<style type="text/css"> .wpb_animate_when_almost_visible { opacity: 1; }</style>

Istana Negara

Istana kepresidenan di Jakarta terdiri dari dua bangunan utama yang disebut Istana Negara dan Istana Merdeka. Kedua istana ini merupakan dua buah bangunan utama yang luasnya 6,8 dan terletak di antara Jalan Medan Merdeka Utara dan Jalan Veteran, serta dikelilingi sejumlah bangunan yang sering digunakan kegiatan kenegaraan.

Posisi Istana Merdeka menghadap ke Taman Monumen Nasional (Jalan Medan Merdeka Utara), dan Istana Negara yang menghadap ke Sungai Ciliwung (Jalan Veteran). Kedua bangunan itu berada di kawasan yang dimasa lalu bernama Weltervreden (dalam bahasa Belanda berarti ”sangat memuaskan”)’ Kawasan ini dihuni para elit pejabat dan pengusaha Belanda dengan rumah-rumahnya yang besar (loji). Weltervreden adalah kawasan yang tertata cantik dengan pohon-pohon yang dipangkas rapi seperti di taman-taman Eropa.

Gedung Istana Negara berumur lebih tua dan mulai dibangun pada 1796 masa pemerintahan Gubernur Jenderal Pieter Gerardus van Overstraten dan selesai pada 1804 masa Gubernur Jenderal Johannes Siberg. Gedung ini semula adalah rumah peristirahatan milik pengusaha Belanda, Jacob Andries van Braam di jalan Rijkswijk (sekarang Jalan Veteran). Gedung ini lalu dikenal dengan sebutan Istana Rijswijk .

Pada 1821 rumah peristirahatan van Braam dibeli oleh pemerintah kolonial sebagai pusat kegiatan pemerintahan serta tempat tinggal para Gubernur Jenderal di Batavia (Jakarta). Di Istana Rijswijk ini pada 1829 Gubernur Jenderal G.A.G. baron Van Der Capellen mendengarkan rancana Jenderal Hendrik Merkus baron De Kock untuk menumpas pemberontakan Diponegoro. Di istana ini pula Guvbernur Jendral Graaf Van Den Bosch mulai membuat kebijakan sistem tanam paksa atau cultuur stelsel, sistem yang menguntungkan pundi-pundi pemerintah kolonial dan menciptakan kesengsaraan para petani.

istana-merdeka

Pembangunan Istana Merdeka mulai dilakukan pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal James Lindon pada 1873. Gubernur Jendral memutuskan untuk membuat sebuah istana dekat Hotel Rijswikjk yang menghadap Koningsplein (Lapangan Monas).

Pembangunan gedung istana ini dilakukan oleh  Departemen Pekerjaan Umum dengan pemborong “Firma Prossacra” menelan biaya sebesar f 360.000 dengan pengawasan arsitek Mr. Drossares. Istana Merdeka selesai diibangun  pada 1879 masa Pemerintahan Gubernur Jenderal Johan Willem van Landsberge dan sebagai tempat perayaan pernikahan Raja Willem II dengan Puteri Emma Von Waldeck Pyrmont. Sejak itulah istana di Koningsplein ini menjadi tempat kediaman resmi Gubernur Jenderal disamping kediaman resmi lainnya di Buitenzorg (Bogor).

Rakyat yang berkumpul di depan Istana Gambir mengelu-elukan kedatangan Bung Karno dengan pekik kemerdekaan. Bung Karno berpidato di depan Istana Gambir. Salah satu keputusannya adalah mengubah nama Istana Gambir menjadi Istana Merdeka dan Istana Rijswijk menjadi Istana Negara.

Bangunan ini mempunyai banyak nama sesuai dengan situasi zamannya antara lain Istana Koningsplein, Istana Gambir, Istana Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Istana Wakil Tinggi Mahkota Belanda, Istana Van Mook, Istana Saiko Syikikan, dan terakhir Istana Merdeka. Sebelum dinamakan Istana Merdeka, gedung ini bernama Istana Gambir atau Koningsplein Paleis dipakai sebagai “Istana Wakil Tinggi Mahkamah Belanda”.

