JAKARTA – Media massa, termasuk radio, harus banyak memberikan ruang kepada masyarakat untuk dapat menyampaikan segala persoalan yang ada. Selain itu, peran penting radio juga dibutuhkan untuk menyalurkan kabar positif dari pemerintah agar dapat sampai di masyarakat dengan benar.

Pernyataan itu disampaikan Deputi IV Kepala Staf Kepresidenan Eko Sulistyo saat menerima kunjungan Direktur Utama Radio Suara Surabaya FM Errol Jonathans, Kamis, 24 Agustus 2017. “Meski kini sudah era sosial media, tapi peran radio dan media konvensional lain tak bisa dilupakan,” kata Eko.

Dalam kunjungan itu, Errol didampingi Komisaris PT Fiskaria Jaya Suara Surabaya Mahesa Akni, Manajer New Media Eddy Prastyo dan tiga reporter yang bertugas meliput di Istana Kepresidenan: Jose Asmanu, Faiz Fajarudin, dan Farid Kusuma.

Errol Jonathans menegaskan, Radio Suara Surabaya berdiri sejak 1983 dan memiliki segmen usia antara 25-40 tahun. “Sejak 1999 kami merambah siaran live streaming, baik audio maupun video,” jelas pengurus pusat Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) ini.

Mengikuti perkembangan teknologi, Radio Suara Surabaya pun berkonvergensi dengan media sosial. Keunggulan lain radio ini yakni basis jurnalis warga (citizen journalist) mencapai 1,1 juta pendengar, yang dengan sukarela melaporkan berbagai peristiwa

terkini, dari kemacetan di jalanan hingga berbagai problema sosial. Tak heran, sebuah koran nasional pernah menulis bahwa Suara Surabaya dianggap berhasil menciptakan ‘kekerabatan sosial’ melalui udara.

“Tercatat kami berhasil menggagalkan lebih dari 30 kali pencurian mobil, yang tercapai berkat kerjasama dengan pendengar dan polisi,” papar alumni Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya itu.

Sebagai media, Suara Surabaya pun menekankan pentingnya memberi solusi pada setiap problema yang disampaikan pendengar. “Bagi kami, bukan saatnya lagi bad news is good news. Berita baik juga harus disampaikan dengan kemasan yang baik,” ungkap Errol.

Sebagai Ketua Dewan Kehormatan Standar Profesional Radio Siaran PRSSNI, Errol menyampaikan bahwa organisasi yang beranggotakan 700 stasiun radio dari Aceh hingga Papua ini siap menjaga kebhinekaan dan Pancasila bersama Presiden Jokowi. PRSSNI berharap, Presiden Jokowi dapat memberikan pesan singkat untuk diudarakan di jaringan radio se-Indonesia sekaligus menggemakan Sumpah Pemuda yang akan memasuki tahun ke-90. “Pesan singkat itu berupa himbauan merawat kebhinekaan dan juga pentingnya mengutamakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan,” urai pria yang baru saja mendapatkan Sertifikat Kompetensi dan Kartu Wartawan Utama Dewan Pers karena dedikasinya sebagai jurnalis sejak 1977 ini.

Di akhir acara, Errol Jonathans memberikan buku ‘Suara Surabaya Bukan Radio’ yang dibalas Eko Sulistyo dengan menyerahkan dua buku karyanya: ‘Joko Way: Cara Memahami Kepemimpinan Jokowi’ serta ‘Jokowi & Trisakti: Amanat Konstitusi untuk Menyejahterakan Rakyat’.