JAKARTA – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kekominfo), Kamis, 27 Juli 2017 menyelenggarakan Diskusi Media Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) dengan tema “Utang: Untuk Apa dan Untuk Siapa (Kupas Tuntas APBN-P 2017)”. Acara berlangsung di Ruang Serbaguna DR. H. Roeslan Abdul Gani, Kemkominfo, Jakarta, menghadirkan narasumber Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo, dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Thomas Trikasih Lembong.

Dalam diskusi yang dihadiri Menkominfo selaku tuan rumah dan 60 wartawan tersebut, Menkeu Sri Mulyani menyampaikan bahwa alokasi belanja pendidikan, kesehatan dan infrastruktur dalam lima tahun terakhir mengalami kenaikan signifikan. Lonjakan kebutuhan belanja tersebut sebagai bentuk investasi untuk generasi mendatang. “Dengan rasio pajak yang masih berkutat di bawah 11%, berakibat pada perlunya pembiayaan berupa utang,” ujarnya.

Namun Menkeu menegaskan, saat ini rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih aman yaitu berada di bawah 30 persen, dan defisit APBN pada kisaran 2,5 persen. “Angka ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan negara G-20 lainnya,” imbuh Menkeu.

Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada dalam kisaran angka 5-5,4%. “Angka ini merupakan hal yang baik, bahkan lebih baik dari negara-negara ASEAN lainnya. Dengan defisit 1% dari GDP yang terjadi sekarang ini maka kondisi Indonesia sekarang ini masih dapat dikatakan baik,” urainya.

Terkait dengan utang, secara umum Indonesia masih dalam kondisi sehat. “Aman, karena masih 28% dari GDP, meskipun demikian harus waspada,” imbuhnya.

Ditambahkan bahwa BI akan terus mendukung pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah, karena hal tersebut akan meningkatkan daya saing Indonesia.

Sementara itu, Kepala BKPM Thomas Lembong menyatakan bahwa saat ini ada pihak yang menuduh negara memiliki hutang yang sangat tinggi. “Padahal faktanya hutang Indonesia termasuk yang terkecil di dunia,” ujarnya.

Menurut Thomas, utang itu baik asal digunakan untuk hal-hal yang penting dan produktif, yaitu untuk pembangunan infrastruktur, kesehatan dan pendidikan yang merupakan investasi yang sangat baik untuk kesejahteraan warganegara.