Kerjasama dengan Inggris dan Belanda melawan terorisme merupakan tantangan bagi Indonesia untuk tampil di lini depan pemberantasan terorisme tingkat dunia yang harus terus ditangkal.

Dalam lawatan Presiden Jokowi ke 4 negara Eropa, 19-23 April 2016, salah satu agenda kerjasama penting yang diemban Presiden adalah membangun kerjasama counter terrorism atau kerjasama menangkal terorisme. Negara yang masuk dalam daftar agenda kerjasama counter terrorism adalah Inggris dan Belanda.

Jauh sebelumnya, Lembaga Pendidikan Polri dengan Dewan Eksekutif Akademi  Kepolisisan Belanda telah menandatangani  LoA  kerja sama pelatihan kepolisian pada tanggal 14 Desember 2012. Kerjasama kepolisian kedua negara dilakukan di bidang penanggulangan terorisme melalui  Jakarta Centre for Law Enforcement Cooperation (JCLEC). Pemerintah Belanda sendiri telah meresmikan pembentukan International Center for Counter Terrorism (ICCT) di Den Haag.

Dua tahun kemudian, Indonesia dan Belanda bersama dengan Inggris dan Australia menyelenggarakan Workshop on Foreign Terrorist Fighters  (FTF) di Bali, 14 Agustus 2014. Kegiatan ini diselenggarakan di sela-sela penyelenggaraan Global Counter-Terrorism Forum Detentian and Reintegration Working Group. Workshop ini menjadi sarana tukar pengalaman dan informasi terkait penanganan isu FTF  di 4 negara tersebut.

Terorisme adalah bahaya laten yang terus mengancam perdamaian dunia melalui berbagai pola serangan yang kerap sangat tak terduga. Dalam kuartal pertama tahun 2016 ini, Paris, Jakarta dan Brussel telah menjadi sasaran terorisme dalam bentuk dan skala yang berbeda. Langkah untuk menangkal terorisme harus dilakukan terus-menerus dalam berbagai skenario. Mulai dari tindakan pencegahan, penanaman nilai-nilai toleransi melalui berbagai jalur, baik itu pendidikan, sosial, kebudayaan maupun agama dan upaya atau program bersama dalam skala yang lebih luas.

Bagi Indonesia, kerjasama menangkal terorisme merupakan tantangan untuk tampil di lini depan pemberantasan terorisme yang selama ini cukup efektif dilakukan pemerintah bersama rakyat. Dari sisi kultural Indonesia mewarisi kearifan lokal yang sarat dengan nilai-nilai pluralisme. Tantangannya adalah bagaimana agar nilai-nilai kearifan lokal ini harus selalu mengakar dalam sistem demokrasi dan budaya masyarakat Indonesia.

Upaya-upaya kerjasama di dunia akademik juga penting untuk turut berperan menangkal terorisme. Kajian-kajian akademik tentang terorisme bisa menjadi landasan untuk membuat berbagai program. Dalam konteks ini, Indonesia sejak 2015 sudah menjalin kerjasama dengan Belgia. Kementerian Agama dan Universitas Katolik Leuven (UKL) Belgia telah menandatangani MoU di bidang Studi Islam, pada 11 Maret 2015. Area kerjasama antara lain, pengiriman Profesor dan ahli di bidang Studi Islam, mengajar di program Master UKL, pertukaran ide dan pengalaman di bidang Studi Islam, dan juga riset bersama.

Perwakilan Kementerian Agama RI, akademisi, dan masyarakat madani Indonesia juga kerap hadir sebagai pembicara dalam berbagai konferensi antara lain Islam and Europe: Politization and Integration bekerja sama dengan lembaga kajian Hans Seidel Stiftung. Lalu hadir juga di Seminar On Indonesia dengan tajuk Multiculturalism and Diversity: the Indonesian Story bekerja sama dengan kelompok politik terbesar di Parlemen Eropa, European People’s Party (EPP) di Brussel. Kedua program dilakukan pada tahun 2013 sebagai bentuk-bentuk upaya dan kerjasama akademik menangkal terorisme.

Dalam rangkaian lawatan Presiden Jokowi ke Eropa, semua langkah yang telah dilakukan sebelumnya itu, akan diperkuat lagi melalui berbagai kerjasama menangkal terorisme, khususnya dengan pemerintah Inggris dan Belanda. Indonesia sebagai Negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia berpotensi besar untuk berperan menangkal terorisme dan menguatkan gerakan Islam toleran.