Sejak hari pertama dilantik, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menyampaikan keinginan untuk membangun daerah-daerah perbatasan. Pembangunan beranda-beranda terdepan Indonesia tidak boleh dilupakan.

“Seperti di mana kita berada sekarang ini yaitu Skouw (PLBN), harus menjadi kebanggaan kita semuanya, kebanggaan masyarakat Papua, kebanggaan Indonesia,” kata Presiden Jokowi saat Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw, di Skouw, Distrik Muara, Jayapura, Papua, Selasa (9/5) siang.

PLBN Skouw merupakan 1 (satu) dari 7 (tujuh) PLBN yang dibangun pemerintah. Ada 3 (tiga) PLBN di Kalimantan Barat (Kalbar), 3 (tiga) di Nusa Tenggara Timur, dan 1 (satu) di Papua.

Presiden tiba di lokasi PLBN Skouw sekitar pukul 14.40 WIT dan disambut oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Menteri PUPR) Basuki Hadimuljono. Setiba di lokasi yang dapat ditempuh melalui jalur darat selama sekitar 1 jam 30 menit ini, Presiden langsung meninjau display panel data PLBN Terpadu Skouw. Setelah itu Presiden Jokowi langsung menuju tenda tempat acara Peresmian PLBN Skouw.

Presiden mengingatkan, pembangunannya PLBN juga harus menciptakan kantong-kantong pertumbuhan ekonomi baru. “Ini wajib. Jangan sampai hanya berdiri kantor tapi tidak mempunyai efek ekonomi terhadap masyarakat. Ini yang harus dikembangkan,” tuturnya.

Pembangunan PLBN Skouw dimulai sejak 18 Desember 2015, yang dikerjakan oleh PT Nindya Karya (Persero). Pada Tahap I ini telah dibangun Zona Inti PLBN yang terdiri dari bangunan utama PLBN, bangunan pemeriksaan kargo utama, bangunan utilitas, check point, gerbang tasbara, jembatan timbang, car wash, klinik, serta monumen tasbara.

PLBN Skouw berdiri di atas lahan dengan luas total mencapai 10,7 hektar, yang terbagi dalam beberapa zona. Desain bangunan utama PLBN Terpadu Skouw mengusung budaya lokal Papua dengan mengadopsi bangunan Rumah Tangfa yang merupakan ciri rumah pesisir di daerah Skouw. Bangunan ini juga didesain dengan menggunakan prinsip-prinsip bangunan hijau.

KENDALIKAN PENYELUNDUPAN

Presiden Jokowi meyakini dengan bangunan dan fasilitas serta sistem yang lebih modern, PLBN Skouw, akan lebih mudah mengendalikan penyelundupan. Tetapi yang paling penting masalah ekspor dari Papua ke Papua Nugini.

“Ini penting sekali. Karena harga kita bisa bersaing, apapun lah, sembako bisa, garmen bisa, elektronik bisa, semua barang kita ada. Bagaimana menggerakkan masyarakat di sini agar bisa mendapatkan barang -barang itu kemudian menjual sebanyak-banyaknya ke negara tetangga kita. Itu.,” kata Presiden kepada wartawan usai peresmian.

Mengenai PLBN sebaga sebagai pusat ekonomi baru, Presiden menjelaskan, nantinya di situ akan dibangun pasar modern, sehingga PLBN itu juga akan menjadi sebuah pusat perdagangan yang besar.  Dari situlah, lanjut Presiden, nanti kenaikan ekspor akan kelihatan, baik yang namanya garmen, baik yang namanya elektronik, baik yang namanya sembako, semuanya.

“Saya pastikan lebih murah. Saya sudah tahu kok harga di sana berapa, saya sudah cek saat saya ke Port Moresby harga-harga seperti apa,” ujar Presiden.

Ia lantas menunjuk contoh beras misalnya, dari Merauke itu harganya kurang lebih sekarang ini Rp6.000, sementara di PNG harganya antara Rp15.000-30.000. Ini artinya, beras kita bisa bersaing. Garmen juga sama, karena ada produsen. “Kita ini produsen garmen termasuk yang terbesar. Harganya pasti bisa bersaing,” ungkapnya.

Saat ditanya mengenai mata uang apa yang akan digunakan untuk transaksi, Presiden menegaskan, tentunya kita ingin yang dipakai rupiah semuanya. Namun diakuinya, kadang-kadang di bawah itu kita kan sulit harus mengatur, mengawasi satu persatu. “Itu yang ngerti yang di lapangan. Yang paling penting menguntungkan kita. Itu saja,” pungkasnya.

BAGIKAN KIP, KIS, PKH

Sebagaimana di daerah lain, dalam kunjungan ini Presiden menyempatkan waktu untuk membagikan Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), Pemberian Makanan Tambahan (PMT), dan Program Keluarga Harapan (PKH).

Presiden menjelaskan, pemberian makanan tambahan ini penting sekali agar anak-anak kita gizinya baik, anak kita jadi sehat, anak kita jadi pintar nantinya, dan bisa bersaing dengan negara-negara yang lain. Ia mengingatkan, persaingan 20-30 tahun yang akan datang semakin berat, semakin sengit. Sehingga anak-anak harus disiapkan semuanya agar jadi anak sehat, pintar, cerdas, dan mampu bersaing.

Adapun terkait PKH, yang per tahunnya diberikan Rp1.890.000,00, Presiden Jokowi mengingatkan, agar uang tersebut harus dipakai untuk keperluan anak sekolah, untuk tambahan usaha, untuk pembelian gizi untuk anak.

“Ini penting sekali. Kalau pace minta Rp100 ribu untuk beli rokok boleh enggak? (Enggak boleh). Tidak boleh. Harus dijelaskan kepada suami, Pace, bahwa uang ini hanya untuk anak kita, untuk gizi, sekolah, mungkin untuk tambahan usaha sedikit-sedikit. Doakan saja tahun depan bisa ditambah lebih banyak lagi,” tutur Presiden.

Kemudian untuk yang sudah menerima KIS, Presiden Jokowi berharap semua sehat. Tapi kalau pas diberi cobaan sakit, menurut Presiden, dengan kartu itu (KIS) bisa dipakai ke Puskesmas atau ke rumah sakit. Tidak dipungut biaya.

“Kalau di rumah sakit dilayani tidak baik tolong dilaporkan, bisa ke Pak Wali Kota, bisa ke Pak Gubernur, bisa ke Bu Menteri, bisa ke saya. Karena sebetulnya itu bayar, yang bayar pemerintah. Bapak/Ibu tidak bayar tapi pemerintah yang bayar,” tegas Presiden.

Untuk penerima KIP, Presiden Jokowi menjelaskan, yang Sekolah Dasar (SD) dapat Rp450 ribu, Sekolah Menengah Pertama (SMP) mendapatkan Rp750 ribu, yang SMA/SMK dapat Rp1 juta. “Untuk beli buku, beli tas, beli sepatu, cukup,” pungkasnya.