Sebutan Istana Merdeka terkait dengan peristiwa pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat oleh Kerajaan Belanda pada 27 Desember 1949. Acara pengakuan berlangsung di Istana Gambir, Jakarta, dan Istana Dam, Amsterdam, Belanda. Di Istana Gambir, Wakil Tinggi Mahkota Belanda A.H.J. Lovink melakukan upacara itu di hadapan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Ketua Delegasi Republik Indonesia.

Karena perbedaan waktu antara Amsterdam dan Jakarta, upacara di Istana Gambir dimulai menjelang senja. Matahari sudah hampir terbenam ketika lagu kebangsaan Belanda Wilhelmus berkumandang mengiringi bendera Merah-Putih-Biru untuk terakhir kalinya merayap turun dari puncak tiangnya. Masyarakat yang berkumpul di luar halaman Istana Gambir bersorak-sorak menyaksikan turunnya bendera tiga warna. Sorak-sorai kian gemuruh setelah kemudian lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan mengantar bendera Merah-Putih ke puncak tiang. ”Merdeka ! Merdeka! Hidup Indonesia!”.

Presiden Soekarno dan keluarga tiba di Jakarta dari Yogyakarta pada 28 Desember 1949 dan langsung mendiami Istana Merdeka untuk pertama kalinya. Rakyat yang berkumpul di depan Istana Gambir mengelu-elukan kedatangan Bung Karno dengan pekik kemerdekaan. Bung Karno berpidato di depan Istana Gambir. Salah satu keputusannya adalah mengubah nama Istana Gambir menjadi Istana Merdeka dan Istana Rijswijk menjadi Istana Negara.

Sejak saat itu peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus di langsungkan di Istana Merdeka untuk pertama kali pada 1950.

Sepanjang sejarah Istana Merdeka pernah dihuni oleh 15 Gubernur Jenderal Hindia Belanda, 3 Saiko Syikikan (Panglima Tertinggi Tentara XVI Jepang di Jawa), dan 3 Presiden RI yaitu Presiden pertama Soekarno, Presiden keempat Abdurrahman Wahid dan Presiden ketujuh Joko Widodo.

Setelah proklamasi kemerdekaan, Istana Merdeka menjadi saksi sejarah atas penandatanganan naskah Persetujuan Linggarjati pada 25 Maret 1947. Persetujuan ini antara lain menetapkan bahwa Pemerintah Republik Indonesia dan Kerajaan Belanda akan bersama-sama menyelenggarakan berdirinya sebuah negara berdasarkan prinsip federasi.

Setahun kemudian, pada tanggal 13 Maret 1948, Istana Merdeka kembali menjadi tuan rumah pertemuan empat mata antara Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Letnan Gubernur Jenderal Dr. Hubertus J. Van Mook.

Pada masa pemerintahan Presiden Sukarno, beberapa peristiwa sejarah yang terjadi di Istana Merdeka antara lain adalah: pembubaran Republik Indonesia Serikat dan kembali ke bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 15 Agustus 1950. Dekrit Presiden Kembali ke Undang-Undang Dasar 1945 di depan Istana Merdeka pada 5 Juli 1959, serta pidato Dekrit Ekonomi di Istana Negara pada 28 Maret 1963 sebagai akibat ditolaknya permintaan utang kepada Dana Moneter Internasional (IMF).

Presiden Sukarno memakai sebuah ruang di sisi timur Istana Merdeka sebagai kamar tidurnya. Ruang tidur itu berseberangan dengan ruang kerjanya dan dipisahkan oleh bangsal luas yang dikenal sebagai Ruang Resepsi.

Sisi barat depan Istana Merdeka dipergunakan bagi kegiatan-kegiatan resmi. Di antara serambi depan dan ruang kerja Presiden semula merupakan teras terbuka dengan perabotan dari rotan. Teras ini menjadi ruang tunggu untuk para duta besar sebelum menyerahkan surat keprecayaan kepada Presiden. Sebagian lagi menjadi ruang tamu Presiden yang kemudian dikenal sebagai ruang Jepara karena ruangan ini pada masa Presiden Soeharto diisi dengan meja-kursi kayu dan ragam interior dari ukiran Jepara.

