Pidato Presiden

Galeri Nasional, Jakarta, Jumat, 28 Oktober 2011

Sambutan pada Peluncuran Buku The Colors of Harmony, A Photography Journey by Ani Yudhoyono

 

TRANSKRIP
SAMBUTAN IBU NEGARA REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PELUNCURAN BUKU
THE COLORS OF HARMONY
A PHOTOGRAPHY JOURNEY BY ANI YUDHOYONO
GALERI NASIONAL, 28 OKTOBER 2011




Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat malam dan salam sejahtera buat kita semua,

Yang saya cintai, saya hormati, dan saya banggakan Bapak Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Republik Indonesia,
Yang saya hormati Wakil Presiden Republik Indonesia beserta Ibu Herawati Boediono,
Yang saya hormati Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Ibu Mari Elka Pangestu beserta Bapak Adi Harsono,
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, para Wakil Menteri dan Ibu-ibu sekalian,

Yang saya hormati para Tokoh Media, para Pencinta Seni Fotografi, saya mengenal beberapa orang di antaranya Ibu Meutia Hatta yang juga suka dengan fotografi. Kemudian juga ada Irjen Polisi Drs. Bekto Suprapto. Ada di sini, Pak Bekto? Ada, Bapak juga senang dengan fotografi. Saya sudah menerima buku dari beliau. Kemudian Ibu Rosida. Ibu Rosida ada hadir di sini? Ibu Rosida, terima kasih atas kehadirannya dan Casko Wibowo, serta lain-lainnya yang saya tidak, Casko, Ananda Casko, dan lain-lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.
Yang saya cintai Anak-anakku Agus, Annisa, Ibas, Aliya, dan cucuku yang tercinta Aira,

Hadirin sekalian yang berbahagia,
Pada malam yang amat membahagiakan ini, saya mengajak Hadirin sekalian untuk sekali lagi, memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT karena atas rahmat dan ridho-Nya, kita semua masih diberi kesehatan dan kekuatan sehingga dapat berkumpul di tempat ini dalam keadaan sehat wal’afiat.

Saya sungguh sangat menghargai dan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran Ibu, Bapak, handai taulan, para sahabat, serta Saudara-saudara sekalian yang telah hadir memenuhi undangan saya dalam rangka, dalam acara peluncuran buku yang kami berisi, yang merupakan kumpulan hasil fotografi saya yang diberi judul The Colors of Harmony, a Photography Journey by Ani Yudhoyono.

Saya minta maaf dan terima kasih. Saya tahu di luar hujan demikian lebatnya, tetapi Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sekalian tetap datang kemari untuk menghadiri acara ini. Sekali lagi, dari lubuk hati yang paling dalam, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Hadirin yang saya hormati,
Seperti yang telah kita saksikan bersama dalam tayangan singkat tadi dan juga apa yang disampaikan oleh Mbak Tiya Diran, pembawa acara kita, saya mempunyai ketertarikan terhadap fotografi sejak masih remaja. Ketika menyaksikan ayahanda yang tercinta, Bapak Sarwo Edhie Wibowo yang sering membuat foto keluarga dengan tustelnya.

Kalau tak salah tustelnya itu merknya Canon karena waktu itu masih kecil tentu saya tidak begitu memperhatikan. Tapi kami sering mendengar namanya atau merknya adalah Canon, lengkap dengan tripod-nya, serta menggunakan self-timer, beliau mengambil foto keluarga pada moment lebaran atau ketika bertamasya bersama-sama.

Menurut beliau dengan potret keluarga itu beliau bisa melihat pertumbuhan, perkembangan, serta perubahan yang terjadi pada putra-putrinya. Tak hanya memotret, saya juga sering menyaksikan beliau mencuci sendiri negatif film di kamar yang gelap. Saat itu, saya merasa sangat takjub melihat proses dari selembar kertas yang putih, polos, direndam dalam air, saya katakan waktu itu air, mungkin sebetulnya adalah larutan, dibolak-balik, kemudian tiba-tiba muncul gambar. Kertas yang masih basah itu kemudian diangin-angin, biasanya dijepit kemudian ditaruh pada semacam apa ya gantungan begitu ya, kemudian diangin-angin sampai benar-benar kering. Dan jadilah selembar kertas yang bergambar atau foto.

