Ada tiga gelombang penyebaran Islam ke Indonesia. Pertama gelombang Timur Tengah, kemudian gelombang India-Gujarat, dan ketiga gelombang yang berasal dari China daratan.

Bagaimana Islam bisa masuk dari China daratan? Tan Ta Sen, dalam bukunya Cheng Ho and Islam in Southeast Asia menggambarkan bagaimana hubungan budaya bisa menjadi awal penyebaran agama Islam dari daratan China ke Indonesia. Salah satunya tak lepas dari peran Laksamana Haji Muhammad Cheng Ho. Seorang tokoh angkatan laut Tiongkok pada abad ke XV yang beragama Islam. Ia lahir di desa He Dai, Kunyang, provinsi Yunan pada 1371 M dari marga Ma, suku Hui yang mayoritas beragama Islam.

Cheng Ho beberapa kali datang ke Indonesia. Ia memimpin muhibah perdagangan ke Nusantara dengan armada laut yang besar. Dalam kurun waktu tahun 1405-1433 atau dalam tujuh kali ekspedisi pelayaran yang pernah dilakukannya, Cheng Ho tercatat pernah singgah di beberapa kawasan Indonesia, seperti di Aceh, Palembang, dan beberapa tempat di Pulau Jawa. Misi kedatangan Cheng Ho yang membawa kedamaian selalu disambut hangat. Bahkan para raja di Nusantara dan penduduk pribumi sangat menghormati Cheng Ho.

Sebagai utusan Kaisar Yung Lo, Cheng Ho mengunjungi Raja Majapahit dengan tujuan untuk menyebarkan agama Islam. Sejarah inilah yang menjadi awal mula Masjid Cheng Ho, yaitu mengenang perjuangan dan dakwah Laksamana Cheng Hoo.

Kini jejaknya banyak ditemui di berbagai kota di Indonesia. Jika Anda melihat bangunan masjid menyerupai kelenteng di areal kompleks gedung serba guna PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) Jawa Timur, atau tepat di belakang Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa, Surabaya, itulah Masjid Cheng Ho.

Masjid ini didominasi warna merah, hijau, dan kuning. Ornamennya kental nuansa Tiongkok lama. Pintu masuknya menyerupai bentuk pagoda, terdapat juga relief naga dan patung singa dari lilin dengan lafaz Allah dalam huruf Arab di puncak pagoda. Di sisi kiri bangunan terdapat sebuah beduk. Masjid dengan arsitektur Tiongkok ini diresmikan pada tanggal 13 Oktober 2002 sebagai bentuk penghormatan pada Laksamana Cheng Ho.

Masjid ini berdiri di atas tanah seluas 21 x 11 meter dengan luas bangunan utama 99 meter persegi. Ada delapan sisi di bagian atas bangunan utama. Ukuran bangunan yang 11×11 diambil dari ukuran Ka’bah saat pertama kali dibangun Ibrahim. Ornamen atap masjid ini dibentuk persegi delapan yang menyerupai sarang laba-laba. Angka delapan dianggap sebagai angka keberuntungan dalam budaya Tionghoa, sedangkan sarang laba-laba merupakan tanda yang menyelamatkan Muhammad dari kejaran kaum Quraish. Warna merah yang mendominasi warna masjid, menyimbolkan kebahagiaan. Sementara warna kuning di beberapa bagiannya mempunyai makna suatu kedamaian.

Anak tangga di pintu kanan dan kiri masjid berjumlah 5 dan 6. Angka ini menyimbolkan rukun Islam dan rukun iman. Pintu masjid dibangun tanpa menggunakan daun pintu, hal ini melambangkan bahwa Masjid Cheng Ho Surabaya terbuka bagi siapa saja.

Hasan Basri, yang terlahir dengan nama Lin Puk San, Ketua Harian Masjid Cheng Ho Surabaya menjelaskan, keberadaan Masjid Cheng Ho di Surabaya berlandaskan semangat dan berbagai nilai luhur yang dibawa Laksamana Cheng Ho setiap berlayar.

Perpaduan Gaya Tiongkok dan Arab memang menjadi ciri khas masjid ini. Arsiteknya Ir. Abdul Aziz dari Bojonegoro, diilhami arsitek Masjid Niu Jie (Ox Street) di Beijing yang dibangun pada tahun 996 Masehi. Gaya Niu Jie tampak pada bagian puncak, atau atap utama, dan mahkota masjid. Selebihnya, hasil perpaduan arsitektur Timur Tengah dan budaya Jawa.

