Setelah dinanti-nantikan, sebanyak 88,2 juta Kartu Indonesia Sehat (KIS) akan dibagikan merata di seluruh Indonesia mulai Selasa 28 April 2015. Bersamaan dengan itu, sebanyak 20,3 juta Kartu Indonesia Pintar (KIP) pun ikut didistribusikan untuk siswa tidak mampu di Indonesia.

Presiden Jokowi tak menampik jika pembagian sejumlah ‘kartu sakti’ ini memakan waktu. “Ada proses lelang, ada proses administrasi, karena kan APBN  baru diketuk pertengahan Januari. Sekarang sudah mulai bagi-bagi,” ujar Jokowi di PT Doc dan Perkapalan Kodja Bahari (Persero) Cilincing, Jakarta Timur.  Jokowi meminta waktu enam bulan lagi untuk benar-benar dapat memfungsikan kartu itu dengan baik, sehingga pada akhirnya kartu tersebut bisa digunakan di seluruh rumah sakit.

Dengan adanya kartu sakti tersebut, Jokowi meyakini masyarakat akan bisa berobat dan bebas sakit. Kendati demikian, kesehatan ini harus juga didukung dengan mengatur pola makan dan olahraga yang teratur. “Saya juga pegang, tapi saya enggak mau sakit,” ucap Jokowi.

Pencegahan seharusnya menjadi garda terdepan melawan penyakit dibandingkan langkah pengobatan. Selama ini seperti terjadi “pemborosan” anggaran kesehatan untuk pengobatan, padahal seharusnya sisi pencegahan lebih diutamakan. Seperti terlihat pada angka belanja kesehatan pemerintah, di mana 15% anggaran dibelanjakan untuk kesehatan dasar, 8,5% pencegahan & kesehatan masyarakat, dan sisanya 76,5% untuk kuratif alias pengobatan.

Gara-gara besarnya belanja kuratif, maka sektor kesehatan dasar dan pencegahan terpaksa diabaikan. Padahal pencegahan semestinya menjadi benteng pertama melawan terjangan penyakit.

Itulah sebabnya, Jokowi berharap, agar pola makan dan olahraga menjadi fondasi kesehatan masyarakat. Banyak bukti menunjukkan penyakit noninfeksi muncul  akibat pola makan yang kurang baik. Diabetes, stroke, kanker, gagal ginjal, serangan jantung bisa dijadikan contoh. Diabetes, pada umumnya timbul  karena faktor kombinasi kelebihan asupan makanan dan kurang olahraga. Stroke, adalah tersumbatnya pembuluh darah otak yang salah satu penyebabnya juga berlebihnya asupan lemak dalam jangka panjang. Pun dalam hal serangan jantung, pembuluh darah utama jantung tersumbat oleh akumulasi lemak.

Yang lebih memprihatinkan, penyakit-penyakit degeneratif tersebut menyerang kelompok usia yang semakin muda. Kelompok yang seharusnya menjadi pekerja produktif untuk memberi nafkah keluarga. Bisa dibayangkan, bagaimana keluarga dibuat kalang kabut dalam membiayai pengobatannya seumur hidup. Dan dalam banyak kasus, penyakit degeneratif meninggalkan cacat permanen.

Padahal penyakit tersebut bisa dicegah. Salah satunya dengan mengatur pola makan dan melakukan olahraga secara teratur. Sudah menjadi rahasia umum, sebagian besar masyarakat memilih makanan hanya berpedoman pada rasa. Padahal seharusnya lebih melihat pada keseimbangan nutrisi yang ada di dalam makanan.

Bila pengaturan pola makan tersebut dibarengi dengan olahraga, maka kombinasi keduanya bisa meredam serangan penyakit. Berbagai bukti menunjukkan jalan kaki, bersepeda, joging, dan lari teratur, 4 kali seminggu berdurasi 45 menit per hari efektif melawan penyakit yang mematikan tersebut. Olahraga akan membakar kalori yang berlebih, mengurangi kandungan lemak tubuh, melenturkan pembuluh darah, melatih jantung, dan meningkatkan ketahanan tubuh melawan penyakit.

Untuk itu, Jokowi meminta masyarakat agar kembali mengatur pola hidup yang baik. “Olahraga harus rutin. Banyak masyarakat sekarang ini kena penyakit tidak pernah olahraga. Pola hidup harus digulirkan kembali, sehingga betul sehat. Meskipun pegang (KIS) ini tapi enggak sakit,” tukasnya. Ujaran pepatah lama memang tak terbantahkan. Lebih baik mencegah daripada mengobati!