Ruang kerja Presiden Sukarno diisi dengan meja dari kayu jati masif, setelan kursi tamu dari kulit, dan dua dinding yang dipenuhi lemari buku tingginya sepertiga dinding. Pada masa Bung Karno, bagian-bagian luar Istana Merdeka masih terbuka sehingga merupakan serambi-serambi dan beranda-beranda yang luas. Sekeliling Istana, sekalipun berpagar, tetap memberi kesan terbuka. Beberapa bagian beranda yang terbuka itu dilengkapi dengan kursi-kursi rotan. Di situ kadang-kadang Presiden Sukarno menemui tamu-tamunya dan melayani wawancara wartawan.

Bila Presiden Sukarno sedang berada di Istana Jakarta, sebuah bendera kepresidenan berwarna kuning dengan bintang emas ditengahnya dikibarkan di atas Istana Merdeka. Sejak Presiden Soeharto, penandaan seperti itu tidak dilakukan lagi.

Presiden Soeharto memutuskan untuk tidak tinggal di Istana Merdeka. Pak Harto memutuskan untuk tinggal di kediaman pribadinya di Jalan Cendana 8, Jakarta Pusat. Untuk bekerja, Presiden Soeharto berkantor di Bina Graha yang mulai dibangun pada 1969 dan selesai pada 1970. Bina Graha yang terletak di sebelah timur Istana Negara, menghadap ke arah Sungai Ciliwung, kemudian menjadi kantor resmi Pak Harto.

Gedung ini berdiri di atas lahan bekas Hotel Dharma Nirmala, bangunan yang pada masa sebelumnya bernama Hotel der Nederlanden dan Rafles House. Sejak itu praktis Istana Merdeka dan Istana Negara hanya dipakai sebagai tempat kerja, upacara, dan resepsi kenegaraan.

Sementara Presiden B.J. Habibie memilih tinggal di kediaman pribadi di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, dan berkantor di Istana Merdeka. Ia menggunakan kantor di Bina Graha hanya pada saat-saat tertentu, misalnya memimpin Sidang Kabinet Terbatas. Untuk itu, dilakukan berbagai penyesuaian untuk membuat ruang kerja di Istana Merdeka memenuhi syarat guna menunjang kerja seorang Presiden yang akrab dengan teknologi baru. Sebuah setelan sofa dari kulit bergaya Chesterfield ditempatkan di ruang kerja. Di atas meja kerja ditempatkan dua komputer.

Presiden keempat Abdurrahman Wahid, yang biasa dipanggil Gus Dur memindahkan keluarganya ke Istana Merdeka. Ia menggunakan ruang tidur yang semula dipergunakan Bung Karno di Istana Merdeka. Kultur Gus Dur yang sangat terbuka memberi warna baru pada kehidupan Istana Merdeka. Wartawan, sahabat dan publik begitu leluasa keluar – masuk Istana Merdeka. Istana yang sebelumnya berkesan formal menjadi tampak ramah dan mudah dijangkau oleh publik.

Pada masa Presiden Megawati dipersiapkan rencana memindahkan kantor Presiden ke Puri Bhakti Renatama yang terletak di pelataran dalam antara Istana Merdeka dan Istana Negara. Bangunan tambahan itu dibangun semasa Presiden Soeharto sebagai museum menyimpan lukisan dan benda-benda seni serta benda-benda hadiah. Bangunan museum itu direnovasi menjadi Kantor Presiden yang baru, lengkap dengan ruang untuk konferensi pers dan ruang Rapat Kabinet.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuat sebuah tradisi baru dalam pergantian presiden di Istana Merdeka. Dalam rangka menyambut Presiden Jokowi yang memenangkan Pemilu Presiden Juli 2014, Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden yang digantikan membuat acara “Pisah-Sambut”.

istana-cipanas

Istana Cipanas terletak di kaki Gunung Gede yang berhawa sejuk. Sejak zaman kolonial Istana Cipanas sudah dijadikan tempat bagi para Gubernur Jenderal. Pemandian air panas, sumber air mineral, serta udara pegunungan yang bersih, makin menyempurnakan kompleks itu sebagai tempat persinggahan yang digemari para pejabat tinggi. Presiden Soekarno menjadikan Istana Cipanas sebagai tempat mencari inspirasi bagi pidato-pidatonya.

