Dengan jumlah penduduk 502 juta orang, Uni Eropa (UE) bisa menjadi mitra bisnis potensial untuk menjajakan produk-produk unggulan, melalui kerjasama bisnis dalam rangka memperkuat fondasi perekonomian nasional.

Secara umum kunjungan Presiden Jokowi ke UE menyasar 2 hal penting. Pertama, meningkatkan kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan. Kedua, kerja sama memerangi ekstremisme dengan mengedepankan budaya toleransi.
Dalam kerja sama ekonomi, geliat pembangunan infrastruktur dan maritim yang sedang digenjot oleh pemerintah Indonesia bisa menjadi jalan masuk para investor Uni Eropa untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Pertumbuhan perekonomian UE yang lesu, hanya mencapai 1,5% dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 3,1% pada tahun 2015, merupakan momentum tepat bagi pemerintah Indonesia untuk menarik para pemilik modal dari Uni Eropa menanamkan modalnya di Indonesia.

Apalagi, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2015 pada angka 4,76% dan ditargetkan akan terus meningkat diatas 5% di tahun 2016 menjadi daya tarik tersendiri bagi para investor.

Pada tahun 2015, nilai perdagangan Indonesia-UE mencapai 26,4 miliar USD. Uni Eropa merupakan mitra ke-4 terbesar Indonesia dalam perdagangan luar negeri. Di bidang investasi, UE berada pada posisi ke-3 terbesar, dengan nilai mencapai 2,26 miliar USD.

Di sektor pariwisata, kunjungan wisatawan dari UE ke Indonesia menembus satu juta orang. Sebagai contoh, Jerman termasuk pasar potensial. Meskipun jumlahnya baru 180.865 orang, mereka termasuk royal, dengan rata-rata pengeluaran sekitar USD 1.439,07.

Selain itu, UE merupakan pasar ekspor non-migas terbesar bagi Indonesia, sehingga jika pasar itu dibuka lebih luas lagi, tentu bisa mendatangkan keuntungan yang lebih tinggi. Pada tahun 2015 nilai perdagangan bilateral dengan Jerman mencapai 6,1 miliar USD, Belgia 1,67 miliar USD, Belanda 4,22 miliar USD, dan Inggris 2,55 miliar USD.
Secara umum terjadi penurunan nilai perdagangan bilateral dari tahun 2010-2015. Tetapi dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih dari 5 persen pada 2016 dan pulihnya ekonomi UE, nilai perdagangan diprediksi akan meningkat.

Selain itu, Indonesia merupakan Negara pertama di Asia Tenggara yang memiliki Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan UE. Kunjungan Presiden Jokowi ke UE bertujuan untuk membicarakan lebih lanjut terkait hubungan perekonomian Indonesia dan UE agar memberikan manfaat dan keuntungan bagi rakyat Indonesia maupun UE.

Jika kesepakatan perdagangan bebas dengan UE dapat tercapai, salah satu keuntungan yang akan didapatkan adalah produk ekspor dari Indonesia hanya dikenakan tarif bea dan cukai saja. Sehingga, kesempatan memperluas pasar bagi produk-produk Indonesia di UEa akan sangat terbuka lebar. Beberapa produk yang menjadi unggulan ekspor Indonesia ke UE diantaranya adalah kopi, kakao, sawit, produksi hasil laut seperti udang, serta produk-produk alas kaki.

Perdagangan bebas dengan UE harus dibedakan dengan perdagangan bebas Indonesia dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Sebab, produk-produk ekspor dari UE ke Indonesia memiliki kualitas diatas rata-rata produk dalam negeri dan memiliki harga jual yang lebih tinggi sehingga tidak terlalu mengganggu produksi dalam negeri.
Justru kesempatan ini harus dimanfaatkan oleh para pelaku usaha Indonesia untuk meningkatkan kualitas produk dan sumber daya manusia (SDM) melalui transfer teknologi dan ilmu pengetahuan dari hasil-hasil produk UE.

Posisi tawar Indonesia saat ini yang sangat bagus, melalui kerja nyata dengan terus bergeliat membangun infrastruktur, serta kebijakan-kebijakan dalam sektor maritim dapat menjadi peluru utama dalam negosiasi perjanjian kerjasama perekonomian Indonesia-Uni Eropa. Hubungan perekonomian yang berkeadilan menjadi landasan utama dalam misi kerjasama perekonomian yang dibawa Presiden Jokowi dalam kunjungannya ke Uni Eropa.