Kereta api pernah mengalami kejayaan dan kemunduran – kalah bersaing dengan mobil pribadi. Kini, demi konektivitas dan daya saing, jalur-jalur lama kembali direaktivasi

Dari jaman ke jaman, kereta api memiliki fungsi yang tak tergantikan. Di masa pendudukan Hindia-Belanda, kereta api merupakan sarana transportasi yang efektif untuk mengangkut hasil bumi dari berbagai daerah dan juga untuk keperluan militer.

Di Indonesia jalur kereta api dibangun pertama kalinya di Semarang dan groundbreaking dilakukan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Mr. L.A.J. Baron Sloet Van Den Beele pada tanggal 17 Juni 1864. Pembangunan jalur atau rel kereta api tersebut diprakarsai oleh Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NV. NISM) dan pelaksanaan pembangunan dipimpin oleh Ir. J.P de Bordes mulai dari Kemijen, Semarang, Jawa Tengah menuju Desa Tanggung, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Pada tanggal 10 Februari 1870 NV. NISM berhasil menghubungkan Kota Semarang hingga Surakarta dengan jarak sekitar 110 KM. Setelahnya, pembangunan rel kereta api tidak hanya dilakukan di Pulau Jawa, tapi juga di beberapa daerah. Di antaranya, Aceh Tahun 1874, Sumatera Utara Tahun 1886, Sumatera Barat Tahun 1891, Sumatera Selatan Tahun 1914 dan selanjutnya Sulawesi pada tahun 1922.

Sampai dengan tahun 1939, panjang kereta api di Indonesia telah mencapai 6.811 kilometer. Namun ketika dilakukan pengukuran kembali di tahun 1950, panjangnya telah berkurang menjadi 5.910 kilometer yang disebabkan karena Jepang membongkarnya untuk keperluan pembangunan rel kereta api di Burma. Pembongkaran ini terjadi di masa pendudukan Jepang yang berlangsung antara tahun 1942 hingga 1943.

Di masa kemerdekaan, kereta api menjadi transportasi yang cukup diandalkan, terutama di tahun 1950-an yang ditandai dengan transisi dari era lokomotif Ufa ke lokomotif Diesel. Pada tahun 1955, lokomotif Diesel CC200 dari Amerika Serikat menjadi andalan untuk mengangkut rombongan Konferensi Asia-Afrika di Kota Bandung.

Kemunduran perkeretaapian terjadi secara bertahap sejak tahun 1970-an dengan makin maraknya penggunaan angkutan umum dan mobil pribadi. Selama lebih dari 20-an tahun, kemudian kereta api hidup dalam subsidi. Perubahan baru terjadi ketika Perusahaan Jawatan Kereta Api berubah menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka), yang mulai membolehkan untuk mencari laba di tahun 1991. Di tahun 1999, Perumka berubah menjadi PT Kereta Api (PT KA).

Dengan meningkatnya kemacetan di berbagai kota besar, kereta api pun kembali dilirik. Bersamaan dengan itu transformasi terjadi di tahun 2010. PT KA kembali berubah menjadi PT Kereta Api Indonesia (PT KAI).

Di masa pemerintahan Jokowi-JK, kereta api mendapat tempat yang cukup sentral untuk menciptakan konektivitas antar wilayah dan daya saing bagi perekonomian nasional. Dalam kunjungan kerjanya ke Aceh Sumatera Utara dan Sumatera Selatan awal Maret 2016, Presiden Jokowi melakukan groundbreaking pembangunan jalan layang kereta api di Kota Medan yang merupakan perlintasan Medan-Kualanamu. Presiden juga meninjau pelaksanaan reaktivasi jalur kereta api trans Sumatera yaitu Stasiun Binjai dan Stasiun Besitang sepanjang 80 kilometer.

“Biaya transportasi, logistik di Indonesia masih 2-2,5 kali lipat daripada negara tetangga, baik Singapura maupun Malaysia dan negara tetangga lainnya. Artinya jika infrastruktur tidak dibangun, jangan berharap produk kita, komoditas kita, barang-barang kita bisa bersaing dengan negara-negara tetangga,” kata Presiden saat itu.

Melalui Kementerian Perhubungan reaktivasi jalur kereta api akan dilakukan di Jawa dan Sumatera. Di Jawa akan dilakukan di Stasiun Tawang-Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. Lalu, Wonosobo-Purwokerto, Tuntang-Kedung Jati, Solo-Wonogiri, Ambarawa-Magelang Yogyakarta dan beberapa daerah di Jawa Barat dengan jalur Rancaekek-Tanjungsari, Sukabumi-Cianjur-Padalarang, Bandung-Kiaracondong, Padalarang-Cicalengka dan selanjutnya Cikampek-Tanjungrasa serta Bekasi-Cikarang.

Di Sumatera, reaktivasi dilakukan di jalur Binjai-Besitang, Padang Panjang-Bukit Tinggi-Payakumbuh, Pariaman-Naras-Sungai Limau dan Muaro Kalabn-Muaro.