Pada 1954, Bung Karno memerintahkan dua orang arsitek, R.M. Soedarsono dan F. Silaban, membuat desain sebuah studio terpencil di salah satu puncak bukit dalam lingkungan Istana Cipanas sebagai tempat merenung.

Pendiri Istana Cipanas adalah Gubernur Jenderal Gustaaf Willem baron Van Imhoff, yang juga penggagas pembangunan Buiten zorg. Pada Agustus 1742 dengan pengawalan pasukan grenadiers VOC sang Gubernur Jendral melakukan ekspedisi ke arah Priangan dengan mengajak dua orang anggota Raad van Indie (Dewan Hindia), seorang dokter, seorang juru ukur tanah, dan seorang pendeta.

Pada 23 Agustus 1742 ekspedisi mencapai Kampoeng Baroe, yang kemudiaan oleh Van Imhoff dibangun Buiten zorg  atau sekarang disebut dengan Istana Bogor. Dua hari kemudian rombongan Van Imhoff tiba di Cisarua dan terus mendaki ke arah Puncak hingga mencapai sebuah sumber air panas yang menyembur di bawah sebatang pohon karet munding. Van Imhoff langsung jatuh cinta dengan tempat ini dan berniat  membangun sebuah rumah tetirah. Seorang juru ukur segera dikirim untuk membuat peta dan mematok kapling untuk bangunan yang dicita-citakannya.

Van Imhoff sendiri lalu membuat sketsa bangunan Istana Cipanas yang diilhami rumah musim panas Eropa, tetapi dengan memadukan arsitektur tropis. Pada 1742  pembangunan Istana Cipanas dimulai dengan mendatangkan para tukang kayu dari Tegal dan Banyumas yang dikenal rajin dan rapi garapannya. Hampir seluruh konstruksi bangunan terbuat dari kayu jati.  Besi cor juga dipakai sebagai penguat dan ragam hias bangunan.

Selama masa pembangunan itu, Van Imhoff sering datang menengok, sekaligus untuk berendam air panas. Dokter pribadinya bahkan menyarankan untuk minum air dari sumber itu yang diketahui mengandung belerang dan zat besi dicampur dengan susu yang mempunyai khasiat penyembuhan. Istana Cipanas selesai dibangun pada 1746.

Saat pembangunan Van Imhoff mulai menjalin asmara dengan tukang pijat cantik dari Tegal. Ketika juru pijat ini hamil Van Imhoff segera mempermandikannya menjadi Protestan, dan memberinya nama Helena Pieters. Dari rahim Helena lahirlah tiga anak Baron Van Imhoff.  Van Imhoff meninggal pada 1750 di Istana Cipanas setelah sakit selama dua bulan. Jenazahnya dimakamkan di Tanahabang, Jakarta, dengan upacara kebesaran militer.

Karena semakin ramainya pengunjung, pada 1916 pemerintah kolonial menambahkan tiga bangunan di sekeliling bangunan induk. Paviliun-paviliun itu sekarang bernama Arjuna, Yudhistira, dan Bima. Bagian belakang bangunan induk juga diperpanjang untuk mementaskan berbagai kesenian. Berbagai bangunan ditambahkan lagi pada era Republik Indonesia setelah penetapan rumah tetirah di Cipanas itu sebagai Istana Presiden.