Saya lalu bertanya kepada beliau, mengapa dan bagaimana hal itu bisa terjadi. Dengan sabar, beliau menjelaskannya kepada saya. Walaupun jujur, saya katakan bahwa waktu itu, saya belum mengerti benar dengan apa yang beliau jelaskan, istilahnya adalah enggak mudeng saya. Dijelaskan, tapi tetap nggak mudeng. Tetapi apa yang saya lihat itu kemudian saya rekam di dalam otak saya.

Bulan Juli 1976, ketika saya menikah dengan Bapak SBY bersama-sama dengan saudari-saudari saya, Mbak Titi dan Mbak Tuti, seperti yang disampaikan oleh Tiya Diran, ayahanda menambahkan tustel sebagai hadiah pernikahan kami masing-masing. Dengan tustel tersebut, saya sering melakukan apa yang pernah beliau lakukan, memotret keluarga kecil kami, anak-anak kami, Agus dan Ibas lalu menjadi objek memotret yang paling kami sukai.

Benar apa yang telah disampaikan oleh beliau, ayahanda kami yang tercinta bahwa dari hasil memotret itu, saya dapat mengikuti pertumbuhan dan perkembangan anak-anak kami, utamanya dari segi fisiknya. Kalau masih kecil mukanya mungkin masih sangat polos, makin besar makin kelihatan hidungnya makin tumbuh, tingginya makin bertambah tinggi, badannya pun bertambah besar. Itulah yang nyata kalau kita bisa membandingkan foto dari tahun ke tahun.

Ketika suami saya yang seorang militer mendapat tugas ke berbagai daerah, baik di dalam maupun di luar negeri, tustel itu pun menjadi benda yang tak pernah ketinggalan untuk dibawa. Beliau tidak lupa untuk memotret semua peristiwa yang dialami selama dalam penugasan dan biasanya hasilnya akan menjadi bahan oleh-oleh yang sangat menarik, oleh-oleh cerita yang sangat menarik bagi kami sekeluarga.

Hadirin sekalian,
Sehubungan dengan kegiatan saya yang semakin padat, apalagi yang setelah saya menjadi Ibu Negara, saya sudah hampir melupakan hobi saya untuk memotret. Tiga tahun terakhir ini, saya mencoba kembali menekuninya. Memotret moment yang saya temui sepanjang tugas saya mendampingi Bapak Presiden dalam kegiatan kenegaraan. Ketika berolahraga maupun kegiatan lainnya sehari-hari.

Saya merasa senang karena tustel zaman sekarang, tustel digital jauh lebih canggih daripada tustel jaman dahulu, tidak memerlukan negatif film lagi. Memotret jadi tambah ringan dan menyenangkan. Tidak khawatir salah karena kalau kurang pas hasilnya tinggal dihapus dalam sekejap dan kita mengulanginya lagi sampai hasilnya benar-benar cocok di hati.

Dalam kurun waktu tiga tahun, saya telah memotret ratusan objek dan saya cukup gembira melihat hasilnya, kok bagus juga ya, ya. Akhirnya kagum sendiri. Dalam hati timbul rasa sesal yang mendalam. Mengapa ya tidak dari dulu saya merekam moment atau peristiwa yang begitu langka, yang belum tentu dipunyai oleh orang lain.

