Pemerintah melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau periode kemarau pertama akan dialami di Pesisir Sumatera bagian Tengah dan Kalimantan bagian Barat, serta adanya potensi meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau.

Peta analisis hari tanpa hujan berurutan di wilayah Sumatera menunjukkan beberapa tempat di pesisir timur Aceh, Sumatera Utara dan Riau terindikasi mengalami hari kering berurutan 6 – 20 hari (kategori pendek dan menengah). Di Riau, hari tanpa hujan kategori panjang (21 – 30 hari) telah terjadi di Rangsang, Rangsang Pesisir, dan daerah Tebing Tinggi.

Menurut Kepala BMKG, Dr. Dwikorita Karnawati, berdasarkan citra satelit, terpantau hotspot per provinsi 10 hari terakhir terdapat peningkatan titik panas di wilayah Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Tengah. Sementara untuk wilayah Riau, Sumatera Utara, dan Gorontalo, jumlah titik panas tergolong stabil.

Tentunya, imbuh Dwikorita, potensi ini memicu terjadinya karhutla di wilayah Sumatera dan Kalimantan Timur.

Sebagai langkah kesiapsiagaan BMKG, Dwikorita melakukan koordinasi dengan UPT BMKG di wilayah Riau untuk meningkatkan mitigasi dampak resiko dari karhutla, mengingat adanya SK Gubernur yang menyatakan kantor Stasiun Meteorologi SSK II Pekanbaru masuk ke dalam Tim Respon Cepat sebagai koordinator analisis data.

Lebih lanjut, Dwikorita berharap BMKG Pekanbaru lebih rutin menginformasikan kondisi cuaca serta titik-titik hotspot melalui WAG PUSKODALOPS dan 17 WAG lainnya.

“Perlu digencarkan penyebaran informasi melalui kanal media baik media massa khususnya elektronik maupun media sosial”, lanjut Dwikorita.

“Kita harus meningkatkan kualitas baik dalam penyampaian informasi, serta sebagai pelaku penggerak agar Tim Respon Cepat (TRC) dapat melakukan tindakan sedini mungkin guna meminimalkan korban dan dampak risiko karhutla”, tambah Dwikorita.

 

Perkuat Mitigasi

Kepala BMKG bersama kepala BNPB, kepala BPPT, Gubernur Riau, Bupati Bengkalis, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Badan Restorasi Gambut, Dandim, Kapolres, Kalaksa, dan BBBD, melakukan koordinasi untuk memperkuat mitigasi dalam penanggulangan potensi karhutla di Provinsi Riau.

“Pada kegiatan ini dilakukan launching teknologi modifikasi cuaca, rapat koordinasi kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman karhutla di Kabupaten Bengkalis, dan meninjau posko siaga bencana karhutla di Kabupaten Bengkalis”, ungkap Dwikorita.

Selanjutnya, Dwikorita menuturkan, pada Agustus 2018 lalu, Wakil Presiden RI telah melaunching Geohotspot 4.0. Geohotspot ini, imbuh Dwikorita, menggunakan satelit Himawari yang dilengkapi satelit Tera Aqua yang mendukung informasi hotspot.

Dengan geohotspot, sambung Dwikorita, data penyajian informasi hotspot yang sebelumnya hanya bisa diupdate setiap 6 jam dan baru bisa disampaikan setelah 24 jam, saat ini bisa diupdate menjadi setiap 10 menit sehingga informasi terkait hotspot dapat disampaikan secara real time.