Hanya sebagian Gubernur Jenderal Hindia-Belanda pernah menggunakan Istana Cipinas untuk tetirah. Para Gubernur Jendral lebih tertarik tetirah di Buiten zorg  yang lebih dekat. Perjalanan menanjak dengan kuda ke arah Cipanas dirasa sangat melelahkan dan kurang menarik. Tercatat hanya tiga Gubernur Jendral yang pernah menempati Istana Cipanas bersama keluarganya diawal abad 20 yaitu, Gubernur Jenderal Andreas Cornelis De Graeff, Bonifacius Cornelis De Jonge, dan Tjarda Van Starkenborgh-Stachouwer.

Di masa pendudukan Jepang, para pemimpin tentara dan pembesar Jepang yang gemar berendam air panas selalu singgah di Cipanas dalam perjalanan antara Jakarta dan Bandung.
Sejak Presiden Soekarno Istana Cipanas mulai dijadikan tempat pernikahan para keluarga Presiden Indonesia. Soekarno memulainya dengan  melangsungkan akad nikah dengan Ibu Hartini pada 1953. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga mengadakan pernikahan  anaknya Ibas Yudhoyono dengan Aliya Rajasa secara megah di Istana Cipanas yang dihadiri 1000 undangan.

Pada 1954, Bung Karno memerintahkan dua orang arsitek, R.M. Soedarsono dan F. Silaban, membuat desain sebuah studio terpencil di salah satu puncak bukit dalam lingkungan Istana Cipanas sebagai tempat merenung. Bangunan sederhana itu dibikin dari bahan dasar batu kali yang ditonjolkan sebagai ragam hias. Gedung itu hingga sekarang disebut Gedung Bentol karena bentol-bentol batu kali yang diekspos, baik pada dinding maupun pada lantai luar bangunan.

Bila sedang di Istana Cipanas biasanya Bung Karno datang pagi-pagi ke Gedung Bentol dengan membawa bahan-bahan untuk menulis. Pelayan menyediakan segelas kopi, teh, air, dan hidangan ringan seperti pisang rebus, singkong rebus, kacang rebus.

Di Istana Cipanas Presiden Sukarno pada 13 Desember 1965  mengadakan sidang kabinet dan mengeluarkan kebijakan “sanering” yang mengubah nilai uang dari Rp 1.000 menjadi Rp 1. Sebelumnya, kebijakan “sanering” ini pernah dilakukan oleh PM Hatta pada tahun 1950 dengan  memangkas nilai Rupiah hingga setengahnya.

Pada 1983, di era Presiden Soeharto  dibangun paviliun kembar yang diberi nama Nakula dan Sadewa. Presiden Soeharto juga mendatangkan kursi-kursi ukiran Jepara di berbagai ruang Istana Cipanas, digabungkan dengan perabotan tinggalan lama.

Presiden Soeharto hanya sesekali bermalam di Istana Cipanas. Namun keluarga para Wakil Presiden di era Presiden Soeharto justru sering datang ke Istana Cipanas. Tercatat para Wakil Presiden yang berkunjung kesini adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Adam Malik, Umar Wirahadikusumah, Sudharmono, dan Try Soetrisno. Pak Umar sering menggunakan Istana Cipanas selama libur Idul Fitri. Pak Try hampir selalu menggunakannya setiap pergantian tahun.

Perubahan yang dibawa Presiden Soeharto ke Istana Cipanas berpadu dengan koleksi lukisan dan patung-patung Bung Karno  yang menjadi hiasan utama interior dan eksterior Istana Cipanas, misalnya saja karya-karya Lee Man Fong, Theo Meier, Batara Lubis, Basoeki Abdullah, Rustamadji, Russel Flynt, Rudolf Bonnet, Dullah, dan S. Sudjojono.

Istana Cipanas memang berfungsi persis seperti di zaman Hindia Belanda, sebagai tempat  istirahat para pejabat tinggi negara. Jarang dijadikan ajang pertemuan formal. Salah satu pertemuan resmi yang pernah dihelat di Istana Cipanas adalah perundingan damai bagi faksi-faksi Filipina yang bertikai. Pada 14-17 April 1993, atas inisiatif Presiden Soeharto, Menteri Luar Negeri Ali Alatas memimpin perundingan antara Pemerintah Filipina dan kelompok Moro National Liberation Front (MNLF) pimpinan Nur Misuari.

istana-bogor

Istana Bogor terletak di pusat kota Bogor, di atas tanah berkultur datar, seluas sekitar 28.86 hektar, di ketinggian 290 meter dari permukaan laut, beriklim sedang dengan hawa yang sejuk. Istana Bogor dizaman kolonial menjadi salah satu tempat favorit Gubernur Jendral Hindia Belanda untuk beristirahat dari penat dan panasnya kota Batavia.