Sebetulnya sebagai Ibu Negara banyak privilege yang saya miliki dalam banyak kegiatan, saya sering mendapatkan tempat duduk yang terbaik sehingga saya dapat mengabadikan peristiwa yang saya temui dengan spot yang baik pula. Sebagai contoh, ketika saya mendampingi Bapak Presiden untuk menghadiri Peringatan Hari Republik India pada tanggal 26 Januari 2011 di New Delhi, kami menyaksikan defile dari pasukan angkatan bersenjata India. Defile itu sangat megah, meriah, dan akbar. Disaksikan oleh ratusan ribu masyarakat India. Bapak Presiden dan saya ikut mendampingi beliau menjadi Chief Guest atau tamu kehormatan. Sebagai tamu kehormatan kami duduk di tribun bersama-sama dengan Presiden India, Ibu Pratibha Devisingh Patil dan Perdana Menteri India Bapak Manmohan Singh.

Saat itu, saya membawa tustel poket yang saya taruh dibalik selendang saya karena pada waktu itu, kalau kita datang pada kegiatan di Istana Presiden India ada tulisan dilarang membawa tustel, dilarang membawa handphone begitu. Oleh karena itu, saya akal-akali ini, ini kegiatan ini outdoor, jadi banyak cara. Kegiatan ini kebetulan outdoor sehingga saya masukkan atau saya simpan di balik selendang saya. Jadi selendang tidak saya sampai kesampirkan, tetapi saya, saya sampirkan di tangan padahal dibalik situ ada tustel pocket saya.

Begitu defile dimulai, saya segera minta izin kepada Ibu Manmohan Singh. Jadi kalau mau diam-diam juga tidak enak, akhirnya saya minta izin kepada beliau yang kebetulan duduk di sebelah kiri saya untuk memotret peristiwa langka itu. Kemudian Ibu Manmohan Singh, tentu saja bertanya kembali Panglima Tentara Nasional mereka dan mengangguk dipersilakan. Setelah mendapat izinnya, saya mulai mengabadikan barisan pasukan yang melintas di depan tribun dengan gagah, tertib, dan tentu saja rapi di depan tribun kehormatan.

Saat itu yang sangat menarik perhatian saya adalah pakaian seragam yang dipakai oleh pasukan angkatan darat, angkatan laut, dan angkatan udara India. Dengan topi yang seperti kipas berwarna-warni, sungguh sangat cantik. Saya kira barangkali Bapak-bapak menteri ada yang bersama-sama dengan kami juga pada waktu di India.

Selain itu melintasnya tentara Gurkha yang begitu terkenal, pasukan berkuda yang membawa bendera kecil berwarna Merah Putih sebagai penghormatan kepada Presiden Indonesia, pasukan berunta. Kalau tadi saya katakan pasukan berkuda karena dia atau mereka naik kuda, dan ini satu lagi, pasukan berunta karena mereka dengan seragamnya itu naik unta.

Tentu saja hal ini baru pertama kali saya lihat, ada pasukan kok naik unta. Padahal perasaan saya ketika kaminnaik haji ke Makkah itu unta dipakainya secara ya dipakai untuk apa ya foto-foto begitu ya, jadi tidak ada pasukan di atas unta, ternyata ada pasukan berunta. Kemudian juga kendaraan berat lainnya seperti tank membuat saya asik sekali terus membidikkan kamera ke depan. Kemudian Ibu Manmohan Singh berkata kepada saya, “Ani, you have the privilege to take the picture.” Saya menjawab, “Yes, Madam, I sholud say thank you very much for this great opportunity.” Hasilnya Bapak dan Ibu sekalian dapat menyaksikan sendiri di dalam buku The Colors of Harmony nanti.

Sebetulnya saya cukup banyak mengambil foto pada hari itu, tetapi hanya dipilih dua foto untuk dimuat dalam buku. Dan saya pesankan kepada Ibu-ibu dan Bapak-bapak sekalian mohon nanti diperhatikan pada gambar itu, pada gambar yang ketika ada di India, penghormatan pasukan tank kepada Presiden India.

