Jember – Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menghadiri Dzikir untuk keutuhan NKRIN di Pondok Pesantren Al Qodiri Jember pimpinan KH Muzzaky Syah, Kamis malam (3/8).

Manaqib Syekh Abdul Qadir Al Jaelani yang diselenggarakan setiap malam Jum’at manis ini selalu dihadiri tidak kurang dari 50 ribu jamaah dari berbagai daerah di Jawa dan luar Jawa, bahkan dari Malaysia dan Singapura. Mensos dibuat takjub dan terkesan melihat suasana dan semangat nasionalisme jamaah dzikir manaqib.

“Baru kali ini saya datang ke majelis dzikir yang nuansa keindonesiaannya kental sekali,” kata Mensos yang tampak mengenakan gamis hitam berpayet dan kerudung hijau.

Acara dimulai dengan mengajak semua jamaah berdiri menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan penuh khidmat.

“Majelis ini disatukan dengan do’a dan dzikir untuk keutuhan NKRI, di panggung utama bendera merah putih berkibar sementata umbul-umbul merah putih tampak di mana-mana. Ini integrasi suasana religius-nasionalis yang luar biasa,” papar Mensos.

Berdasarkan penuturan Laura Fadhil Muzakky, putera Kyai Muzakky pengasuh pesantren Al Qodiri, kegiatan manaqib Syekh Abdul Qadir Al Jaelani telah berlangsung sejak tahun 1970. Kemudian mulai bulan Mei 2017 acara dzikir manaqib yang digelar setiap malam Jum’at manis ini dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama seluruh jamaah.

Dalam setiap kegiatannya, Pimpinan Majelis Dzikir Manaqib, Kyai Muzzaky membimbing jamaah berdoa untuk umat, untuk para pemimpin bagsa dan seluruh rakyat Indonesia. Dalam majelis ini, jamaah tidak hanya didorong untuk menguatkan iman dan taqwa kepada Allah, namun juga memperkokoh kecintaannya pada NKRI.

“Ada kepedulian yang besar dari kyai dan jamaahnya ketika NKRI ada yang mengusik, mereka ikut terusik. Mereka turut mendoakan bangsa karena mereka melihat makin banyak tantangan yang dihadapi bangsa ini,” papar Mensos.

Khofifah mengungkapkan bangsa Indonesia sebagai bagian dari bangsa dunia mendapat banyak tantangan baik dari dalam maupun luar negeri. Penyebaran paham dan perekrutan ISIS, perdagangan manusia, peredaran narkoba, penyebaran ajaran radikalisme melalui internet, terorisme, dan tindakan intoleransi menjadi persoalan serius.

Ditambah lagi, lanjutnya, penyebaran informasi melalui media sosial dan aplikasi pesan begitu gencar, sayangnya seringkali hal ini dimanfaatkan sejumlah pihak untuk memperkeruh kondisi antara lain dengan menyebarkan kabar HOAX.

“Yang luar biasa adalah tidak ada undangan untuk mengikuti majelis dzikir ini. Semua datang dengan suka rela, dengan ikhlas, semua merogoh kocek pribadi. Mereka datang karena panggilan Allah. Semua datang karena cintanya kepada Allah dan cintanya kepada NKRI,” terang Mensos.

Sementara itu berdasarkan pantauan, kendati kegiatan baru dimulai usai salat isya, gelombang kedatangan jamaah telah berlangsung sejak pagi. Area ponpes seluas 10 hektare penuh dengan jamaah dari berbagai usia, baik orang tua, dewasa dan remaja.

Mereka menggunakan mobil pribadi, mobil bak terbuka dan angkutan kota yang disewa berombongan, banyak juga jamaah yang datang bersepeda motor, bahkan ada yang berjalan kaki berkilo-kilo meter. Mereka berasal dari berbagai pelosok desa

“Saya seperti berada di padang Arafah. Sejauh mata memandang hamparan area terbuka ini dipenuhi jamaah. Bayangkan dari 26 hektare luas lahan ponpes ini, 10 hektare penuh dengan jamaah. Ini pemandangan yang sungguh menyejukkan,” ungkap Mensos.

Di akhir kehadirannya, Mensos memberikan arahan kepada jamaah. Mensos meminta segenap warga bangsa menjaga persatuan dan kesatuan, tidak mudah terprovokasi, mengedepankan toleransi dan hormat-menghormati sesamanya, serta selalu mencintai Indonesia.