Setelah masa kemerdekaan, Istana Kepresidenan Bogor mulai dipakai oleh pemerintah Indonesia sejak Januari 1950. Setelah kemerdekaan fungsi istana Bogor berubah menjadi kantor urusan kepresidenan serta menjadi kediaman resmi Presiden Republik Indonesia.

Presiden Soekarno terkenal sebagai penggila seni, karena itu Istana Bogor dipenuhi dengan berbagai karya seni bernilai tinggi. Berbagai karya seni seperti patung Presiden Yugoslavia, Josef Broz Tito, patung Sarinah karya Trubus, dan patung kepala Sang Budha dari Myanmar tampak menghiasi sisi ruang perpustakaan. Sementara di ruang kerja Bung Karno terdapat lukisan upacara perkawinan Rusia karya Makowski, lukisan flamboyan karya Addolf, patung Jatayu Merah, patung Wayang dari uang kepeng, keramik Thailand, dan keramik hadiah Perdana Menteri Uni Sovyet, Nikita Khruschev

Gagasan pembangunan Istana Bogor diawali dari perjalanan Gubernur Jenderal van Imhoff untuk mencari lokasi untuk peristirahatan pada 10 Agustus 1744. Van Imhoff lalu menemukan sebuah tempat yang baik dan berudara sejuk di Kampong Baroe. Terkesan dengan lokasi tersebut pada tahun 1745, Gubernur Jenderal van Imhoff memerintahkan pembangunan sebuah pesanggrahan yang diberi nama Buiten zorg (artinya “bebas masalah/kesulitan”).

Gunernur Jendral Imhoff membuat sendiri sketsa Buiten zorg dengan meniru arsitektur Blenheim Palace, kediaman Duke of Malborough, dekat kota Oxford di Inggris. Namun hingga jabatannnya sebagai Gubernur Jenderal berakhir, bangunan tersebut belum kunjung selesai. Penyelesaian bangunan Istana Bogor baru selesai pada masa kekuasaan Gubernur Jenderal Charles Ferdinand Pahud de Montager (1856-1861) dengan banyak perubahan dari desain awal penggagasnya.

Sepeninggal Van Imhoff Buiten zorg mengalami rusak berat pada masa pemberontakan Banten di bawah pimpinan Kiai Tapa dan Ratu Bagus Buang yang terjadi pada tahun 1750-1754. Pasukan Banten yang menyerang Kampong Baroe telah membakarnya. Pemberontakan Kesultanan Banten berhasil digagalkan dan Banten ditaklukan sebagai rampasan Kompeni.
Pengganti van Imhoff, Gubernur Jendral Yacob Mossel, membangun kembali dengan tetap mempertahankan bentuknya yang semula, sebab seorang anggota Dewan Hindia memberi nasehat agar bentuknya jangan diubah mengingat bangunan Buitenzorg adalah replika dari istana Blenheim.

Pergantian para Gubernur Jenderal mengakibatkan berbagai perombakan menimpa pesanggrahan impian Van Imhoff. Pada masa kekuasaan Gubernur Jenderal Willem Daendels (1808-1811) gedung Buiten zorg diperluas dengan memperlebar bagian kiri dan kanan. Gedung induk dijadikan dua tingkat. Perubahan besar terjadi pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron van der Capellen (1817-1826) dengan mendirikan menara di tengah-tengah gedung induk. Sementara lahan di sekeliling istana dijadikan Kebun Raya.

Gagasan Kebun Raya muncul dari Prof. Caspar George Carl Reinwardt, yang pada tahun 1816 diangkat menjadi Direktur Pertanian, Seni, dan Pendidikan untuk Pulau Jawa.