Kalau boleh saya ceritakan tank itu berjalan didepan tribun, kebetulan tribun menghadap ke sana, tank dari sana, kami asik memotret, ternyata setelah jadi foto itu begitu saya perhatikan, penghormatan tank terhadap Presiden India, larasnya yang harusnya menghadap ke depan sana tiba-tiba berputar menghadap ke tribun dan itu sama sekali tidak kita ketahui karena bunyinya tidak ada tiba-tiba menuju ke arah tribun. Saya bisa membayangkan ketika itu apabila jedor bagaimana kita yang ada di atas tribun. Nah, ini yang tidak kita sadari dan saya menemukannya atau menemuinya ketika sudah menjadi foto karena benar-benar tidak ketahuan bisa memutarnya ya, apa namanya larasnya yang pada tank itu yang panjang sekali. Jadi itu nanti mohon diperhatikan, ternyata larasnya ditujukan ke arah tribun, tetapi menunduk sedikit. Jadi tidak seperti itu, tetapi menunduk sedikit. Mohon nanti diperhatikan dengan baik.

Hadirin yang saya hormati,
Di dalam negeri pun saya sering mendapat privilege seperti itu ketika saya mendampingi Bapak Presiden dalam sebuah acara. Namun seringkali pula saya memotretnya dari dalam kendaraan RI 1, kemudian dari kereta api, pesawat udara, mungkin tadi Bapak dan Ibu sekalian menyaksikan, ada dua pesawat sukhoi, itu benar-benar melintas atau sedang mengawal pesawat dari RI 1 yang akan turun di Bandara Makassar pada saat itu dan saking gembiranya, waktu itu saya langsung mengambil tustel dan jepret-jepret untung jadi dengan baik karena tentu saja saya tidak bisa mengimbangi kecepatan dari sebuah pesawat. Atau kadang-kadang juga di atas kapal laut yang sedang bergerak atau melaju.

Waktu yang saya punyai sangat sempit dan tidak jarang saya lakukannya dalam ketergesaan. Oleh karena itu, saya harus bisa membidik semua objek dengan cepat dan tepat, kalau tidak ingin kehilangan sebuah moment yang baik. Saya amat gembira dan bahagia dapat membukukan sebagian dari hasil memotret saya selama 3 tahun terakhir ini.

Hadirin sekalian,
Lahirnya buku The Colors of Harmony pada awalnya adalah semata-mata keinginan saya untuk memberikan cinderamata kepada para first lady yang akan menjadi tamu-tamu kehormatan saya pada KTT ASEAN dan East Asia Summit yang akan diselenggarakan di Bali pada tanggal 17 dan 18 November 2011 yang akan datang.

Pengalaman saya selama ini, ketika mendampingi Bapak Presiden dalam acara pertemuan puncak di beberapa negara, entah itu ASEAN Summit, APEC Summit atau G-20, beberapa kali saya menerima cinderamata berupa buku resep masakan dari first lady negara yang kami kunjungi. Sebagai balasan, ketika Indonesia menjadi tuan rumah, saya juga ingin memberikan sesuatu yang mengesankan kepada beliau-beliau itu yang lain dari biasanya, yaitu buku hasil jepretan saya sendiri.

Setelah terlebih dahulu meminta pertimbangan dari Bapak Presiden, saya mulai mencari seorang kurator, fotografer pribadi, Bapak Presiden SBY yang sering membantu, bahkan mengajari saya memotret boleh dikatakan dialah guru saya, Saudara Dudi Anung Anindito. Menyebut satu nama. Mana Anung? Anung, Anung ada di belakang. Makasih Anung. Menyebut satu nama, yaitu Saudara Deniek G. Sukarya yang bisa dimintai tolong untuk menjadi kurator. Beliau adalah salah satu the best photographer yang dipunyai Indonesia saat ini.

