Dengan jumlah penduduk  muslim terbesar di dunia, toleran, dan dasar negara Pancasila, Indonesia bisa menjadi role model dalam memajukan negara-negara OKI. 

Peran sentral Indonesia pada Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (KTT OKI) digelar di Jakarta 6-7 Maret 2016 lalu di Jakarta ternyata diperhitungkan. Sebulan sesudahnya, Rabu (6/4/2016), Dubes Luar Biasa dan Berkuasa Penuh  RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel menyampaikan  secara resmi surat kepercayaan kepada Sekjen OKI, HE Iyad Ameen Madani di Markas Pusat OKI Jeddah. Peristiwa tersebut menandai, sejarah baru. Untuk pertama kali setelah 47 tahun, Indonesia  memiliki Wakil Tetap pada organisasi yang beranggotakan 56 negara dan berdiri sejak 1969 ini.

Sebagai Wakil Tetap tentu Indonesia berperan menggalang kerjasama lebih erat antaranggota atau dengan negara non OKI. Khususnya di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, dan ilmu pengetahuan yang merupakan komitmen organisasi ini. Tanpa melupakan isu utama, soal Palestina.

Modal dasar Indonesia ada pada nilai-nilai keberagaman dan toleransi yang dijunjung tinggi. Melalui “kekayaan” tersebut, perbedaan agama, suku, dan ras bukanlah alangan untuk bersatu dan bekerjasama.

Negeri ini juga dikenal dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, masyarakat yang toleran, dan  berdasar negara Pancasila.  Indonesia bisa menjadi model berbangsa dan bernegara, di tengah isu  keberagaman suku, agama, dan ras.

Pengalaman Indonesia dalam mengelola keberagaman bisa menjadi  contoh, terutama untuk negara-negara OKI sendiri yang belakangan terseret ke dalam konflik sektarian mencabik-cabik  persatuan.

Bila dirunut ke belakang, sebagai anggota OKI Indonesia telah memberi masukan konstruktif bagi kemajuan organisasi, termasuk isu Palestina. Misalnya dengan selalu memberi dukungan bagi berdirinya Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya. Realisasinya berupa dukungan diplomatik. Berupa pengakuan terhadap keputusan Dewan Nasional Palestina untuk memproklamasikan Negara Palestina pada 15 November 1988.

Selain itu Indonesia juga bisa berbagi pengalaman dalam penanggulangan terorisme. Salah satunya dengan pendekatan lunak. Deradikalisasi adalah salah contoh mengembalikan pemahaman sesat ke jalan yang benar. Meski butuh ketelatenan dan waktu lama, program ini memberikan hasil yang lebih permanen. Bahkan, mereka pernah terlibat dalam terorisme bisa menderadikalisasi teman seperjuangan.

Dalam prespektif Nawacita, posisi Wakil Tetap Indonesia di OKI ini menjadi langkah nyata mewujudkan butir Nawacita 1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara melalui politik luar negeri bebas aktif.