Reinwardt langsung memulai riset dalam bidang ilmu tumbuh-tumbuhan dan mulai menyelidiki berbagai tanaman yang digunakan untuk pengobatan. Ia mengumpulkan semua tanaman di sebuah kebun botani di sekitar halaman Istana Bogor yang sebelumnya didiami oleh Letnan-Gubernur Thomas Stamford Raffles bersama isterinya Olivia Mariamne Raffles selama masa peralihan dari Pemerintah Inggris ke Kerajaan Belanda di Pulau Jawa (1811-1816). Melalui bantuan seorang ahli botani William Kent, lahan yang awalnya merupakan halaman Istana Bogor dikembangkan menjadi sebuah kebun yang cantik. Raffles menyulap halaman istana menjadi taman bergaya Inggris klasik. Inilah awal mula Kebun Raya Bogor dalam bentuknya yang sekarang.

Pada 15 April 1817 Reinwardt mencetuskan gagasan untuk mendirikan kebun botani kepada Gubernur Jenderal G.A.G.P. Baron van der Capellen. Pada 18 Mei 1817, Gubernur Jenderal G.A.G.P. van der Capellen secara resmi mendirikan sebuah Kebun Raya di Kota Bogor, yang saat itu disebut dengan nama ’s Lands Plantentuin te Buitenzorg. Pendiriannya diawali dengan menancapkan ayunan cangkul sebagai pertanda pembangunan Kebun Raya. Dalam pelaksanaan pembangunan Kebun Raya dipimpin oleh Reinwardt sendiri, dibantu oleh James Hooper dan W. Kent kurator Kebun Botani Kew yang terkenal di Richmond, Inggris.

Reinwardt yang menjadi pengarah pertama Kebun Raya Bogor (1817-1822) lalu mulai mengumpulkan tanaman dan benih dari bagian lain Nusantara. Dengan segera Bogor menjadi pusat pengembangan pertanian dan hortikultura di Indonesia. Pada masa itu diperkirakan sekitar 900 tanaman hidup ditanam di kebun tersebut. Reinwardt juga menjadi perintis di bidang pembuatan herbarium. Ia kemudian dikenal sebagai seorang pendiri Herbarium Bogoriense.

Pada 1949 setelah Indonesia merdeka ‘s Lands Plantentiun te Buitenzorg berganti nama menjadi Jawatan Penyelidikan Alam, kemudian menjadi Lembaga Pusat Penyelidikan Alam (LLPA) untuk pertama kalinya dikelola dan dipimpin oleh bangsa Indonesia, Prof. Ir. Kusnoto Setyodiwiryo. Pada 1956 untuk pertama kalinya pimpinan Kebun Raya dipegang oleh bangsa Indonesia yaitu Sudjana Kassan menggantikan J. Douglas.

Bangunan di Buiten zorg mengalami rusak parah ketika gempa bumi terjadi pada 10 Oktober 1834. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Albertus Yacob Duijmayer van Twist (1851-1856). Bangunan lama yang terkena gempa dirubuhkan dan dibangun kembali menjadi bangunan baru satu tingkat dengan gaya arsitektur Eropa Abad IX. Selain itu, dibangun pula dua buah jembatan penghubung Gedung Induk dan gedung sayap kanan serta sayap kiri.

Tahap akhir penyelesaian bangunan Istana Bogor selesai pada masa kekuasaan Gubernur Jenderal Charles Ferdinand Pahud de Montager (1856-1861). Sembilan tahun kemudian, pada 1870, Istana Buitenzorg ditetapkan sebagai kediaman resmi para Gubernur Jenderal Belanda. Penghuni terakhir Istana Buitenzorg itu adalah Gubernur Jenderal Tjarda van Starckenborg Stachouwer yang harus menyerahkan istana ini kepada Jenderal Imamura, pemerintah pendudukan Jepang. Sebanyak 44 gubernur Jenderal Belanda pernah menjadi penghuni Istana Kepresidenan Bogor ini.