Saudara Deniek G. Sukarya sampai hari ini tercatat sudah menerbitkan beberapa buku tentang fotografi. Singkat kata, mulai pada bulan Maret 2011, Saudara Deniek G. Sukarya mulai memilih, menyeleksi, dan menentukan foto-foto mana saja yang layak untuk ditampilkan. Saudara Deniek bilang kepada saya bahwa dia akan kejam, ya dalam tanda kutip, akan kejam dalam menyeleksi foto-foto itu agar hasilnya baik dan enak untuk dinikmati.

Saya 100 persen setuju. Kalau saya yang memilih sendiri, tentu akan sangat subjektif, saya tentu akan mengatakan karya saya bagus semua, tetapi untuk itu lebih baik Saudara Deniek yang memilihnya sehingga tahu mana yang benar-benar baik.

Alhamdulillah, setelah bekerja selama kurang lebih 7 bulan, akhirnya buku yang merupakan perjalanan pribadi saya untuk menemukan kembali segala keajaiban dunia di sekitar kita melalui fotografi dapat diluncurkan malam ini. Mudah-mudahan hasilnya tidak mengecewakan.

Tadinya saya tidak punya niatan sama sekali untuk meluncurkan buku ini. Namun karena seorang saudara menyampaikan kepada saya, begini katanya, “Mbak Ani, buku itu harus diluncurkan biar orang tahu hasil fotografi yang Mbak Ani lakukan selama ini. Kalau tidak saya khawatir Mbak Ani dituduh hanya gaya-gayaan saja membawa tustel ke mana-mana.” Dalam hati saya mengatakan benar juga katamu dik. Dulu saya punya kenalan seorang fotografer. Saya katakan dia fotografer karena ke mana-mana dia membawa tustel, tidak hanya itu dia juga sering membidikkan ke lensanya itu untuk memotret acara yang sedang berlangsung, termasuk memotret saya dan kawan-kawan. Namun jarang sekali melihat hasilnya sampai saya dan kawan-kawan ngerasani jangan-jangan dia hanya gaya-gayaan saja memotret, padahal tustelnya kosong tidak ada filmnya. Jadi saya teringat dengan pikiran saya bersama kawan-kawan itu dan seolah menjawab keraguan saya itu. Suatu saat saya dikirimi foto-foto hasil jepretannya yang ternyata memang bagus-bagus. Jadi kalau ingat itu, saya suka tersenyum sendiri.

Hadirin sekalian,
Sungguh saya tak ingin dituduh hanya gaya-gayaan. Akhirnya, saya bersetuju dengan usul saudara saya itu. Hari ini, tanggal 28 Oktober 2011, di hari yang amat bersejarah bagi bangsa Indonesia, serta dengan rasa syukur yang mendalam, saya meluncurkannya guna menandai terbitnya buku The Colors of Harmony. Seperti kita ketahui bersama, bahwa hari ini 83 tahun yang lalu, para pemuda kita telah mengucapkan sumpahnya untuk mengakui hanya satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa, Indonesia.

Selain untuk souvenir tamu-tamu, buku ini juga saya maksudkan untuk sharing kepada teman-teman yang melihatnya tentang keindahan alam, flora, fauna, dan peristiwa yang saya temui, baik di dalam maupun di luar negeri.

Pada kesempatan yang amat baik ini, perkenankan saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, yang pertama dan utama kepada suami saya yang tercinta, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang telah memberikan dukungan dan kesempatan kepada saya untuk menjalankan hobi saya. Selama ini beliau tidak pernah merasa terganggu bila saya sedang memotret di sebelahnya, bahkan tidak jarang justru beliau yang menunjukkan kepada saya sebuah objek yang menarik untuk dipotret. Terima kasih, Bapak.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada anak-anak saya, Agus, Annisa, dan Ibas yang dengan sukarela memperhatikan dan memberikan komentar, kadang-kadang pujian terhadap hasil fotografi saya. Saya senang karena Annisa juga mempunyai hobi yang sama dengan saya, hanya bedanya kalau Annisa sempat belajar tentang fotografi di Amerika Serikat, ketika mengikuti Agus melaksanakan pendidikan Fort Benning, sedangkan saya hanya otodidak dan dibantu saja atau diajari saja oleh tadi guru foto saya, Anung Anindito, juga tentu saja kepada cucu saya yang cantik. Mana tadi sedang kabur ke luar ya? Oke. Cucu saya yang cantik Aira yang sering menemani saya, ketika saya memotret, bahkan dia juga suka ikut-kutan memotret dengan meminjam kamera saya.

