Foto: Biro Pers, Media, dan Informasi, Sekretariat Presiden

Penyerapan tenaga kerja di luar Jawa, meningkat 16% di tahun 2015. Sebaliknya di Jawa, menurun 8%. Proporsi investasi Jawa dan luar Jawa kini makin berimbang

Kerja keras untuk menahan dampak pelemahan ekonomi dunia di tahun 2015 melalui peningkatan investasi dan penciptaan lapangan kerja menunjukkan hasil yang menggembirakan. Hal ini dapat disimpulkan setelah mencermati data realisasi investasi nasional yang tercatat oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Dibandingkan dengan tahun 2014, realisasi investasi tahun 2015 meningkat 17,8%, dari sebelumnya Rp463 triliun menjadi Rp545,4 triliun. Hal ini terdiri dari investasi PMA (Penanaman Modal Asing) sebesar Rp366 triliun (naik 19,2% dari tahun sebelumnya sebesar Rp307 triliun) dan PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) sebesar Rp179,4 triliun (naik 14,9% dari tahun sebelumnya sebesar Rp156,1 triliun).

Hal menarik dari data-data ini adalah fakta bahwa peningkatan investasi yang terjadi adalah yang mendukung tujuan pemerintah untuk menciptakan produktivitas dan daya saing nasional. Indikatornya adalah peningkatan yang terjadi di sektor infrastruktur, jasa dan perdagangan yang naik sebesar 24,4% atau mencapai Rp214,4 triliun – dibandingkan Rp172,3 triliun pada tahun sebelumnya. Lalu, sektor industri manufaktur yang naik sebesar 18,5% atau mencapai Rp236 triliun – dibandingkan Rp199 triliun di tahun sebelumnya.

Sedangkan investasi di sektor ekstraktif atau bahan mentah hanya naik 3,6% atau mencapai Rp95 triliun – dibandingkan Rp91,7 triliun pada tahun 2014. Jelas bahwa Indonesia sedang berubah.

Yang menggembirakan adalah strategi pembangunan “Indonesia-sentris”, sebagai antitesis dari pembangunan “Jawa-sentris”, sudah terlihat pada tahun 2015 dari sisi penyerapan tenaga kerja. Penyerapan tenaga kerja di luar Jawa, meningkat 16% menjadi sebanyak 612.026 orang – dibandingkan 529.464 orang di tahun 2014. Sebaliknya di Jawa, penyerapan tenaga kerja sedikit menurun atau minus 8% menjadi 823.678 orang – dibandingkan 897.113 orang di tahun sebelumnya.

Secara agregat, di tahun 2015 proporsi investasi Jawa dan luar Jawa kini sebesar 54% berbanding 46% – dibandingkan 57% berbanding 43% di tahun 2014. Jika proyek infrastruktur luar Jawa rampung dalam beberapa tahun mendatang, kiranya peran luar Jawa akan lebih besar lagi.

Dilihat berdasarkan pulau-pulau besar, penyerapan tenaga kerja di pulau Sumatera mengalami kenaikan 13% atau 264.895 orang – dibandingkan 235.147 orang di tahun sebelumnya. Propinsi yang paling tinggi penyerapan tenaga kerjanya adalah Sumatera Selatan (59.662 orang), Sumatera Utara (51.912 orang), Riau (43.776 orang), Kepulauan Riau (27.350 orang) dan Aceh (22.641 orang).

Di pulau Kalimantan, penyerapan tenaga kerja mengalami kenaikan 50% atau 208.850 orang – dibandingkan 139.547 orang di tahun 2014. Propinsi dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja tertinggi adalah Kalimantan Timur (91.055 orang), Kalimantan Barat (47.001 orang), Kalimantan Selatan (29.259 orang) dan Kalimantan Tengah (26.331 orang).

Sementara itu, Sulawesi sedikit mengalami penurunan dalam penyerapan tenaga kerja, yaitu minus 9% atau sebesar 44.984 orang – dibandingkan 49.337 orang di tahun sebelumnya. Begitu pula dengan Bali dan Nusa Tenggara, yang mengalami penurunan sebesar 6% atau 33.562 orang – dibandingkan 35.651 orang di tahun 2014.

Untuk kawasan Indonesia Timur, yang meliputi Papua dan Maluku, penyerapan tenaga kerja sedikit menurun sebesar 9% atau sebesar 59.735 orang – dibandingkan 69.782 orang pada tahun sebelumnya. Hal ini terutama sebagai dampak alami menurunnya investasi sektor ekstraktif dan pertambangan yang sebelum ini sangat dominan di Papua – secara agregat, investasi di Papua menurun 10%, meskipun tetap mampu menyerap 47.210 tenaga kerja. Berita gembiranya, pertumbuhan investasi di propinsi lainnya meningkat tajam, yaitu 115% di Maluku Utara (menyerap 5.965 tenaga kerja), 646% di Maluku (2.114 tenaga kerja) dan 89% di Papua Barat (4.446 tenaga kerja).