Kata kunci untuk konsep “Indonesia Sentris” adalah koneksitas di antara seluruh rakyat Indonesia. Koneksitas  akan menciptakan ruang untuk memaknai kembali kebangkitan nasional.  

Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, memaparkan bahwa kebijakan pembangunan “Indonesia Sentris” dari Presiden Jokowi dalam platform kebudayaan adalah sebuah upaya membangun koneksitas diantara seluruh bangsa Indonesia. Keterhubungan atau konekstitas itu sangat penting dan mendasar terkait keutuhan identitas bangsa Indonesia. Ini merupakan konsep ke-indonesia-an yang selama ini masih ter-fragmentasi karena berbagai kendala, baik itu kendala politik, budaya, ekonomi maupun infrastruktur.

Presiden Jokowi sangat memahami hal-hal yang mendasari gagasannya tentang “Indonesia Sentris” dan itu tercermin dengan jelas dalam butir-butir Nawacita. Pada saat yang sama, dibutuhkan langkah-langkah awal yang kongkrit untuk membangun koneksitas atau keterhubungan di antara seluruh wilayah Indonesia. Menurut Hilmar Farid, yang dilakukan Presiden Jokowi sekarang adalah membuka ruang-ruang bagi terjadinya perubahan. Dan sekarang pilihannya adalah menciptakan ruang fisik bagi terjalinnya keterhubungan itu. Pembangungan yang selama ini terfokus dan terkonsentrasi di Pulau Jawa kini memasuki ruang perubahan menuju apa yang digaungkan sebagai Indonesia Sentris.

Jadi pembangunan infrastruktur harus dilihat dalam konteks yang lebih utuh, yaitu upaya menyatukan dan memperkuat identitas bangsa sebagai satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air. Inilah perspektif sebagai sebuah strategi kebudayaan. Sebuah upaya membangun kembali kebangkitan nasional Indonesia dalam era kekinian. Bukan semata-mata sebuah upaya mengubah orientasi pembangunan belaka. Indonesia Sentris adalah konsep yang mencakup gagasan kebangkitan nasional dan persatuan Indonesia untuk bersama-sama mensejahterakan bangsa.

Dalam konteks pembangunan infrastruktur yang dititikberatkan dari daerah pinggiran dan daerah terluar Indonesia, kebijakan pemerintah memang merupakan koreksi terhadap kebijakan pembangunan yang selama periode sebelum era Presiden Jokowi terkonsentrasi di Pulau Jawa dan daerah di luar Jawa kurang mendapat perhatian. Daerah luar Jawa seolah didiskriminasi pada masa lalu, maka kini adalah saatnya daerah luar Jawa menjadi prioritas. Pemerintah berusaha meningkatkan produktivitas, daya saing dan kesejahteraan masyarakat di luar Jawa melalui berbagai program pembangunan.

Dan itu bukan berarti kebijakan yang diskriminatif melainkan objektif dan proporsional. Hilmar Farid mengatakan bahwa masyarakat sekarang sudah jauh lebih kritis dalam melihat dan memahami kebijakan-kebijakan pemerintah. Karena  itu masyarakat bisa melihat secara lebih objektif dan proporsional. Namun secara kultural memang masih ada salah kaprah, mispersepsi dan misleading dalam hubungan antara pemerintah dan warga masyarakat sebagai akibat dari konstruksi masa lalu.

Di tangan Presiden Jokowi, semua hal-hal rumit dari warisan masa lalu berhasil diurai dan diterjemahkan secara tepat lalu dijawab melalui berbagai kebijakan dan program kontekstual. Inilah modal dasar untuk memaknai kembali kebangkitan nasional di era baru Indonesia. Konsep “Indonesia Sentris” sangat erat kaitannya dengan makna kebangkitan nasional yang harus terus menjadi semangat dalam berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.