JAKARTA – Pencemaran udara menjadi salah satu perhatian pemerintah. Hal ini terjadi, salah satunya akibat pertumbuhan kendaraan roda 2 (R2) dan roda 4 (R4) yang setiap harinya terus meningkat.

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) R. Niken Widiastutio saat membuka Diskusi Media Forum Merdeka Barat 9 (Dismed FMB’9) dengan tema ”BBM Euro 4 Ramah Lingkungan”.

Acara yang merupakan fresh briefing ini diselenggarakan di Ruang Serba Guna Kementerian Kominfo, Jalan Medan Merdeka Barat 9, Jakarta Pusat, Kamis, 9 Agustus 2018, pukul 13.00 WIB.

“Sesuai data, saat ini jumlah kendaraan roda 2 di seluruh Indonesia sudah mencapai lebih dari 100 juta unit kendaraan. Sedangkan untuk kendaraan roda 4 terdata lebih dari 20 juta unit kendaraan,” jelas Niken.

Sehingga, menurut Dirjen IKP Kemkominfo, dengan meningkatnya jumlah kendaraan berpengaruh langsung kepada emisi dan kebersihan udara hingga berikutnya memberikan sumbangan pada pencemaran udara.

“Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengendalikan emisi dan menjaga kebersihan udara. Salah satunya dengan penggantian bahan bakar minyak (BBM) Euro 2 beralih ke Euro 4,” ulas Niken.

Dalam upaya tersebut, lanjut Dirjen IKP, sejumlah kementerian dan lembaga negara telah melakukan sinergi sehingga harapan dan tujuan yang hendak dicapai bisa terwujud, yakni lingkungan bisa menjadi bersih.

“Sehingga udara di Jakarta, khususnya, dan di seluruh wilayah Indonesia pada umumnya, bisa akan semakin bersih. Terlebih, di saat acara perhelatan akbar pesta olahraga se-Asia, Asian Games 2018, dan perhelatan World Bank di Bali. Semoga bisa memberikan kenyamanan untuk masyarakat,” pungkas Niken.

Demi Turunkan Pencemaran Udara

Kemenko Perekonomian memastikan pemerintah mendorong penerapan bahan bakar minyak (BBM) berstandar Euro 4 agar tercapai pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, menurunkan pencemaran udara dan masalah kesehatan.

“Target kita 18 bulan, tapi bisa dipercepat 2 bulan, bahwa kita sudah siap BBM Euro 4. Ini optimistis, dari sisi lingkungan dan ekonomi juga positif,” ujar Asisten Deputi Kemenko Perekonomian Dida Gardera.

Seperti diketahui, menyikapi kondisi pencemaran berat di kota-kota besar Tanah Air, maka terbitlah beleid perihal aturan emisi Euro IV. Yaitu, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, N, dan O atau yang lebih dikenal dengan Standar Emisi Euro IV. Konsekuensinya, setelah September 2018 mobil bensin yang beredar di Indonesia harus memenuhi syarat emisi Euro 4.

Sedangkan untuk kendaraan bermotor tipe baru dan yang sedang diproduksi berbahan bakar diesel mulai diberlakukan 10 Maret 2021.

Namun dengan adanya momentum Asian Games 2018 maupun World Bank-IMF Meeting di Bali, penerapan BBM Euro 4 dipercepat mulai Agustus ini, mengingat tingkat emisi rendah menjadi syarat bagi penyelenggaraan ajang olahraga terakbar Asia ini.

Lebih lanjut, Dida Gardera menjelaskan, memang belum ada angka pasti terkait kerugian akibat pencemaran udara dari polusi transportasi, namun dari beberapa riset diperkirakan kerugian ekonomi akibat kemacetan dan pencemaran bisa mencapai Rp40 triliun.

“Nilai ini akibat adanya kemacetan, pencemaran udara dan menimbulkan masalah kesehatan. Tingkat sulfur tinggi akan menimbulkan korosi dari keasaman air hujan ini jelas juga menimbulkan persoalan terhadap infrastruktur dan alat-alat mekanik elektronik,” jelas Asisten Deputi Kemenko Perekonomian.

Satu hal, menurut Dida, industri otomotif nasional sudah siap menindaklanjuti Permen LHK tentang BBM Euro 4 ini. Konsekuensinya adalah kendaraan bermotor baru yang dijual pada Agustus 2018 wajib memenuhi standar Euro 4. Namun demikian, mobil berbahan bakar Euro 2 masih dibolehkan beredar dan tersedia jenis bahan bakarnya. “Jadi prosesnya tetap berjalan seperti biasa sampai nanti kilang-kilang Pertamina mampu memenuhi semua kebutuhan standar BBM Euro 4.”

Dampak dari penerapan BBM Euro 4 ini, banyak keuntungan dari sisi lingkungan hidup terjadi penurunan polutan dan emisi gas buang rata-rata mencapai 50%. Dengan demikian, produk otomotif yang dirakit di dalam negeri akan mudah masuk ke pasar ekspor. “Dari sisi pertumbuhan ekonomi jelas menguntungkan,” imbuh Dida Gardera.

VP Communication PT Pertamina Adiatma Sardjito menegaskan, “Bahan bakar minyak (BBM) Euro 4 yang akan kami pasarkan segera akan membuat kualitas udara kita jadi lebih baik.”

Menurutnya, berdasarkan pemantauan kualitas udara yang ada, kualitas udara di kota Jakarta sangat buruk.”Sangat jauh dibanding Singapura. Karena itu kami berusaha memperbaikinya melalui penyediaan BBM Euro 4 yang lebih ramah lingkungan,” tambahnya lagi.

Ia menambahkan bahwa Pertamina membuat program untuk menyediakan BBM sampai Euro 5 dan Euro 6.”Untuk itu, kita sudah mulai bangun kilang di tuban dan di Bontang-Kaltim, semuanya disiapkan untuk Euro 5 dan Euro 6,” ujarnya.