Selain di Surabaya, Masjid Cheng Ho juga terdapat di Jawa Timur. Tepatnya di Kelurahan Sempusari, Kecamatan Kaliwates, Jember, Jawa Timur. Tak berbeda, gaya arsitektur Tionghoa juga terlihat dari bangunan masjid ini. Coraknya didominasi warna merah, kuning, hijau, dan ornamen Tiongkok Lama. Mirip seperti bangunan Klenteng, yang merupakan pusat ritual warga Tionghoa pada umumnya.

Masjid Cheng Ho Jember dibangun di tanah milik Pemerintah kabupaten Jember yang dihibahkan seluas 4.500 m2. Sekitar 10 persen penduduk Jember adalah warga keturunan Tionghoa dan sekitar 250 orang di antaranya beragama Islam. Warga keturunan Tionghoa yang tergabung dalam Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jember banyak tinggal di Sempursari. Kala itu, peresmian Masjid ini oleh Bupati Jember MZA Djalal, dihadiri sejumlah tokoh keturunan Tionghoa dari Jember dan Surabaya. Mereka yang hadir bukan hanya pemeluk agama Islam, melainkan dari berbagai agama.

Masjid Cheng Ho Jember “sarat makna” pada setiap ukuran bangunannya. Misalnya, bangunan berukuran 11 x 9 meter. Angka 11 memiliki arti bahwa ukuran Ka’bah saat dibangun. Sedangkan angka 9 sebagai lambang Wali Songo, yang sangat berjasa besar dalam dakwah islam di Jawa.

Kini, masjid ini menjadi salah satu destinasi wisata religi tanpa mengganggu fungsi sebagai tempat ibadah yang suci. Masjid ini juga dijadikan ajang silaturahmi dan kegiatan sosial lainnya.

Di Sumatera Selatan, Masjid Muhammad Cheng Ho terdapat di kawasan Jakabaring, Palembang. Dibangun tahun 2005 dengan peletakan batu pertama oleh HM Jusuf Kalla. Tanahnya diwakafkan oleh Pemerintah Provinsi kepada PITI. Bangunan utamanya berukuran 20 x 20 meter, di atas tanah seluas 4.990 m2 .

“Cheng Ho adalah inspirasi. Dia seorang Laksamana Perang yang mensyiarkan agama Islam di Indonesia,” kata Merry Effendi, dari Sekretariat Yayasan Masjid Cheng Ho Sriwijaya.

Bila dilihat, masjid ini punya ciri khas China yang mudah dikenal, terutama pada menara dan warnanya. Ada dua menara, sebagai isyarat keseimbangan. Satu menara menandakan habluminallah (hubungan kepada Allah SWT) dan satunya habluminannas (hubungan kepada sesama manusia).

“Mesjid ini bernuansa China campur Sriwijaya. Dari segi warna, merah membawa kebahagiaan. Kuning atau warna emas, menunjukkan kejayaan. Warna hijau, ciri muslim. Perpaduan itulah yang dibuat di masjid ini. Jadi kelihatan unik. Karena unik, maka tempat ini juga sering dikunjungi oleh wisatawan dari mancanegara,” ungkapnya.

Masjid Cheng Ho juga bisa ditemui di Kalimantan Timur. Tepatnya di Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara. Yang menarik masjid ini tidak dikelola yayasan PITI, tapi masyarakat setempat yang sebagian besar berasal dari suku Bugis.

Kisahnya bermula dari seorang pengusaha muslim asal Tionghoa H.M Jos Tomo, yang menginisiasi pembangunan masjid ini atas sumbangan lahan dari Bapak Willy Susanto. Mulai dibangun pada 2006, masjid ini diresmikan setahun kemudian, pada 2007.

Kini masjid yang berada di kilometer 20 dari Samarinda-Balikpapan ini ramai dikunjungi oleh masyarakat yang melintas di jalur ini. “Tak kurang dalam sehari ada 500 an orang dengan 200 an mobil,” papar M Yahya, Ketua Pengurus masjid Cheng Ho di Batuah.

Terbuka selama 24 jam, masjid ini makin ramai di bulan Ramadan. Setiap hari dua ratus hingga tiga ratus porsi disediakan untuk mereka, khususnya para musafir yang berbuka puasa di sini.

Masjid ini merupakan satu-satunya di Kalimantan Timur ini menjadi ikon bagi desa Batuah dan Kabupaten Kutai Kartanegara. Kabarnya, pemerintah setempat akan membangun dua masjid serupa, di Balikpapan dan Samarinda.