Hasil lawatan Presiden Jokowi Ke Uni Eropa, 18-22 April 2106, mencakup berbagai kerjasama penting. Mulai kesepakatan bisnis sampai kesepakatan untuk merajut toleransi demi perdamaian dunia.

Berkat kunjungan Presiden Jokowi ke Jerman, telah ditandatangani sejumlah kesepakatan kerja sama antara perusahaan Jerman dan Indonesia dengan total nilai sebesar US$ 845,6 juta. Antara lain oleh PT Aneka Tambang dgn Ferrostaal, PT Pelni dengan Meyer Werft, PT Pindad dengan Junggans Microtech, dan PT PLN dengan Siemen.

Di Inggris, Presiden menghasilkan sejumlah kesepakatan, yakni MOU on Tertiary Education, MOU Concerning Information and Experience Sharing on Hosting Global Sports Events, Amendment MOU on Creative Industries, dan Implementing Agreement (IA) on Marine Affairs and Fisheries. Tercapai juga kesepakatan bisnis dan rencana investasi perusahaan Inggris di Indonesia dengan nilai total komitmen investasi sekitar USD 19,02 Miliar. Di antaranya adalah Jardine Matheson dengan nilai investasi US$ 7,5 miliar; HSBC dengan nilai investasi US$ 1,2 Milyar; British Petroleum (BP) Tangguh dengan nilai investasi US$ 8 miliar.

Saat di Brussel, Presiden Jokowi menerima Wakil Presiden Komisi Eropa, Federica Mogherini. Presiden menyampaikan apresiasi kerjasama yang telah terjalin baik antara Republik Indonesia (RI) dan Uni Eropa (UE). Presiden juga menyambut baik kesimpulan yang telah dihasilkan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IUECEPA). Sementara Wakil Presiden Komisi Eropa menyampaikan apresiasi atas upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah RI dalam menengahi konflik yang terjadi di Timur Tengah.

Presiden Jokowi juga bertemu dengan Pesiden Parlemen Uni Eropa, Martin Schulz, Kamis, 21 April 2016, di Kantor Presiden  Uni Parlemen Eropa di Brussels. Presiden Jokowi menjelaskan mengenai perkembangan politik dan demokrasi di Indonesia. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia mampu mengembangkan demokrasi dan toleransi. Nilai-nilai ini sangat penting untuk dikembangkan bagi perdamaian dunia. Atas undangan Presiden Parlemen Uni Eropa, Indonesia akan mengirim tokoh dialog antar agama dalam acara yang akan diselenggarakan Parlemen Eropa.

Presiden Jokowi dan Presiden Parlemen Uni Eropa sepakat mengenai pentingnya peningkatan kerjasama antara Parlemen Indonesia dengan Parlemen Uni Eropa dan rencana pembentukan persahabatan parlemen Indonesia dan Uni Eropa.

Indonesia merupakan negara pertama di Asia Tenggara yang memiliki Partnership and Cooperation Agreement (PCA) dengan Uni Eropa. “Indonesia siap melakukan negosiasi dalam konteks CEPA (Comprehensive Economic Partnership Agreement). Ini merupakan signal kuat yang dikirim Indonesia ke dunia internasional mengenai competitiveness dan ekonomi Indonesia yang terbuka,” kata Menlu Retno Marsudi saat kunjungan Presiden ke Belgia, 21 April 2016.

Dengan skema CEPA ini, diharapkan perdagangan akan semakin meningkat dan menguntungkan kedua belah pihak. Selain CEPA, dibahas juga masalah Forest Law Enforcement Governance and Trade (FLEGT). Ini adalah suatu upaya agar produk kayu dari Indonesia semuanya dapat memperoleh lisensi.