Melalui situs www.joinkandidat.com perusahaan dan pencari kerja bisa secara cepat menemukan titik temu dalam hal perekrutan dan pencarian tenaga kerja.

Terobosan baru dalam perekrutan dan pencarian tenaga kerja diluncurkan di Jakarta, Rabu (10/5/2017). CEO joinkandidat.com  Adistya mengatakan, portal ini akan mengakomodir  para pencari kerja dengan biaya murah.  “Siapapun yang meng-upload juga akan mendapat jaminan kerja.” ungkapnya.

Dari sisi pencari kerja, proses pencarian melalui portal ini berbeda dengan proses lowongan kerja di media massa. Bahkan berbeda dengan di job portal atau job fair . Pada platform di atas, calon tenaga kerja harus mengirimkan lamaran, CV, foto untuk setiap perusahaan yang ingin dimasuki. Sementara dalam joinkandidat, calon tenaga kerja cukup mengisi aplikasi.

Perbedaan lain adalah soal segmentasi pencari kerja. Media massa dan job portal menyasar golongan pencari kerja menengah ke atas. Sementara joinkandidat lebih fokus untuk pencari kerja menengah ke bawah. “Jadi mereka yang droup out, nggak punya ijazah, solusinya ada di joinkandidat,” tandas Adis.

Dari sisi perusahaan, mereka tinggal mendaftar dan melakukan verifikasi menggunakan password dan lantas mengisi pilihan pada isian kebutuhan tenaga kerja. Misalnya: posisi yang dibutuhkan, pendidikan, term waktu (tetap/kontrak), dan besaran upah. Sesudah itu dengan meng-klik search maka akan muncul nama kandidat. Dari sini perusahaan bisa langsung memilih untuk dilakukan wawancara.

Panggilan wawancara bisa langsung lewat aplikasi ini juga dan kandidat akan mendapatkan notifikasi. “Sangat sederhana dan hemat,” tandas Adis.

Menteri Tenaga Kerja M Hanif Dhakiri menilai aplikasi ini sangat  menarik karena merupakan terobosan anak bangsa untuk memberikan akses yang lebih baik pada pasaran kerja dan yang dikhususkan pada mereka yang middle low.

“Selama ini aplikasi pasar kerja kebanyakan untuk  middle up. Boleh dibilang ini pertama kali sehingga kementerian men-support,” ungkapnya.

Menurut Hanif, aplikasi ini penting karena 60% dari tenaga kerja pada tahun 2017 yang sebesar 131 juta, 60 % nya  masih didominasi oleh lulusan SD dan SMP. Lulusan SD dan SMP yang berumur 15 tahun umumnya aksesnya terbatas. “Mau kerja nggak punya keterampilan, mau masuk sekolah politeknik nggak punya ijazah. Mau usaha nggak punya modal. Jadi terbatas,” ungkap Hanif.

Kondisi tersebut memunculkan dua kemungkinan. Pertama, tenaga kerja tersebut  masuk ke industri padat karya. Mereka umumnya terjebak di situ dan nggak bisa bergerak ke atas. Salah satu contoh di industri garmen, ada banyak tenaga yang bertahun-tahun hanya pasang kancing baju. Alhasil, ia  tidak punya karier.

Kedua, pekerjaan yang dilakukan menjadi tidak berkualitas dan pendapatan yang tidak memadai. “Oleh karena itu ini yang membuat kemiskinan ketimpangan semakin lebar. Dengan terobosan portal joinkandidat ini  akan semakin kuat akses yang diberikan kepada mereka yang 60 % SD dan SMP sehingga mereka bisa masuk ke pasar pekerjaan,” jelas Hanif.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf juga menyambut baik kemunculan apps ini, karena dari 16 sub sektor ekonomi kreatif , salah satunya adalah apps. Apalagi sumbangan ekonomi kreatif terhadap PDB sudah Rp 850 triliun. Hasil tersebut karena banyaknya tenaga kerja kreatif, terutama ekonomi kreatif sebanyak 15 juta orang lebih. “Kini kita harus bisa memelihara portal ini, apalagi dengan dukungan Slank  akan dengan cepat mem-buzz awarenenes dari portal ini. Semua orang tahu dengan segera dan segera mendaftar. “