SERANG – Minggu, 10 Desember 2017, Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika menggelar pentas wayang golek di Alun-alun Kabupaten Serang.

Acara seperti ini menjadi terobosan menarik, yakni upaya pemerintah mendekatkan diri dengan masyarakat melalui metode ‘pertunra’ alias pertunjukan rakyat, yang tentunya disesuaikan dengan kultur dan kebutuhan warga lokal.

Di Banten, pertunjukan wayang golek yang dimulai pukul 20.00 WIB hingga tengah malam itu mendatangkan dalang Yogaswara Sunandar Sunarya, keturunan langsung dalang kondang mendiang Asep Sunandar Sunarya.

Yogaswara membawakan lakon ‘Cepot Ngadeg Raja’, kisah seorang biasa yang menjadi pemimpin kerajaan. Lakon ini tak jauh beda dengan kisah wayang kulit ‘Petruk Jadi Ratu’, anak dari Ki Lurah Semar Badranaya dan Nyai Sutiragen dari Kampung Tumaritis, sebuah wilayah bagian dari Kerajaan Amarta yang dikendalikan Pandawa.

Sebelum pentas wayang golek yang dihadiri ratusan warga Serang itu dimainkan,  diselipkan juga beberapa pesan sesuai tema ‘Pembangunan Infrastruktur untuk Mewujudkan Pemerataan’.

Tenaga Ahli Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kemkominfo, Ahmed Kurnia dan Ismail Cawidu serta Agustinus Rahardjo dari Kantor Staf Presiden, menjelaskan berbagai program Presiden Jokowi yang menegaskan konsep ‘Indonesia Sentris’, sesuai bunyi salah satu pasal dalam Nawacita ‘Membangun Indonesia dari Pinggiran dengan Memperkuat Daerah dan Desa dalam kerangka Negara Kesatuan’.

“Tadi pagi saya ada di Papua Barat, di sana warga antusias dengan program dan realisasi kerja Presiden Jokowi. Dari dilantik hingga saat ini, total sudah enam kali Presiden Jokowi berkunjung ke Papua dan Papua Barat,” kata Ismail Cawidu, Tenaga Ahli Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik.

Hal serupa dipaparkan Agustinus Rahardjo dalam konteks lokal. “Tak hanya Papua, tapi juga Banten, khususnya Serang, menjadi perhatian utama Presiden Jokowi. Tak terhitung berapa kali Presiden ke mari, dari Idul Adha tahun lalu, dua kali peringatan HUT TNI, membuka turnamen sepakbola, kunjungan ke pesantren, serta meresmikan berbagai proyek,” ungkap Rahardjo.

Di Banten saat ini sedang berlangsung pembangunan dua waduk, yakni Bendungan Karian dan Sindangheula. Selain itu juga ada beberapa proyek infrastruktur energi yang telah diresmikan presiden, yakni tiga unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa 7, 9 dan 10, berkapasitas total 4 ribu megawatt (MW). Proyek PLTU IPP Jawa 7 berhasil menyerap kurang lebih 10 ribu tenaga kerja. Dari jumlah itu, tiga ribu tenaga kerja di antaranya merupakan penduduk sekitar.

“Waduk Karian itu sudah lama mangkrak, tetapi sejak tahun lalu sudah dibangun kembali. Waduk Sindangheula juga dalam waktu dekat akan difungsikan, untuk mensuplai kebutuhan air baku warga perkotaan hingga ibukota Jakarta. Dampak dari pembangunan bendungan itu juga untuk mengairi sawah seluas 1.000 hektar dan mengendalikan banjir di Serang,” jelas Ahmed Kurnia.

“Tak lupa, jangan mudah terpengaruh berita palsu atau hoaks. Gunakanlah internet secara cerdas. Mari bijak bermedia sosial. Apalagi tahun depan memasuki tahun politik,” itu pesan pamungkas dari Ismail Cawidu dan Agustinus Rahardjo.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan dan Kominfo Kota Serang, Hamsin menyambut baik kegiatan ini sebagai komitmen pemerintah dalam melakukan pemerataan pembangunan di Banten.

Hamsin mengatakan, dalam upaya pemerataan tersebut, Pemkot juga seiring dengan pemerintah pusat melakukan berbagai pembangunan sebagai wujud memberi pelayanan kepada masyarakat.

“Pemkot sudah mengalami peningkatan dalam hal informasi keterbukaan publik, dari peringkat 8 tahun lalu, ditahun 2017 naik jadi peringkat 6 di Banten. Sedangkan dalam rangka menuju Smart City, akan dibangun Gedung Smart Center,” kata Hamsin.

Pada pekan yang sama, berlangsung pertunjukan rakyat serupa di Jombang –menampilkan Emha Ainun Najib dan Kiai Kanjengnya, serta di Tasikmalaya yang dihadiri Menkominfo Rudiantara dan Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki. Sementara di Alun-alun Kabupaten Kendal, Yati Pesek meramaikan kesenian rakyat ‘Srandul’ yang dikombinasikan dengan dialog publik mengenai strategi wirausaha dalam bisnis online.

Penyampaian pembangunan melalui pendekatan kebudayaan menjadi salah satu metode yang harus terus dilanjutkan. Di sini, masyarakat menikmati kebutuhan mereka –kesenian tradisional yang harus terus dijaga dari generasi ke generasi- sembari mendapatkan informasi yang tidak memperkeruh suasana. Tanpa merasa digurui dan dijejali informasi ‘iklan’ yang membosankan.