SURABAYA – Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyalurkan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) tahap keenam dan bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) tahap keempat di kantor Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya sebagai bagian program nopember tuntas untuk tahun 2017.

“Saya akan kawal terus kinerja tim Kemensos bersama HIMBARA (Himpunan Bank Milik Negara) menuju tuntasnya penyaluran BPNT dan PKH di pengujung tahun 2017 ini,” tegas Khofifah kepada wartawan usai memantau proses pencairan PKH Tahap keempat oleh ibu-ibu Keluarga Penerima Manfaat (KPM), Sabtu, 11 November 2017.

Mensos mengatakan pencairan BPNT dilakukan enam kali dalam setahun atau setiap dua bulan sekali. Bansos pangan di top up setiap bulan sebesar Rp110.000 per keluarga penerima manfaat sehingga apabila pencairan dilakukan tiap dua bulan sekali, maka jumlah yang ditransfer ke rekening KPM adalah Rp220.000.

Dana ini dapat digunakan untuk berbelanja empat komoditi yang dijual di e-Warong terdekat yakni beras, gula, tepung dan minyak goreng. Untuk tahun 2018 akan menjadi dua komoditi yaitu beras dan telur. Hal ini sesuai pedoman umum yang diterbitkan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan bulan Nopember 2017.

Sementara untuk bansos PKH, pencairan dilakukan sebanyak empat kali dalam setahun yakni pada bulan Februari, Mei, Agustus dan Nopember. Total bansos PKH per tahun adalah Rp1.890.000 untuk setiap KPM.

“Kedua program ini penting dikawal karena merupakan program prioritas nasional dalam pengentasan kemiskinan di Indonesia. Apalagi tahun depan jumlah penerimanya akan mencapai 10 juta KPM, naik dari total penerima tahun 2017 sebanyak 6 juta KPM,” katanya.

Peningkatan jumlah penerima bantuan pemerintah ini, lanjutnya, harus diimbangi dengan kecepatan dan profesionalisme tim Kemensos, HIMBARA, didukung Pendamping PKH dan unsur lainnya. Fokusnya adalah bagaimana masyarakat bahagia mendapat bansos yang tepat waktu.

“Tim harus gerak cepat, proaktif dan responsif. Makin banyak jumlah penerima, maka tantangannya semakin besar. Jika penyaluran tahun ini dapat berlangsung tuntas di bulan Nopember, maka saya yakin penyaluran tahun depan tim akan lebih siap,” tuturnya.

Kementerian Sosial hingga Nopember telah menyalurkan bansos sebesar Rp 142.974.550.000 bagi warga Surabaya. Bantuan tersebut terdiri atas bantuan PKH sebesar Rp 44.745.750.000 untuk 23.675 KPM, BPNT sebesar Rp.95.818.800.000 untuk 72.590 keluarga, Bantuan Sosial KUBE Jasa sebesar Rp.1.620.000.000 untum 81 kelompok dan Bantuan Sosial E-Warong sebesar Rp.790.000.000 untuk 79 kelompok.

“Jika November ini penyaluran bantuan sosial tuntas, saya yakin ibu-ibu senang. Maka tanggal 15 Desember 2017 Kemensos pun juga senang karena sudah dapat menyerahkan laporan penyaluran bansos,” terang Khofifah.

Kids Jaman Now
Sementara itu masih dalam kunjungan ke Jawa Timur, Khofifah hadir sebagai narasumber dan menyapa para mahasiswa dalam Seminar Nasional Pendidikan di Universitas Negeri Surabaya (UNESA).

Dalam paparannya sebagai narasumber utama dalam seminar tersebut, Mensos mengatakan bahwa guru harus bisa jadi pemandu bagi anak muda generasi masa kini atau yang biasa disebut generasi milenial atau kids jaman now.

“Yang senior terutama guru harus bisa memangkas jarak dengan anak muda agar bisa menurunkan nilai kepahlawanan dan keperjuangan kepada kids jaman now,” kata Khofifah.

Khofifah mengatakan perjuangan di masa kini, bisa ditempuh dengan berbagai pendekatan. Salah satunya yang ia dorong adalah pendekatan Estetik Heroik.

“Kita angkat budaya karena budaya itu tingkat penerimaannya betul-betul borderless?. Coba lihat budaya Korea yang masuk ke Indonesia. Mulai gaya rambutnya, filmnya, koreografi tarinya, gaya berpakaiannya, semua menjadi trend di pelosok wilayan Indonesia dan dunia. Kita juga bisa menggunakan pendekatan budaya untuk meningkatkan daya saing dan persatuan,” kata Khofifah.

Mantan menteri di era pemerintahan Presiden Gus Dur ini mengatakan dengan kondisi zaman yang berubah pesat, perlu dicari format baru yang sapat menjadi perekat dan penguat persatuan anak muda zaman sekarang.

“Untuk itu para guru dan pendidik, perlu menggali lebih jauh budaya-budaya lokal untuk kemudian dikemas secara estetik agar anak muda ini memiliki rasa memiliki dan kebanggaan terhadap kekayaan negerinya sendiri. Maka yang namanya kids zaman now bukan mereka yang mengagungkan budaya luar, namun berarti anak-anak muda yang menghargai nilai-nilai budayanya sendiri, menjunjung tinggi dan merawatnya demi keutuhan bangsanya sendiri,” kata Khofifah.