Salah satu hasil penting kunjungan Presiden Joko Widodo ke Inggris (19/4/2016) adalah kerjasama  yang difokuskan pada ekonomi kreatif dan industri kreatif.

“Saya senang melihat 5 designer muda Indonesia yang memajang produknya di Department Store besar yang ada di London,” kata Presiden Jokowi. Menurut Presiden, hasil kunjungan ini akan ditindaklanjuti oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan sejumlah kementerian dalam bentuk kerja sama, baik di bidang desain, handycraft, seni pertunjukan, musik, dan lainnya.

Sebelumnya Bekraf telah melakukan kerja sama dengan British Council Indonesia dalam hal pengembangan industri kreatif di Indonesia. Salah satu subsektor ekonomi kreatif yang menjadi fokus kerja sama ini adalah industri fesyen. Kerja sama ini bertujuan untuk membangun jejaring komunitas global.

“Bekraf mendukung usaha pelaku industri kreatif untuk berkarya dan berniaga tidak hanya di pasar dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Salah satu contohnya ialah kesempatan desainer busana muslimah Indonesia untuk tampil di ajang London Fashion Week 2016,” kata Triawan di Jakarta, 12 April 2016.

Sebagai garda terdepan depan Bekraf  berfungsi menjadi akselator pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia. Khusus industri fesyen,  Indonesia telah melesat cukup jauh.  Subsektor fesyen menyumbang 28,29% atau setara dengan Rp 181,5 triliun. Terbesar  kedua setelah subsektor kuliner  sebesar Rp 208,6 triliun. Serapan tenaga kerjanya juga paling banyak di antara subsektor industri kreatif lain. Yaitu  3.838.756 orang dengan 1.107.956 unit usaha dan laju pertumbuhan ekspor 9,51%.

 

Sementara jika berbicara ekonomi kreatif,  sektor ini berkontribusi 7,1 persen terhadap PDB nasional, menyerap 12 juta tenaga kerja dan menyumbang perolehan devisa 5,8 persen pada 2014.

Menteri Perindustrian Saleh Husin menyatakan, hingga tahun 2019 kontribusi PDB ekonomi kreatif ditargetkan mencapai 7-7,5% dengan syarat pertumbuhan PDB  industri kreatif minimal 5-6%. Selain itu, tingkat partisipasi tenaga kerja  di industri ini ditargetkan mencapai 10,5 -11% dari total tenaga kerja nasional, danpeningkatan devisa negara mencapai 6,5% – 8%.

Saat ini Bekraf fokus pada 16 subsektor untuk dikembangkan, yakni aplikasi dan pengembangan game, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fesyen, film, animasi video, fotografi, kriya (kerajinan), kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, televisi, dan radio.

Namun untuk sementara Bekraf akan fokus pada tiga subsektor: aplikasi digital, film, dan musik. Sementara kuliner dan fesyen sudah berjalan dengan sendirinya. Bahkan sudah mendunia, seperti karya 5 designer muda Indonesia yang dilihat Presiden di London.

Menurut Triawan Munaf, Kepala Bekraf, subsektor yang masih perlu digenjot  dengan kebijakan dan program kerja antara lain aplikasi digital dan game, film dan musik.

Tidak seperti pembangunan fisik yang mengandalkan kapital dan barang modal, ekonomi kreatif  justru berpijak pada ide, pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi yang utama. Sehingga sebenarnya potensinya tidak terbatas, karena pada dasarnya, kemajunan sektor ekonomi kreatif tergantung pada daya kreatifitas orang per orang.

Pada era digital ini bisnis berbasis ekonomi kreatif mendapatkan momentum baru. Terutama dalam hal pengenalan dan pemasaran produk. Produk akan lebih gampang dikenal lewat saluran digital, sehingga masyarakat yang tertarik dengan mudah bisa berhubungan langsung dengan produsen. Jangkauan pemasaran juga lebih luas melintasi sekat batas wilayah dan negara.

Di tengah berbagai kemudahan dan besarnya peluang ini, satu hal yang tidak boleh diabaikan adalah menjaga mutu produk agar sesuai dengan standar yang diharapkan konsumen. Peningkatan kemampuan sumber daya manusia di sektor ekonomi kreatif menjadi faktor penentu agar kelak ekonomi kreatif menjadi andalan perekonomian.

“Saya akan membuat keputusan politik agar di masa yang akan datang ekonomi kreatif bisa menjadi pilar perekonomian kita,” kata Presiden dalam sebuah dialog dengan pelaku industri kreatif.