Kunci untuk meningkatkan pendapatan masyarakat berpenghasilan rendah, menurut Presiden Jokowi adalah dengan mengubah karakter masyarakat konsumtif menjadi masyarakat produktif.

Penilaian positif terhadap Presiden Jokowi antara lain diberikan warga untuk masalah tersedianya obat-obatan, sekolah dan perguruan tinggi yang terjangkau, transportasi umum, penanggulangan narkoba, rasa aman dari ancaman teroris dan peningkatan kesejahteraan.  Demikian sekelumit hasil survey nasional SMRC (Syaiful Mujani Research Center) tentang pemerintahan Presiden Jokowi yang dirilis pertengahan April 2016.

Sejalan dengan itu, dalam kesempatan lawatan ke Eropa, Presiden Jokowi di acara Forum Bisnis Indonesia – Jerman yang berlangsung di Berlin, 18 April 2016, menyampaikan bahwa pembangunan infrastruktur dan investasi di Indonesia saat ini merupakan dua mesin pertumbuhan ekonomi yang telah menunjukkan hasil dan terobosan nyata. “Saya yakin Indonesia telah memiliki perekonomian yang stabil,” tegas Presiden.

Di sisi lain, data BPS juga menguatkan tentang adanya kemajuan dalam hal pengurangan rasio ketimpangan ekonomi. Salah satu faktor penyebabnya adalah peningkatan volume program jaminan sosial yang langsung menyasar keluarga miskin. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suryamin, menyatakan, rasio gini sebagai indikator ketimpangan ekonomi menunjukkan angka 0,40 atau turun 0,01 poin dari Maret 2015 dan September 2014 yang sebesar 0,41. Terkait penurunan rasio gini, Wakil Presiden M Jusuf Kalla menyebutkan, program memperbaiki pendapatan masyarakat berpenghasilan rendah sudah berjalan efektif.

Kunci untuk memperbaiki pendapatan masyarakat berpenghasilan rendah, seperti seringkali ditegaskan Presiden Jokowi adalah dengan mengubah karakter masyarakat dari masyarakat konsumtif menjadi masyarakat yang produktif. Upaya-upaya untuk meningkatkan produktivitas juga sudah dilakukan secara nyata, antara lain dengan memberikan kemudahan memperoleh KUR atau Kredit Usaha Rakyat dengan bunga sangat rendah, yaitu 9%. Tahun 2017 direncanakan bunga lebih rendah lagi, 7%. Melalui kemudahan akses mendapatkan modal, geliat produktivitas akan meningkat lebih cepat.

Di sektor industri besar, dalam rangka kunjungan Presiden ke Jerman juga telah ditandatangani sejumlah kesepakatan kerjasama antara perusahaan Jerman dan Indonesia dengan nilai investasi sebesar US $ 845,6 juta. Kesepakatan kerjasama terjadi antara PT Aneka Tambang dengan Ferrostaal, PT Pelni dengan Meyer Werft, PT Pindad dengan Junggans Microtech, dan PT PLN dengan Siemen.

Presiden meyakinkan para pengusaha Jerman agar tidak ragu berinvestasi di Indonesia karena keadaan sekarang sudah jauh lebih stabil dan berbagai reformasi perijinan pun sudah dilaksanakan oleh Presiden Jokowi. Perijinan terus disederhanakan dengan menerapkan prinsip  keterbukaan dalam roda perekonomian Indonesia. Melalui berbagai reformasi perijinan dan revisi berbagai regulasi, maka iklim usaha otomatis akan lebih mendukung peningkatan produktivitas.

Selain itu, untuk mempercepat pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang Indonesia sentris, Presiden juga berkomitmen untuk mengembalikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia sesuai jati diri bangsa Indonesia sebagai bangsa maritim yang dua per tiga wilayahnya terdiri dari air dengan segala kekayaan yang terkandung di dalamnya. Potensi besar sebagai Negara kepulauan akan menjadi prioritas penting dalam upaya pemerataan kesejahteraan.