Pembangunan Papua bukan cuma simbol untuk kawasan Timur Indonesia, melainkan simbol awal terwujudnya mimpi seluruh anak bangsa

Dalam catatan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, Dan Transmigrasi (PDT), masih terdapat sekitar 183 kabupaten yang dikategorikan Daerah Tertinggal di Indonesia. Daftar yang sudah dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 tersebut, sebagian besarnya, sekitar 70%, berada di kawasan Timur Indonesia.

Daerah-daerah tersebut masuk dalam kategori Daerah Tertinggal, terutama karena 5 faktor. Pertama, secara geografis sulit dijangkau. Kedua, kurang memiliki potensi sumber daya alam. Ketiga, tingkat pendidikan dan ketrampilan sumber daya manusianya masih relatif rendah. Keempat, sarana dan prasarananya kurang memadai. Kelima, daerah tersebut terisolasi, rawan konflik dan rawan bencana.

Intervensi manusia atau program yang paling memungkinkan untuk memajukan daerah-daerah tersebut tentunya yang terkait dengan pembangunan sarana dan prasarana serta pembangunan manusianya. Adapun untuk hal-hal yang terkait dengan keadaan alam, ada yang dapat dijangkau melalui pembangunan infrastruktur. Tapi, tentu ada juga yang tidak.

Di atas semua itu, pembangunan daerah tertinggal – yang pasti membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit – mensyaratkan komitmen para pemimpin untuk menjalankannya dengan sepenuh hati. Pembangunan daerah atau kawasan tertinggal, jelas berbeda dengan pembangunan di kawasan yang sudah memiliki infrastruktur – dalam kacamata bisnis, tempat-tempat ini jauh lebih menguntungkan, baik dari segi efisiensi biaya maupun pasar yang sudah tersedia.

Visi-Misi Nawacita sudah jelas mengenai pembangunan kawasan Timur Indonesia. Komitmen itu adalah untuk “melakukan pemerataan pembangunan antar wilayah: antara Jawa dengan luar Jawa, antara wilayah Indonesia Barat dengan wilayah Timur Indonesia, antara Kota dengan Desa.” Perimbangan pembangunan kawasan, dilakukan antara lain, dengan “meningkatkan pembangunan berbagai fasilitas produksi, pendidikan, kesehatan, pasar tradisional dan lain-lain di pedesaan, daerah terpencil dan tertinggal.”

Dan inilah yang dengan segala daya dan upaya sedang dilakukan pemerintahan Jokowi-JK saat ini. Di Papua, pemerintah bekerja keras membangun jalan, bandar udara, sentra produksi, pasar dan kawasan wisata – beberapa di antaranya sudah mulai beroperasi – dengan tujuan mengakselerasi konektivitas, kemajuan serta kesejahteraan dan perdamaian di wilayah ini.

Salah satu yang sudah hampir rampung adalah Bandar Udara Domine Eduard Osok di Sorong. “Saya mengecek dan 99 persen selesai,” ucap Presiden Jokowi saat mengunjungi bandara baru tersebut pada tanggal 31 Desember 2015. Bandara yang biasanya hanya mampu menampung sekitar 700 ribuan penumpang ini, kelak saat diresmikan pada bulan Februari 2016 mendatang akan dapat melayani hingga 2,4 juta penumpang.

Untuk pembangunan jalan darat, Presiden Jokowi menargetkan seluruh jalan darat di Papua sudah bisa selesai dan terkoneksi pada tahun 2018. Khusus untuk jalur Wamena-Mumugu sepanjang 278 kilometer yang menghubungkan berbagai kabupaten di Pegunungan Tengah Papua, targetnya lebih cepat lagi. “(Tahun) 2016 harus sudah dibuka. Tidak bisa ditawar lagi,” kata Presiden saat mengunjungi Kabupaten Nduga di pagi hari tanggal 31 Desember 2015.

Dalam kacamata pemerintah, Papua bukan cuma simbol bagi pembangunan kawasan Timur Indonesia. Papua adalah simbol untuk mengawali terwujudnya mimpi seluruh anak bangsa. “Impian kita bersama, satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa… Menjadi tugas kita untuk menjadikan impian-impian itu terwujud. Apa yang kita lakukan hari ini adalah warisan untuk generasi di depan kita,” ujar Presiden Jokowi saat meresmikan Monumen Kapsul Waktu di Merauke, Papua, pada tanggal 30 Desember 2015.

“Saya yakin dengan kerja bersama, dengan semangat gotong royong, kita mampu memenuhi impian kita, kita mampu mewujudkan impian kita,” lanjut Presiden.