Dukungan Indonesia terhadap Palestina telah dimulai sejak era Presiden Soekarno. KTT Luar Biasa OKI adalah kesempatan untuk tampil sebagai pemimpin perdamaian mewakili dunia Islam

Indonesia telah dipastikan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang akan membahas masalah Palestina dan Al Quds Al Sharif di Jakarta Convention Centre pada tanggal 6-7 Maret 2016. Keputusan untuk menjadi tuan rumah diambil setelah Palestina dan Sekjen OKI meminta Indonesia menggantikan Maroko yang telah menyatakan ketidaksanggupannya

Terdapat dua agenda besar yang hendak dicapai dalam KTT Luar Biasa ini. Pertama, Final Komunike yang berisi posisi dasar negara-negara OKI terhadap Palestina. Kedua, Deklarasi Jakarta yang berisi rencana aksi penyelesaian isu Palestina dan Al Quds Al Sharif.

Pertemuan ini memiliki nilai penting sebagai bagian dari diplomasi politik luar negeri Indonesia, terutama untuk mengukuhkan peran sentral sebagai negara demokrasi dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia. Posisi yang dapat digunakan untuk terlibat lebih aktif membangun tatanan dunia yang damai, adil dan sejahtera.

Ada sejumlah alasan mengapa Indonesia kini pantas untuk mengambil peran di depan. Pertama, karena komitmen Indonesia terhadap masalah Palestina telah dimulai sejak era Presiden Soekarno yang memberikan izin terhadap pendirian kantor Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Tokoh Pejuang Palestina, Yasser Arafat juga hadir dalam Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung pada tahun 1955, yang ironisnya hingga kini menjadi satu-satunya “peserta” yang belum merdeka.

Komitmen ini kemudian dilanjutkan oleh Presiden Jokowi, dalam Peringatan 60 tahun KAA di Bandung pada tahun 2015 yang berarti mendorong kerja sama Selatan-Selatan untuk mengedepankan isu Palestina. Saat itu Deklarasi Dukungan Kemerdekaan Palestina dikumandangkan oleh seluruh negara peserta. “Kemerdekaan Palestina harus terus diperjuangkan,” kata Presiden Jokowi dalam pidatonya di Gedung Merdeka, Bandung pada tanggal 24 April 2015.

Dukungan terhadap Palestina bahkan telah diberikan oleh “calon presiden” Jokowi dalam debat calon presiden pada pertengahan tahun 2014 dengan menyatakan, “saya akan berjuang keras untuk mendorong kemerdekaan Palestina.”

Indonesia, karenanya memiliki andil besar ketika bendera Palestina akhirnya dapat dikibarkan untuk pertama kalinya di Markas PBB di New York pada tanggal 30 September 2015, meskipun masih dengan status sebagai Observer.

Alasan berikutnya yang mendukung peran kepemimpinan Indonesia adalah komitmen terhadap demokrasi. Ketika wajah Islam dipenuhi narasi tentang tentang terorisme yang menyebar hingga ke berbagai belahan dunia, Indonesia sebagai negara demokrasi dengan mayoritas penduduk muslim bisa menampilkan wajah Islam yang damai.

Sikap tanggap aparat keamanan dan pemerintah untuk mengendalikan situasi berkenaan dengan “Peristiwa Teror di Jalan Thamrin 14 Januari 2016”, ditambah dengan ekspresi keberanian masyarakat untuk menolak teror melalui media sosial, telah mengirimkan sinyal positif pada masyarakat internasional. Bahwa Indonesia dapat berperan penting untuk menciptakan perdamaian dunia.

Wajar jika Presiden AS Barack Obama lantas secara khusus meminta Presiden Jokowi untuk memimpin pembahasan masalah terorisme dalam US-ASEAN Summit pada tanggal 15-16 Februari di California, Amerika Serikat.

Keberpihakan Islam di Indonesia terhadap demokrasi pun sesungguhnya bukan sesuatu yang muncul baru-baru ini saja. Akarnya sudah jauh tertanam sejak pra-kemerdekaan yang ditandai dengan keterlibatan Ormas-Ormas, seperti NU dan Muhammadiyah, untuk bersama-sama mendirikan Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar ’45.

Peran penting Indonesia dalam OKI sudah dimulai pada tahun 1993 ketika menerima mandat sebagai Ketua Committee of Six, yang bertugas memfasilitasi perundingan damai antara Moro National Liberation Front (MNLF) dengan pemerintah Filipina. OKI yang memiliki Independent Permanent Human Rights Commission (IPHC), juga dipimpin oleh tokoh perempuan dari Indonesia, yaitu Siti Ruhaini Dzuhayatin.