Total jalur kereta api di Pulau Sumatera akan mencapai 1.400 kilometer. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah kini bekerja sama membangun jalur baru dan mereaktivasi jalur lama

 

Kereta api di Pulau Sumatera, sungguh bukan barang baru. Sejak pra-kemerdekaan, di masa pendudukan Hindia-Belanda, pembangunan rel kereta api sudah dilakukan di Aceh (1874), Sumatera Utara (1886), Sumatera Barat (1891) dan Sumatera Selatan (1914). Ketika itu, kereta api selain digunakan untuk mengangkut hasil bumi Nusantara, juga dimaksudkan untuk keperluan militer.

Meskipun sempat dianaktirikan sejak tahun 1970-an, akibat maraknya penggunaan kendaraan umum dan mobil pribadi, kereta api kini ramai-ramai dilirik pemerintah daerah di Sumatera. Apalagi penyebabnya kalau bukan kemacetan yang makin hari makin parah, yang berakibat pada mahalnya biaya pengiriman barang di wilayah ini.

Pembangunan jalan tol yang sudah direncanakan pemerintah pun takkan cukup untuk mengatasi kemacetan ini. Belajar dari pengalaman di Pulau Jawa, semua moda transportasi perlu dibangun secara terintegrasi jika hendak memperlancar pergerakan orang dan barang. Apalagi dibandingkan dengan jalan tol, biaya pembangunan jalur kereta api lebih murah untuk setiap kilometernya.

Pembangunan rel kereta api rata-rata mencapai Rp20 miliar per kilometer, sedangkan jalan tol sekitar Rp120 miliar per kilometer. Namun, ada alternatif lain lagi yaitu reaktivasi jalur kereta api lama –termasuk mengganti rel yang ukurannya sudah berbeda – yang biaya per kilometernya bisa sekitar separuh dari biaya pembangunan rel kereta api baru.

Sebagai bagian dari rencana pembangunan “Indonesia-sentris” yang tidak lagi terkonsentrasi di Pulau Jawa, pemerintah pun mulai gencar membangun infrastruktur perkeretaapian di Pulau Sumatera. Seperti pada hari Rabu 2 Maret 2016, Presiden Jokowi melakukan ground-breaking pembangunan Jalur Ganda Layang kereta api di wilayah Sumatera Utara tepatnya di Km 2+800 antara Stasiun Medan–Stasiun Bandar Khalipah. Pembangunan rel sepanjang ± 8 km yang ini merupakan bagian dari rencana membangun jalur Stasiun Medan-Stasiun Bandara Kualanamu dengan total panjang 27 km.

Pembangunan jalur ini sebetulnya merupakan bagian dari proyek jangka panjang pemerintah yang akan membentangkan rel kereta api dari Banda Aceh sampai Lampung – dari jalur Bireun-Lhokseumawe-Langsa-Besitang hingga ke Rejosari/Km3-Bakauheni. Atas perintah Presiden, proses pembangunannya harus sudah mulai dapat dirasakan dalam waktu dekat. “Kalau nunggu-nunggu, nggak jadi-jadi nanti,” kata Presiden Jokowi. Total panjang jalur kereta api Sumatera mencapai sekitar 1.400 km.

Bagian dari proyek jangka panjang ini juga adalah reaktivasi jalur rel kereta api lintas Binjai-Besitang yang merupakan perbatasan Sumut dan Aceh di Langkat. Jalur sepanjang 85 km ini dibangun kembali dengan biaya Rp640 miliar dari APBN, dan diharapkan selesai pada 2017.

Sejak Juli 2015, 50 dari 85 km rel kereta api Binjai-Besitang, masih sedang dikerjakan. Hingga awal Februari 2016, 10 km di antara jalur itu, yakni Binjai-Kuala Begumit, sudah selesai dipasangi rel. Tahun 2016 diharapkan jalur Binjai-Besitang selesai hingga 80 km.

Selain Binjai-Besitang, masih terdapat jalur-jalur lain yang juga akan direaktivasi, yaitu: Padang Panjang-Bukit Tinggi-Payakumbuh, Pariaman-Naras-Sungai Limau dan Muaro Kalaban-Muaro. Sedangkan untuk di perkotaan, telah ada rencana untuk membangun dalam berbagai bentuk (jalur ganda, elektrifikasi dan jalur baru), masing-masing untuk Medan (Jalur Ganda KA Medan-Araskabu-Kualanamu), Padang (Padang-BIM dan Padang-Pariaman), Batam (Batam Center-Bandara Hang Nadim) dan Palembang (Monorel).

Untuk menciptakan integrasi dengan moda transportasi udara dan laut, sejumlah proyek jalur kereta api telah dipersiapkan untuk dibangun di Bandara Kualanamu Medan, Bandara Internasional Minangkabau Padang, Bandara Hang Nadim Batam dan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang. Lalu di Pelabuhan Lhokseumawe, Pelabuhan Belawan, Pelabuhan Kualatanjung, Pelabuhan Dumai, Pelabuhan Tanjung Api-Api, Pelabuhan Panjang dan Pelabuhan Bakauheni.