Pemimpin negara dan pemerintahan, serta media internasional memuji respon Indonesia atas aksi teror di Jakarta. Ada lebih dari satu cara menyikapi terorisme

Penanganan cepat aksi teror 14 Januari 2016 di kawasan Jalan Thamrin, Jakarta, mendapatkan apresiasi dari dunia internasional. Salah satunya dari Dewan Keamanan PBB, yang pada hari yang sama bersidang dan mengeluarkan pernyataan yang berisi kecaman serta ucapan simpati dan dukacita terhadap para korban.

“Dewan Keamanan juga mengapresiasi respons aparat keamanan Indonesia yang cepat dan berani dalam mengatasi serangan (teroris) tersebut,” ungkap Wakil Tetap RI untuk PBB di New York, Duta Besar Desra Percaya melalui keterangan persnya.

Dari berbagai penjuru, penghargaan yang sama juga disampaikan langsung oleh sejumlah pemimpin dunia kepada Presiden Jokowi tak sampai sehari setelah peristiwa teror. Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi melaporkan bahwa telepon sudah berdering dari Perdana Menteri Australia, Perdana Menteri Malaysia, Raja Arab Saudi dan Kanselir Jerman.

Media internasional pun mengirimkan pesan yang sama. Situs berita independent.co.uk misalnya menurunkan judul Jakarta attacks: Indonesians defy terror with powerful message on social media ‘we are not afraid’ yang intinya mengapresiasi respon publik yang menolak teror dengan memunculkan tagar #KamiTidakTakut melalui berbagai saluran media sosial.

Begitu pula dengan situs time.com yang menulis judul berita Indonesians Display Defiance Toward Jakarta Attackers Through Rallies and Social Media, yang intinya pun memberikan penilaian positif terhadap respon publik yang tergambar melalui media sosial dan aksi damai menolak teror.

Apresiasi juga tampak dari pemilihan judul yang ditunjukkan oleh situs huffingtonpost.com.au yang menulis Jakarta Attacks: A Nation Unites As Indonesian President Says ‘People Should Not Be Afraid’, yang mengaitkan antara respon publik untuk melawan teror dengan ketegasan dan kecepatan pemerintah dalam mengendalikan keadaan.

Situs theatlantic.com adalah yang memberikan apresiasi paling mendalam melalui artikel yang berjudul One President’s Remarkable Response to Terrorism. Ulasan dalam artikel tersebut cukup rinci menganalisis respon Presiden Jokowi, mulai dari pernyataan secara terbuka hingga pada sikap dan keputusannya untuk langsung mengunjungi lokasi terjadinya aksi teror hanya beberapa jam setelah peristiwa terjadi.

Kurang dari sejam setelah menerima laporan tentang terjadinya peristiwa teror, Presiden Jokowi langsung menghentikan semua agenda kunjungannya di Cirebon dan mengeluarkan sebuah pernyataan singkat – isinya mengecam teror tersebut, memerintahkan otoritas di bidang keamanan untuk menangkap pelaku dan jaringannya serta menghimbau masyarakat untuk tidak kalah dan tenang, karena semua dapat dikendalikan.

“Negara, bangsa dan rakyat tidak boleh takut, tidak boleh kalah oleh aksi teror seperti ini,” merupakan salah satu butir pernyataan yang secara khusus, diulas oleh theatlantic.com. Pernyataan Presiden Jokowi, menurut situs tersebut, menekankan pada upaya untuk menangkal tujuan utama terorisme, “yaitu menteror masyarakat luas, untuk merusak isi kepala banyak orang”.

Yang menarik dari pernyataan Presiden, menurut situs tersebut, adalah bahwa “ia tidak mengumumkan Indonesia dalam keadaan perang dengan ISIS, Islam radikal atau terorisme. Dia tidak menyatakan bahwa masa depan Indonesia sedang dipertaruhkan. Dia tidak terdengar seperti sedang berada dalam bahaya.”

Pendekatan Presiden Jokowi, disebutkan, tidak mesti harus menjadi yang paling “benar”. Namun menjadi semacam pengingat bahwa ada lebih dari satu cara untuk menyikapi terorisme, “bahwa resiliensi sosial dapat dikedepankan seperti halnya penanganan secara militer, dan bahwa ancaman terorisme dapat ditempatkan dan dikontekstualisasikan bersama-sama dengan berbagai ancaman lain yang dihadapi sebuah negara.”