Objek yang dia pilih masih suka-suka, kadang-kadang gelas, kadang-kadang tas eyangnya, kadang-kadang batu, kadang-kadang rumput, kadang-kadang bola golf yang akan dipukul oleh eyangnya tiba-tiba, tunggu sebentar Aira mau motretnya. Jadi Aira sudah bisa memotret. Saya melihat dia punya sense ke arah situ sehingga saya berharap Agus dan Annisa terus mengajari dia untuk bisa barangkali suatu saat kita bisa bersama-sama pameran foto bersama. Triple A, Ani, Annisa, dan Aira dan barangkali nanti menjadi quarter A, plus Aliya, mudah-mudahan.

Terima kasih saya yang luar biasa kembali kepada Dudi Anung Anindito, yang telah mengajari saya mengatur speed dan fokus. Tentu juga kepada Saudara Deniek Sukarya yang telah menjadi kurator dan timnya yang telah menyusun foto-foto karya saya menjadi sebuah buku yang cantik. Dan insya Allah, buku ini nanti akan dijadikan sebagai souvenir untuk Bapak dan Ibu sekalian.

Tak lupa juga kepada Sekretaris Pribadi Ibu Negara. Mana nih Ibu Yuli? Yulia Ekayanti yang bekerja serabutan siang dan malam membantu saya. Mbak Dea Sudarman. Mbak Dea ada di sini? Mbak Dea terima kasih sekali berkat mereka dan Squad Team yang telah membuat acara ini dapat terlaksana dengan baik.

Sebelum mengakhiri sambutan ini, saya ingin mengajak siapa saja, seperti apa tadi yang juga diajak oleh Bapak Deniek G. Sukarya, siapa saja di negeri tercinta ini untuk bisa menekuni seni fotografi. Menurut pengalaman saya selama ini, memotret merupakan hal yang amat menyenangkan, bahkan bisa menurunkan tensi kita. Harapan saya, agar ke depan fotografi di Indonesia benar-benar bisa menjadi bagian dari ekonomi kreatif.

Ibu Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, saya juga mulai berpikir, Ibu Mari, suatu saat nanti mungkin ketika tugas saya sebagai Ibu Negara telah selesai, saya bisa memanfaatkan hasil fotografi saya untuk usaha kreatif lainnya. Misalnya saja, foto kupu-kupu yang indah itu bisa saya tuangkan dalam selembar batik. Kemudian juga atau batik atau kertas sebagai apa namanya kartu ucapan. Saya kira mengapa tidak? Sah saja kan, Bu Mari. Sah, jadi insya Allah. Kalau 3 tahun lagi sudah selesai tidak menjabat sebagai Ibu Negara lagi, maka insya Allah, saya akan bergabung dengan ekonomi kreatif melalui foto-foto saya.

Pada akhir acara nanti, undangan yang diterima oleh Bapak, Ibu sekalian dapat ditukarkan dengan sebuah buku The Colors of Harmony sebagai souvenir. Semoga dapat menikmatinya dan terima kasih atas perhatiannya. Dan akhirnya, saya akhiri dengan wabilahitaufik walhidayah wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

*****

Biro Pers, Media dan Informasi
Sekretariat Presiden


Redaksi | Syarat & Kondisi | Peta Situs | Kontak
© 2006 Situs Web Ibu Negara Republik Indonesia - Ny. Hj. Kristiani Herawati
Hak Cipta dilindungi Undang-undang