Sekitar 72% masyarakat yang disurvei percaya bahwa bangsa Indonesia sedang berjalan ke arah yang benar. Sentimen tertinggi dalam 5 tahun terakhir.

Persoalan dan tantangan adalah keniscayaan yang dihadapi semua bangsa di dunia. Kualitas sebuah bangsa akan dapat dilihat dari bagaimana bangsa tersebut merespon persoalan dan tantangan tadi. Ada yang menempatkan persoalan sebagai akhir dari segalanya, ada yang sebaliknya melihat itu adalah awal dari perjalanan menuju yang lebih baik. Dalam konteks inilah, mayoritas warga bangsa Indonesia ternyata memilih pandangan yang kedua.

Meskipun dilanda tekanan selama tahun 2015, terutama sebagai dampak dari perekonomian dunia yang lesu dengan beragam drama politik yang mewarnai halaman utama berbagai media, masyarakat Indonesia tetap memilih untuk optimis. Hal ini tercermin dari hasil survei yang melibatkan 1220 responden yang dilakukan oleh Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) di akhir tahun 2015 lalu.

Survei yang diumumkan pada tanggal 12 Januari 2016 itu menunjukkan bahwa mayoritas warga Indonesia menilai bahwa bangsa ini sedang berjalan ke arah yang benar (72%). Menurut Direktur Utama SMRC Djayadi Hanan, “sentimen ini tertinggi dalam 5 tahun terakhir.” Jelas ini adalah sebuah modal politik yang sangat penting bagi pemerintahan Jokowi-JK untuk melanjutkan perwujudan visi-misi Nawacita.

Optimisme masyarakat terjadi di berbagai bidang, salah satunya dalam hal kondisi ekonomi rumah tangga. Meskipun masyarakat merasakan adanya masalah ekonomi yang mendesak seperti harga-harga kebutuhan pokok, pengangguran, lapangan kerja dan pemerataan pendapatan, namun masyarakat secara obyektif dapat mengapresiasi apa yang dilakukan pemerintah dalam hal kesehatan, pendidikan dan pembangunan jalan-jalan raya. Lebih dari itu, hampir 70% masyarakat percaya bahwa ekonomi rumah tangga akan lebih baik pada satu tahun mendatang. Hanya sekitar 5% yang mengatakan akan lebih buruk.

Optimisme yang sama juga terlihat dari keyakinan mayoritas warga, sekitar 63%, yang cukup dan sangat yakin Presiden Jokowi mampu memimpin Indonesia menjadi lebih baik ke depannya. Perkembangan ini menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan dengan enam bulan sebelumnya, yang ketika itu mencapai 55%.

Meskipun demikian, masih terdapat ruang-ruang perbaikan yang diharapkan masyarakat terjadi dalam pemerintahan. Salah satunya karena masih terbelahnya keyakinan publik pada kualitas para menteri. Sebagian besar (51%) memang sudah merasa puas, namun sisanya masih kurang puas dan tidak memberikan pendapat. Djayadi Hanan mengartikan temuan tersebut sebagai indikasi perlunya peningkatan kinerja para menteri di tahun 2016 dan tahun-tahun berikutnya.

Dalam konteks lembaga-lembaga negara, sejumlah lembaga yang paling mendapatkan kepercayaan rakyat adalah Tentara Nasional Indonesia (TNI), Presiden dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ketiganya dipercaya telah bekerja sesuai harapan rakyat oleh lebih dari 80% warga masyarakat – yang tertinggi adalah TNI (hampir 90%), diikuti oleh Presiden dan KPK (sekitar 83%). Sedangkan dua lembaga yang kurang mendapatkan kepercayaan adalah Partai Politik (52%) dan DPR (55%).

Optimisme masyarakat sesungguhnya sejalan dengan pemerintah. Di awal tahun 2016, Presiden Jokowi pun telah mengungkapkan hal tersebut, setelah mengevaluasi kerja keras yang dilakukan di tahun 2015. “Tahun ini, semua harus percaya, optimistis bahwa kita akan lebih baik. Itu harus, kuncinya ada di situ,” ungkap Presiden pada pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia, hari Senin 4 Januari 2016.

Hasil kerja keras pemerintah di tahun 2015, meskipun tidak fantastis, tapi melampaui ekspektasi banyak pihak. “Pendapatan negara mencapai 84,7 persen atau sebesar Rp1.491 triliun, penerimaan pajak mencapai 83 persen menjadi Rp1.235,8 triliun, penerimaan non pajak 93,8 persen atau Rp252,4 triliun plus penerimaan hibah Rp3 triliun,” ungkap Presiden.