JAKARTA – Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika kembali menyelengarakan Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) di Ruang Serbaguna Kementerian Kominfo, Jl. Merdeka Barat no.9 Jakarta Pusat.

Dengan membawa topik “Indonesia Siap Menuju Revolusi Industri 4.0”, forum ini dihadiri oleh narasumber Menteri Perindustrian, Airlangga Hartanto, Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kementerian Tenaga Kerha Bambang Sario, dan Deputi Bidang Ekonomi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Leonard Tampubolon.

Acara ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kita sebagai masyarakat Indonesia dapat menyiapkan diri kita dalam menghadapi revollusi industri 4.0. Berawal dengan komitmen Indonesia pada Indonesia Industrial Summit 2018, yaitu Making Indonesia 4.0. Hal tersebut adalah sebuah strategi Indonesia dalam membangun industri manufaktur yang memiliki standar global melalui percepatan implementasi industri 4.0, dengan membangun konektivias dan interes melalui teknologi, komunikasi, dan informasi yang terintegrasi sehingga dapat dimanfaatkan oleh semua manufaktur.

“Revolusi Industri 4.0 tidak hanya berpotensi luar biasa dalam merombak industri, tapi juga mengubah berbagai aspek kehidupan manusia,” tekan Menteri Perindustrian, Airlangga Hartanto.

Airlangga menjelaskan, memasuki revolusi 4.0 akan terjadi banyak perubahan pada sector manufaktur, namun pada dasarnya hal yang berubah pada masa transisi ini adalah adanya peningkatan efisiensi yang lebih tinggi.

Fase ini ditandai oleh sistem mekanisme produksi yang semakin berbasis serba mesin, otomatisasi atau teknologi robotik dan sistem komputerisasi yang menuntut tenaga kerja dengan tingkat penguasaan keahlian tinggi keahlian menengah dan rendah.

“Perbedaannya dengan industri 3.0, jika dulu produksi ditekan oleh profit yang akan dihasilkan kini proses industri lebih menekan harga dan cost, namun tetap dengan meningkatkan value yang ada,” jelas Airlangga lagi.

Menperin juga menegaskan bahwa dengan kemunculan faktor pendukung tersebut harus dikembangkan dengan kemampuan menciptakan Prototype Industry, Peningkatan private security demi peningkatan keamanan property rights, dengan melihat pada apa yang terjadi oleh Facebook saat ini.

“Isunya ke depan adalah bagaimana kita membuat proyek percontohan dan berikutnya adalah masalah kemanan data. Kasus bocornya data pribadi di AS dengan Facebooknya dapat dijadikan contoh. Sehingga masalah Hak intelektual menjadi kunci bagi pengembangan revolusi Industri 4.0,” tambahnya.

Pengaruh Artificial Intelligent

Dampak yang ditimbulkan dari adanya transformasi industri ini adalah adanya jenis-jenis pekerjaan yang berubah pada sektor pekerjaan tertentu, terlebih karena proses kontrol yang secara cepat atau lambat akan segera diganti oleh Artificial Intelligent.

Meskipun begitu, Airlangga meyakini bahwa akan tetap ada sektor-sektor yang tidak akan dapat diganti oleh robot-robot pintar, khususnya sektor yang berhubungan dengan emosional.

Menanggapi bonus demografi yang juga menjadi isu dalam revolusi industri ini, Airlangga mengaskan bahwa “pada 15 tahun ke depan Indonesia akan melewati ‘masa emas’ dan periode tersebut tidak boleh disia-siakan.

Menteri Perindusrian Airlangga Hartanto menjelaskan bahwa dalam proses transisi industri ini perlu disertai oleh SDM yang handal, hal tersebut mendorong pemerntah dalam menekankan pendidikan vokasi atau ilmu terapan agar dapat ikut bersain dalam industri serba mesin ini.

Proses transisi ini dapat dihadapi dengan lebih baik bila ada persiapan yang matang, menanggapi hal tersebut Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivias, Bambang Satrio, menegaskan bahwa pada persiapan revolusi industri 4.0 dibutuhkan adanya perubahan pada kompetensi yang diterapkan pada SDM.

“Setiap revolusi industri pasti akan memotong sejumlah pekerjaan, namun revolusi industri juga memunculkan pekerjaan baru,” kata Bambang Satrio Lelono.

“Indonesia bersama Vietnam dan India diprediksi dapat menjadi penantang perindustrian di dunia,” tekan Leonard Tampubolon, Deputi Bidang Ekonomi Bappenas. Pertumbuhan industri di Indonesia yang kian membaik tiap tahunnya, diharapkan dapat membuat perbaikan ekonomi dan mencapai pembangunan multidimensi. Dengan tingkat inflasi dan nilai tukar yang terkendali diharapkan dapat menumbuhkan tingkat ekonomi Indonesia.