Dari 7,1 juta km2 luas wilayah teritorial Republik Indonesia, 5,4 juta km2 merupakan wilayah laut. Total panjang pantai kepulauan di Indonesia mencapai 95.181 km. Ini yang terpanjang kedua di dunia setelah Kanada (World Resources Institute, 1998). Luasnya laut kita, sesungguhnya berbanding lurus dengan potensi hasil laut yang terkandung di dalamnya, baik itu yang ditangkap maupun yang dibudidayakan (marikultur).

Khusus untuk marikultur, saat ini potensi lahannya mencapai 4,5 juta hektar (ha), namun baru dimanfaatkan sekitar 2%. Melihat potensi lahan yang masih tidur ini, sebenarnya marikultur bisa berkontribusi banyak untuk mendorong Indonesia menjadi poros maritim dunia. Hal itu didukung oleh komoditas marikultur merupakan komoditas ekspor dan banyak diminati oleh pasar luar negeri.

Salah satu komoditas yang jadi primadona adalah rumput laut. Ke depan, rumput laut akan dikembangkan, terutama untuk wilayah garis pantai sampai dengan 4 mil, sedangkan untuk wilayah di atas 4 mil dapat dikembangkan budidaya laut dengan menggunakan karamba jaring apung (KJA) dengan komoditas yang disesuaikan kondisi wilayah masing-masing, seperti kakap, kerapu, bawal bintang, abalone, atau bahkan tuna.

Capaian produksi rumput laut pada 2010 sekitar 3,9 juta ton, naik signifikan pada 2014 mencapai 10,2 juta ton. “Demikian juga komoditas kakap dan kerapu serta komoditas lain seperti bawal bintang, yang sangat berpotensi untuk dikembangkan,” ujar Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto dalam rilis yang diterbitkan KKP pada awal Mei 2015.

Pesisir Selatan (Pessel) merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Barat yang memiliki potensi perikanan budidaya laut cukup besar. Potensi lahan untuk pengembangan budidaya laut di Pessel mencapai 415 ha, yang mana saat ini sebagian besar dikembangkan untuk budidaya laut seperti kerapu dengan sistem KJA dan juga rumput laut. Kerapu masih menjadi primadona ekspor dengan tujuan Tiongkok dan Hong Kong. Upaya diversifikasi komoditas dalam budidaya laut, seperti ikan bawal bintang, penting dilakukan sekaligus melakukan restocking untuk memperbanyak stok ikan di alam dan menunjang keberlanjutan.

Untuk mendukung pengembangan perikanan budidaya, khususnya di Pessel, KKP memberikan bantuan baik berupa permodalan maupun peralatan. Sejak 2011, KKP telah menyalurkan bantuan permodalan melalui PUMP-PB sebanyak 3 paket senilai Rp 300 juta dan pada 2014 sebanyak 34 paket senilai Rp 1,19 miliar. KKP juga menyerahkan KJA ramah lingkungan sebanyak 9 unit sejak 2011–2014. Produksi perikanan budidaya Sumatera Barat 2013 mencapai 206 ribu ton.

Komoditas marikultur lain yang jadi andalan adalah udang. Seperti ditulis swa.co.id (17/4/2015), nilai ekspor udang mendominasi total ekspor produk perikanan nasional, selain komoditas tuna yang berasal dari perikanan tangkap. Tujuan ekspor, mayoritas ke Uni Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat (AS), dan sebagian kecil ke China dan Thailand, dengan porsi terbagi rata masing-masing 25%.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat ekspor udang nasional pada 2014 sekitar 196 ribu ton dan target 2015 sekitar 230 ribu ton (naik 17,34%). Ekspor udang RI pada 2011 sebesar 158.062 ton, 2012 naik 2,53% menjadi 162.068 ton, 2013 naik 0,21% menjadi 162.410 ton, dan 2014 naik 21,06% menjadi 196.622 ton.

Pengembangan marikultur merupakan solusi jangka panjang yang harus dipikirkan para pengusaha hasil laut untuk mengimbangi produksi perikanan tangkap.