Banyak variabel yang bisa digunakan untuk menilai kemampuan seorang murid. Hal tersebut tak bisa dilakukan dalam satu kali ujian, tapi melalui pengamatan terus-menerus dari para guru yang mendidik sang murid selama ratusan hari dalam setahun. Oleh karena itu, menjadi tidak adil untuk menilai kualitas pendidikan dengan satu tolok ukur Ujian Nasional (UN) saja – seperti yang selama ini terjadi.

Di sisi lain, karena nasib kelulusan hanya ditentukan oleh UN, maka timbul dampak negatif. Beberapa fakta yang terjadi di lapangan membuktikannya, seperti kecurangan guru dan murid, murid yang mengalami stres, sampai pembelajaran yang tidak tuntas.

Dalam butir ke delapan Nawacita (Melakukan Revolusi Karakter Bangsa), telah gamblang tertulis bagaimana seharusnya menilai kualitas pendidikan yang komprehensif dan kredibel. Khususnya melalui: Evaluasi mekanisme penilaian hasil belajar siswa sebagai dasar pengembangan sistem penilaian hasil belajar siswa yang lebih komprehensif, akuntabel, dan berkeadilan.

Dalam rangka memenuhi amanat Nawacita tersebut maka mulai tahun 2015, nilai UN tidak menjadi syarat kelulusan. Bahkan UN bisa diulang bagi mereka yang nilainya kurang. Kelulusan siswa sepenuhnya ditentukan oleh sekolah itu sendiri. Tentunya dengan alat pengukuran kelulusan yang telah diperbaiki dan dibuat lebih bermakna.

Sesuai perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, maka hasil UN digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk pemetaan mutu program dan satuan pendidikan, dasar seleksi untuk masuk ke jenjang berikutnya, serta pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upayanya untuk meningkatkan mutu pendidikan.

UN di tahun 2015 juga memperkenalkan CBT (Computer Based Testing), memanfaatkan komputer yang ada di masing-masing sekolah. Sudah ada 458 SMU yang berpartisipasi tahun ini, dan diharapkan tahun depan akan ada 2000 sekolah yang ikut CBT.

Banyak kelebihan menggunakan CBT. Pengawas ujian UN mengaku lebih santai saat mengawasi peserta ujian, karena semua teknis ujian sudah otomatis. Pengawas juga tidak perlu membagikan lembar kertas ujian, hanya perlu membagi kartu ujian berisi password dan username untuk login. Kebijakan UN Tahun 2015 yang berbeda dibanding tahun sebelumnya, masih akan terus berubah hingga 15 tahun mendatang. Sesuai konsep yang diajukan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, pada 2016-2018 UN akan dilaksanakan pada awal semester akhir. Bagi yang tidak lulus, UN bisa diulang pada tahun yang sama.

Sedangkan pada periode 2019-2020 situasinya diharapkan akan berbeda. Pada periode ini sekolah dan guru dapat mengarahkan potensi siswa lebih baik. Lalu UN CBT dilakukan secara luas di 34 provinsi pada jenjang: SMP/MTs, SMA/MA, SMK, Paket B dan C, serta terbentuk testing center di daerah. Sedangkan untuk jadwalnya, UN dapat dilaksanakan dengan waktu yang fleksibel.

Pada akhirnya, sebagai satu tolok ukur kinerja belajar siswa, UN dapat dijadikan indikator kualitas pendidikan. Namun secara moral, guru dan murid sendirilah yang berperan besar mengembangkan ilmu. Peran orang tua dan masyarakat juga sangat penting dalam menjaga kualitas pendidikan, serta menjaga semangat belajar.

Hanya dengan pendekatan pendidikan yang komprehensif, kita akan mampu melahirkan manusia-manusia multidimensional yang berkarakter dan kelak dapat membawa bangsa ini berdiri tegak dan berjaya. Pendidikan yang baik adalah investasi terpenting yang dilakukan oleh pemerintah di negara manapun – dulu, sekarang dan yang akan datang.