Perubahan iklim tidak hanya berdampak secara makro, tapi juga dirasakan oleh petani dalam mengelola dan mengolah lahan mereka. Jika sebelumnya para petani lebih banyak mengandalkan pola-pola perubahan alam yang mereka ingat dari musim ke musim, penggunaan teknologi untuk mengenali iklim secara akurat dan presisi akan membantu para petani meningkatkan produktivitas mereka.

Pemerintah melalui Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengedukasi para petani untuk mencermati pola perubahan iklim yang berguna untuk meningkatkan produktivitas para petani di lahan mereka.

“Sampai saat ini, Sekolah Lapang Iklim (SLI) yang merupakan program strategis nasional di BMKG, berhasil menjangkau lebih kurang 9.000 petani di seluruh Indonesia. Jumlah ini harus terus ditingkatkan, karena penerapan dan pengenalan teknologi kepada petani terbukti dapat meningkatkan produktivitas mereka,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.

Melalui ujicoba yang diterapkan pada kelompok tani di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, sejumlah petani yang mengikuti program SLI diberikan wawasan dan keterampilan untuk membaca iklim dengan pendekatan yang lebih saintifik. Hasilnya, produktivitas di lahan padi yang diujicobakan dapat meningkat antara 9 hingga 11 persen.

Sumarno, salah satu petani yang mengikuti program tersebut mengatakan, dengan mengenali iklim di tempat tinggalnya, para petani diajari untuk memilih jenis tanaman apa yang cocok dalam tiga bulan mendatang, atau varietas tanaman yang seperti apa yang cocok untuk ditanam.

“Sekolah ini sangat penting bagi kami supaya iklim yang sekarang suka berubah-ubah tidak pasti dapat kami ketahui, dan kami dapat menentukan bibit tanaman apa yang paling cocok. Kami sangat terbantu dengan program seperti ini,” sambungnya.

Dwikorita juga menambahkan bahwa dengan mengajak petani menjadi melek terhadap iklim di lingkungan mereka, program ini dapat menjadi solusi bagi para petani di banyak tempat untuk dapat memilih komoditi yang paling pas untuk musim yang sedang berjalan.

Jika dibandingkan dengan rata-rata produktivitas di tingkat kecamatan, hasil tanaman padi yang diperoleh dengan penerapan metode SLI ini lebih tinggi, meskipun saat itu terjadi serangan hama baik dari darat (tikus) maupun dari udara (burung).

“Dengan teknologi, dengan ilmu, kita bisa memperkirakan kira-kira dalam 3 bulan mendatang kita sudah bisa memprediksi kondisinya seperti apa, sehingga kita mau tebar benih yang mana, apakah perlu tebar benih dipercepat, jenis tanamannya apa, kita sudah bisa tentukan. Inilah tujuan dari Sekolah Lapang Iklim. Mengajak petani untuk melek iklim, sehingga petani bisa meningkatkan produksinya,” ujar Dwikorita.

Ia berharap bahwa sekolah yang diinisiasi oleh BMKG ini dapat disebarluaskan dalam skala yang lebih besar oleh pemerintah daerah di kabupaten-kabupaten. “Program ini sifatnya icip-icip. Pengenalan. Untuk dapat menjangkau petani yang lebih luas, mudah-mudahan Pemerintah Daerah di kabupaten-kabupaten dapat menjalankannya. Kami siap memberikan dan menyiapkan materinya,” kata mantan Rektor UGM tersebut.