Di era digital ini, ekonomi kreatif telah menjadi primadona baru yang menerobos pakem lama dalam dunia usaha. Ini menjadi salah satu agenda Presiden Jokowi dalam lawatan ke Inggris.

Ekonomi kreatif adalah sebuah konsep di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan gagasan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi utama. Banyak yang mengadopsi konsep Inggris sebagai tolak ukur ekonomi kreatif di banyak negara, seperti Norwegia, Selandia Baru, Singapura, Swedia dan juga Indonesia.

Kemampuan untuk mewujudkan kreativitas yang diramu dengan seni, teknologi, pengetahuan dan budaya menjadi modal dasar dalam ekonomi kreatif sebagai alternatif perekonomian untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kreativitas akan mendorong inovasi yang menciptakan nilai tambah lebih tinggi dan juga menguatkan citra dan identitas budaya bangsa.

Hal tersebut pernah disampaikan Presiden Jokowi saat membuka acara Temu Kreatif Nasional, di Tangerang Selatan, Banten, Selasa (4/8/2015). Menurut Jokowi “kontribusi ekonomi kreatif pada perekonomian nasional semakin nyata, dan nilai tambah yang dihasilkan ekonomi kreatif juga mengalami peningkatan setiap tahunnya.”

Data Kementerian Perdagangan mencatat, industri kreatif seperti busana muslim di Indonesia telah berhasil memperoleh pangsa pasar di tingkat global dengan nilai ekspor mencapai USD 15,39 miliar pada 2015. Sekitar 30 persen diantaranya adalah busana muslim.

Dalam dialog dengan pelaku industri kreatif, Presiden Jokowi menyatakan keyakinannya tentang potensi besar industri kreatif. Presiden Jokowi juga menyampaikan saat berdialog dengan pelaku industri kreatif, “Saya akan membuat keputusan politik agar di masa yang akan datang ekonomi kreatif bisa menjadi pilar perekonomian kita.”

Pernyataan Presiden Jokowi ditindaklanjuti dengan melakukan kunjungan ke London, Inggris, 19-20 April 2016. Dalam kunjungannya, Presiden Jokowi akan melakukan kolaborasi dalam bentuk beragam aktivitas dan kerja sama antara Republik Indonesia dan Inggris Raya.

“Kunjungan Presiden Jokowi ke Inggris Raya merupakan hal penting bagi pengembangan sektor ekonomi kreatif di Indonesia, karena Inggris merupakan salah satu  tolak ukur untuk sektor ekonomi kreatif,” ujar Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf.

Kolaborasi dan kerja sama yang telah erat ini akan lebih diperkuat serta diwujudkan dalam tindakan dan kegiatan nyata, salah satunya adalah penandatangan MoU (Nota Kesepahaman) yang akan dilakukan di Inggris, merupakan pembaharuan dari MoU sebelumnya agar MoU ini bisa menjadi MoA (Memorandum of Action).

Direktur Kesenian dan Industri Kreatif British Council, Adam Pushkin, juga mengatakan hal ini melanjutkan kolaborasi dua negara dalam bidang Sustainable and Ethnical Fashion dan digital culture. Adam Pushkin juga menginformasikan, untuk pertama kalinya seniman Indonesia akan ambil bagian dalam Digital Design Weekend yang akan diakan di V&A Museum di London pada September 2016.

Landasan kerjasama ini menurut Adam Pushkin adalah hubungan kuat yang terus dibangun oleh industri kreatif kedua negara. Berbagai program yang menyajikan kolaborasi kedua negara untuk publik yang lebih luas dilakukan melalui digital platform atau penggunaan kreatif teknologi digital dan juga film dokumenter.

Kerja sama juga akan menyentuh 16 subsektor lain yang menjadi kewenangan Badan Ekonomi Kreatif, seperti advertising, arsitektur, performing art, konten digital, fesyen, kuliner dan lainnya.

Komitmen Presiden Jokowi dalam memberikan prioritas untuk masyarakat Indonesia adalah perwujudan dari amanah Nawacita pada butir ke enam, yaitu meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional, sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama dengan bangsa-bangsa lainnya.