perlu dikerjakan yakni bagaimana menggerakkan perekonomian di Kalimantan Barat secara umum, dan terutama mendorong adanya kegiatan ekonomi produktif berbasis pertanian dan perdagangan di kawasan perbatasan.

 

Lidah Buaya dan Keladi

Salah satu potensi Kalimantan Barat yang belum digarap secara maksimal adalah pengembangan kawasan pertanian (food estate). Kendala yang dihadapi untuk mengembangkan kawasan ini adalah belum sesuainya aturan tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang tertuang dalam peraturan daerah, baik di tingkat kabupaten/kota maupun di tingkat provinsi.

Di Kalimantan Barat, setidaknya tersedia lahan seluas 37.000 hektar di Kabupaten Ketapang, 15.000 di Kabupaten Mempawah, 35.000 hektar di Kabupaten Sanggau, dan 5.000 hektar di Kabupaten Kubu Raya yang dapat dikelola untuk mendorong peningkatan produksi pertanian.

Wakil Gubernur Kalimantan Barat Christiandy Sanjaya dalam percakapan dengan tim PresidenRI.go.id (Juli 2017 lalu) mengatakan, di Pontianak saja, potensi budidaya tanaman lidah buaya saat ini telah menggerakkan perekonomian lokal di tingkat masyarakat.

Lidah buaya setidaknya sudah mulai menjadi tanaman komoditi yang dikembangkan sejak tahun 1980 di Siantan Hulu. Sepuluh tahun kemudian, ketika tanaman ini dibudidayakan secara lebih serius, hasil yang didapatkan oleh masyarakat relatif menguntungkan. Pada tahun 1992, sosialisasi tentang potensi dan manfaat ekonomi dari tanaman ini mulai makin masif.

Hal itu tak terlepas dari kondisi lahan pertanian di kawasan Siantan Hulu yang bergambut, sehingga kandungan unsur mineralnya sangat cocok bagi pertumbuhan lidah buaya secara maksimal. Dalam waktu kurang dari 10 tahun, tanaman ini sudah menjadi ikon baru kota Pontianak. Melimpahnya produksi tanaman lidah buaya mendorong pemerintah setempat melakukan pembinaan untuk mengolah berbagai produk olahan yang menggunakan bahan baku lidah buaya seperti minuman, dodol, jelly, kerupuk, dan sebagainya.

Pemerintah Kota Pontianak sendiri juga membangun pusat pengembangan dan budidaya lidah buaya yang disebut Aloe Vera Center (AVC), di bawah naungan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Pontianak.

AVC mengembangkan perbanyakan bibit lidah buaya melalui teknik kultur jaringan, sehingga memudahkan petani-petani lokal untuk mendapatkan bibit unggul dengan kualitas yang merata. Bibit-bibit ini dihasilkan dengan teknologi yang memungkinkan bibit lidah buaya tahan terhadap gangguan hama penyakit dan dapat tumbuh secara serempak jika disemaikan pada lahan berukuran luas.

Selain lidah buaya, tanaman lain yang juga berpotensi untuk dikembangkan adalah tanaman keladi atau talas hitam.

Di daerah Amboyo Inti, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, beberapa petani sudah mencoba untuk membudidayakan tanaman ini dalam skala menengah. Keladi atau talas hitam juga merupakan tanaman yang gampang untuk hidup di lahan apapun. Tanaman berbentuk umbi ini tumbuh subur di lahan gambut, dan tidak memerlukan teknik perawatan yang rumit sebagaimana halnya tanaman sawit.

Ferdinand, salah satu petani yang membudidayakan keladi di lahannya mengaku, perawatan keladi jauh lebih mudah dan murah dibandingkan dengan tanaman lainnya. “Hasilnya juga lebih menguntungkan. Kita tanam bibit, delapan bulan kemudian sudah bisa dipanen, tanpa pemeliharaan yang rumit seperti sawit,” ujarnya.

Menurut pengakuan Ferdinand, harga keladi di tingkat pengepul relatif stabil, yakni di kisaran Rp6.000 hingga Rp6.500 di tingkat petani. Ia mendengar dan membaca informasi dari internet, di tingkat pengepul dan pedagang, harganya bisa sampai Rp15.000-Rp20.000 per kilogramnya.

Dari sisi kebutuhan, tambah Ferdinand, saat ini semua tanaman keladi yang dihasilkan petani sudah diserap oleh pedagang. Kebutuhannya bisa sampai sekitar 20 kontainer setiap bulannya, sedangkan pasokan paling banyak sekitar 3 kontainer di seluruh petani, demikian ujar Ferdinand.

Lahan di wilayah Kalimantan Barat yang bergambut, sangat cocok untuk dikembangkan sebagai lahan keladi, karena tanaman ini tidak membutuhkan air terlalu banyak dalam proses pertumbuhannya. Pemupukan dapat dilakukan dengan pupuk kandang ataupun pupuk kimia, tergantung dari ketersediaan petaninya sendiri.

Satu bibit keladi, rata-rata dapat menghasilkan umbi dengan bobot berkisar antara 1-1,5 kg per tanamannya. Jarak tanamnya pun dapat dilakukan secara rapat, kurang lebih 50 cm antar tanamannya.

Dengan potensi pasar yang masih sedemikian luas dan ketersediaan lahan yang masih sangat besar, wilayah Kalimantan Barat dapat didorong untuk menjadi sentra keladi nasional, sebagaimana hari ini telah menjadi salah satu sentra lidah buaya nasional.