Bangsa ini akan maju kalau berhasil melampaui sekat-sekat identitas SARA dan bisa bersatu padu

Keragaman suku, budaya dan agama yang dimiliki Indonesia, merupakan sebuah kekayaan yang dimiliki bangsa. Kebhinekaan yang ada di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dibalut dengan ideologi dasar Negara yakni Pancasila, sehingga dapat mewujudkan kedamaian dalam kehidupan bernegara.

Namun, tak dapat dipungkuri, keberagaman suku, budaya dan agama yang ada, sering menyebabkan terjadinya konflik mengatasnamakan perbedaan baik suku, budaya maupun agama. Padahal, bila ditelisik lebih dalam lagi, konflik yang terjadi akar permasalahannya bukanlah terletak dalam perbedaan tersebut.

Salah satu faktor yang sering menjadi penyebab terjadinya konflik yang mengatasnamakan perbedaan suku, budaya maupun agama, adalah kepentingan politik lokal. Selain itu, faktor sosial-ekonomi juga sering menjadi penyebab munculnya kecemburuan sosial, sehingga menumbuhkan kebencian.

Pada Jumat, (17/7/2015), saat umat muslim yang berada di Kabupaten Tolikara, Papua, tengah melangsungkan Shalat Idul Fitri 1436 H, terjadi insiden pembakaran puluhan kios hingga merembet ke musala dimana umat muslim sedang merayakan Idul Fitri 1436 H.

Insiden tersebut, tentu tidaklah sejalan dengan semangat kebhinekaan dan Pancasila. Sebab itu, pemerintah dalam hal ini aparat kepolisian dituntut untuk menegakan hukum dengan seadil-adilnya. Selain itu, aparat kepolisian juga dituntut untuk tidak hanya menyelesaikan insiden yang telah terjadi, namun harus juga dapat mengantisipasinya.

Menanggapi insiden yang terjadi di Tolikara, Presiden Jokowi dengan segera melakukan pertemuan dengan berbagai pihak terutama dengan para tokoh-tokoh agama. Presiden Jokowi berharap adanya solusi dari persoalan-persoalan yang sering mengatasnamakan perbedaan suku, budaya maupun agama, sehingga dapat diantisipasi sedini mungkin agar tidak terjadi insiden yang tidak diinginkan.

Presiden Jokowi menegaskan, bahwa tidak ada kata terlambat untuk saling berkomunikasi dan bersilaturahmi untuk mencegah dan menyelesaikan gesekan dalam kehidupan bermasyarakat yang beragam.

“Saya juga ingin mengingatkan kita semuanya bahwa apa yang terjadi di Tolikara itu seharusnya memang tidak terjadi kalau komunikasi kita baik, kalau saling silaturahmi kita ini baik sehingga sebelum kejadian semuanya bisa berbicara dan berkomunikasi terlebih dahulu,” kata Presiden Jokowi dalam sambutannya dalam pertemuan dengan sejumlah tokoh agama di Istana Negara, Jakarta, Kamis (23/7/2015).

Presiden Jokowi menyatakan, gesekan-gesekan sekecil apapun sebaiknya segera dipadamkan, sebelum membesar. “Saya percaya bahwa para tokoh lintas agama sependapat dengan saya, bahwa bangsa ini akan maju kalau berhasil melampaui sekat-sekat identitas SARA dan kita akan maju kalau kita bisa bersatu padu,” kata Presiden Jokowi.

Kedewasaan dalam kehidupan bernegara di Indonesia sangatlah penting. Peran pemimpin di daerah baik tokoh masyarakata maupun tokoh agama, memegang andil besar dalam upaya silaturahmi untuk menjaga agar tidak terjadi gesekan-gesekan antar suku maupun agama yang dapat menyebabkan konflik.

Menyikapi insiden di Tolikara, Presiden Jokowi meminta kepada aparat kepolisian untuk menuntaskan kasus tersebut dan memberikan hukuman yang seadil-adilnya bagi yang terbukti bersalah. Selain itu, Presiden Jokowi meminta agar fasilitas yang rusak dalam insiden tersebut segera diperbaiki atau dibangun kembali.

Selain itu, Presiden Jokowi juga menegaskan komitmennya untuk melakukan pembangunan infrastruktur di Papua agar terciptanya pemerataan ekonomi sehingga tidak ada lagi perbedaan sosial-ekonomi yang akan terjadi antara Papua dan wilayah lain di Indonesia.

Dana yang dialokasikan khusus untuk percepatan pembangunan di Papua, mencapai Rp 6 triliun. Untuk jembatan dan jalan Rp4,7 triliun, untuk pengairan irigasi Rp600 miliar, untuk sanitasi dan air minum Rp400 miliar dan untuk perumahan Rp300 miliar.

Presiden Jokowi menargetkan pembangunan jalan trans-Papua sepanjang 3.985 kilometer maksimal akan selesai 2019. Dengan adanya akses infrastruktur jalan yang baik, Presiden Jokowi berharap akan berimbas pada pertumbuhan dan pergerakan ekonomi di seluruh Papua.

“Pemerintah akan terus melakukan pendekatan masalah dengan gerakan ekonomi dengan pembangunan infrastruktur pasar dan pembangunan infrastruktur lainnya. Pembangunan ini harus dirasakan masyarakat Papua,” kata Presiden Jokowi saat peletakan batu pertama pembangunan jembatan layang Hamadi-Holtekamp di Jayapura.