Program Tol Laut dan pembangunan bandara menjadi sarana mempererat persatuan dan menggerakkan ekonomi di daerah.

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa ini diingatkan lagi tentang Hari Kebangkitan Nasional. Pesan penting hari istimewa ini adalah tumbuhnya kesadaran akan ke-Indonesiaan. Keinginan untuk bersatu melewati sekat perbedaan agama, suku, dan ras.

Kini, setelah 108 tahun sejak Kebangkitan Nasional itu disuarakan, pesan kesadaran itu masih sangat relevan. Bukan dengan mengumandangkan slogan, namun mengisinya dengan aksi nyata. Dalam Nawacita ke -3 pemerintah telah mencanangkan membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan.

Tol Laut adalah salah satu alat untuk mewujudkan Nawacita ke-3. Melalui Tol Laut pelabuhan-pelabuhan yang ada di daerah terpencil, khususnya Indonesia Timur bisa terhubung dengan simpul pelabuhan utama. Jaringan pelabuhan tersebut dilalui kapal secara tetap dan teratur dengan pola subsidi.

Manfaat dari pelayaran regular ini adalah bergeraknya sektor-sektor ekonomi domestik, meningkatnya produktivitas rakyat, dan meningkatkan kualitas hidup.

Dalam tahun 2015, Tol Laut telah mencapai kemajuan yang patut dibanggakan. Untuk program peningkatan kapasitas pelayanan. Berhasil diselesaikan pembangunan pelabuhan di 35 lokasi, peningkatan kapasitas pelabuhan 6 lokasi, pengadaan 85 unit peralatan bongkar muat, 86 trayek rute perintis, pengoperasian 1 unit kapal ternak, dan 95 unit kapal perintis.

Selanjutnya tahun 2016 akan diteruskan pembangunan pelabuhan di 89 lokasi, peningkatan kapasitas pelabuhan 6 lokasi, pengadaan peralatan bongkar muat 26 unit, rute perintis 96 trayek, freight liner Pelni 6 trayek, kapal ternak 5 unit, dan pembangunan kapal perintis 95 unit.

Bila dilihat dari pembangunan dan revitalisasi pelabuhan, bisa dikatakan Program Tol Laut adalah wujud nyata pembangunan yang Indonesia Sentris. Dari 91 pelabuhan non komersial yang diselesaikan pada tahun 2015, hanya 7 pelabuhan di Sumatera, 2 di Jawa, 2 di Kalimantan, sementara 80 sisanya berada di kawasan Timur Indonesia.

Soal trayek, dari 6 trayek Tol Laut yang sudah direncanakan, 5 trayek sudah jalan. Trayek 1 -3 berangkat dari Tanjung Perak. Trayek 4 berangkat dari Tanjung Priok, dan trayek 5 berangkat dari Makassar.

Selain Tol Laut, pembangunan dan pengembangan bandara juga gencar dilakukan. Pada 23 Maret 2016 Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, meresmikan Bandar Udara Internasional Juwata di Tarakan, Kalimantan Utara.

Terkait dengan pengembangan Bandara Internasional Juwata yang telah diselesaikan Kementerian Perhubungan, Jokowi menyatakan bandara tersebut bakal menjadi prasarana yang mengkoneksikan provinsi-provinsi di sebelah utara Pulau Kalimantan. Bahkan, bandara ini pun siap menjadi hub internasional yang menghubungkan Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Brunei.

Menteri Perhubungan Ignasius Jonan juga meresmikan Terminal Penumpang Bandara Matahora di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Minggu (8/5). Bandara kelas III ini memiliki wajah baru dengan tampilan terminal penumpang yang megah dan modern, serta ditunjang dengan fasilitas yang lebih lengkap baik di sisi darat maupun sisi udara .

Pengembangan Bandara Domine Eduard Osok (DEO) di Kota Sorong, Papua Barat juga telah selesai seluruhnya pada Maret 2016 dan diresmikanpada 30 Maret 2016. Pada peresmian Bandara DEO tersebut sekaligus dilakukan peresmian Bandara Mopah Merauke secara simbolis.

Pengembangan Bandara Djalaludin Gorontalo juga sudah selesai. Pengembangan sisi udara berupa apron yang semula berukuran 230 x 80 m menjadi 130 x 291 m. Selain itu, landasan pacu pacu Bandara Djalaluddin berukuran 2.500 m x 45 m dan akan diperpanjang menjadi 3.000 m x 400 m pada 2019.

Pembangunan infrastruktur yang fokus di wilayah Timur Indonesia merupakan wujud nyata dari program Nawacita Presiden Joko Widodo. Diharapkan dengan pengembangan Bandara Sorong dan Merauke, pembangunan makin merata dan mengecilkan disparitas harga antara wilayah Barat dan Timur.