Pemahaman masyarakat terhadap gempa, sebab musababnya, sampai dengan cara menyelamatkan diri saat terjadi gempa, memang masih rendah. Oleh karena itu, penting untuk mengenalkan pengetahuan tentang hal ini kepada masyarakat sejak dini.

Edukasi dan literasi masyarakat terhadap risiko dampak gempabumi, terutama bagi siswa tingkat SD-SMA, sangat penting karena pengenalan terhadap mitigasi bencana alam yang disebabkan oleh faktor cuaca, iklim, dan khususnya gempabumi dan tsunami perlu ditanamkan sejak dini. Mereka perlu mengetahui apa saja yang perlu dilakukan saat terjadi kejadian gempabumi.

 

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika melakukannya di beberapa sekolah, dari SD-SMA di wilayah Jabodetabek, yaitu Sekolah Dasar Binur Simprug Jakarta, SD Santa Ursula, SD Lazuardi Depok,  SD-SMA Cakra Buana Depok, dan beberapa sekolah lainnya.

“Kegiatan penyelamatan diri saat gempabumi  sangat penting karena belum adanya  pengetahuan secara praktek yang sebenarnya dengan prosedur seperti ini, dan harapan dari kegiatan ini, semoga siswa/I SD tingkat dini dapat paham dan dapat melakukan penyelamatan diri dari gempa bumi secara benar, ‘ujar seorang murid salah satu sekolah.

Kegiatan semacam ini juga dapat mengurangi kekhawatiran masyarakat terhadap rumor-rumor terkait kegempaan. Yang terakhir, beredar rumah bahwa akan terjadi gempa besar di Surabaya dan Madura.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan bahwa potensi gempa bukan hanya ada di wilayah Surabaya dan Madura Jawa Timur saja, namun juga di sebagian besar wilayah Indonesia. Hal ini menurutnya bukan tanpa alasan, mengingat Indonesia berada dalam lingkaran Cincin Api Pasifik yang terbentuk oleh gerak lempeng tektonik aktif.

“Cincin Api Pasifik adalah zona berbentuk tapal kuda dan menjadi zona sabuk gempa paling aktif di dunia. Bukan hanya Indonesia, negara lain seperti Jepang, Taiwan, dan Selandia Baru juga masuk dalam cincin api pasifik tersebut,” terangnya.

Oleh karena itu, lanjut Dwikorita, daripada meributkan ramalan dan prediksi gempa, lebih baik masyarakat bersama pemerintah dan stakeholder lainnya proaktif mempersiapkan upaya mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami.

“Lakukan aktivitas seperti biasa, jangan terpengaruh oleh isu-isu yang dihembuskan oleh pihak yang ingin membuat kegaduhan dan kecemasan,” ujarnya.

Dwikorita mengatakan mitigasi bencana yang dapat dilakukan antara lain mengedukasi masyarakat tentang cara penyiapan perlindungan dan keselamatan sebelum, saat dan setelah gempa bumi. Hal lainnya, lanjut dia, adalah membangun bangunan dan infrastruktur yang sesuai “building code”/persyaratan bangunan tahan gempa, menetapkan tata ruang wilayah berbasis peta rawan bencana, menyiapkan jalur evakuasi, dan membangun shelter untuk evakuasi vertikal dari ancaman tsunami di daerah pantai.

“Jangan lupa senantiasa berdoa dan memohon keselamatan dan perlindungan kepada Allah SWT. Hingga saat ini belum ada satupun negara dan tekhnologi yang mampu meramalkan dan memprediksi gempabumi,” tuturnya.

 

Zona Sesar Aktif

Sementara itu, Deputi Bidang Geofisika BMKG, Dr. Ir. Muhammad Sadly, M. Eng, juga menjelaskan bahwa menurut “Peta Sumber dan Bahaya Gempabumi Indonesia 2017”, secara geologis dan tektonik wilayah Kota Surabaya dan Madura berada pada jalur zona sesar aktif. Dalam hal ini wilayah Surabaya berada pada jalur zona Sesar Kendeng dan Madura berada pada jalur zona Sesar RMKS (Rembang, Madura, Kangean, dan Sakala).

Berdasarkan catatan sejarah kegempaan (Visser 1922) tambah Sadly, jalur Sesar Kendeng pernah memicu terjadinya gempabumi merusak di Mojokerto (1836,1837), Madiun (1862, 1915) dan Surabaya (1867). Sedangkan Sesar RMKS juga pernah memicu terjadinya gempabumi merusak di Rembang-Tuban (1836), Sedayu (1902), Lamongan (1939), Sumenep (13 Juni 2018 dan 11 Oktober 2018 ).

“Saya berharap masyarakat tetap tenang namun waspada. Pemerintah melalui BMKG terus memantau gempa yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia selama 24 jam penuh setiap harinya,” imbuhnya.