Pada akhir Perang Dunia II, ketika Indonesia menyatakan kemerdekaannya, sekitar 200 pemuda Indonesia yang tergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat (BKR) sempat menduduki Istana Buitenzorg seraya mengibarkan Sang Saka Merah Putih. Pengambilalihan selesai ketika tentara Ghurka datang menyerbu dan memaksa para pemuda keluar dari istana.

Sebagai tindak lanjut pengakuan Belanda atas kemerdekaan Indonesia, Buitenzorg diserahkan kembali kepada pemerintah Republik Indonesia pada akhir 1949 dan namanya diubah menjadi Istana Kepresidenan Bogor.

Setelah masa kemerdekaan, Istana Kepresidenan Bogor mulai dipakai oleh pemerintah Indonesia sejak Januari 1950. Setelah kemerdekaan fungsi istana Bogor berubah menjadi kantor urusan kepresidenan serta menjadi kediaman resmi Presiden Republik Indonesia.
Pada 1952 bagian depan Gedung Induk mendapat tambahan bangunan berupa sepuluh pilar penopang bergaya Ionia yang menyatu dengan serambi muka yang tertopang enam pilar dengan gaya arsitektur yang sama. Sementara anak tangga yang semula berbentuk setengah lingkaran diubah bentuknya menjadi lurus. Jembatan kayu lengkung yang menghubungkan Gedung Utama dan gedung sayap kiri dan sayap kanan diubah menjadi koridor.

Presiden Soekarno adalah Presiden yang paling sering menetap di Istana Bogor. Selama tiga hari dalam sepekan Presiden Sukarno menghabiskan waktu di Istana Bogor. Bahkan ibu Fatmawati beserta lima anak mereka pernah tinggal di Istana Bogor antara 1952 hingga 1957. Bung Karno menggunakan ruang Teratai dalam gedung induk untuk menerima tamu-tamu negara. Disebut ruang teratai karena di ruangan ini terdapat lukisan Bunga Teratai karya Dezentje dan lukisan tujuh bidadari.

Di Istana Bogor disisi kiri Ruang Garuda terdapat ruang perpustakaan, ruang kerja, dan ruang makan besar. Bung Karno banyak menghabiskan waktu luangnya dengan membaca. Sekitar 4.500 buku koleksi pribadi BK masih tersimpan rapi di raknya sampai sekarang.

Presiden Soekarno terkenal sebagai penggila seni, karena itu Istana Bogor dipenuhi dengan berbagai karya seni bernilai tinggi. Berbagai karya seni seperti patung Presiden Yugoslavia, Josef Broz Tito, patung Sarinah karya Trubus, dan patung kepala Sang Budha dari Myanmar tampak menghiasi sisi ruang perpustakaan. Sementara di ruang kerja Bung Karno terdapat lukisan upacara perkawinan Rusia karya Makowski, lukisan flamboyan karya Addolf, patung Jatayu Merah, patung Wayang dari uang kepeng, keramik Thailand, dan keramik hadiah Perdana Menteri Uni Sovyet, Nikita Khruschev.

Hingga kini lukisan yang terdapat di istana Bogor berjumlah 448 buah dan koleksi patung sebanyak 216 buah. Istana Bogor juga mengoleksi keramik sebanyak 196 buah. Semua karya seni bernilai tinggi tersebut kini tersimpan di museum istana Bogor.

Diruang kerja Istana Bogor, Soekarno dengan disaksikan tiga jenderal TNI Angkatan Darat (M. Yusuf, Amir Machmud, dan Basuki Rahmat), menandatangani Surat Perintah Sebelas Maret pada 1965. Setelah peristiwa itu Presiden Soekarno harus menyerahkan kursi kepresidenan kepada Presiden Soeharto. Sekarno dan keluarga meninggalkan Istana Bogor pada Maret 1967 lalu pindah ke Hing Puri Bima Sakti atau Istana Batutulis di Bogor.

istana-yogyakarta

Kota Yogyakarta mempunyai peran penting dalam revolusi. Ketika Belanda melakukan agresi militer Januari 1946,  untuk menduduki kembali Indonesia, pemerintahan Republik Indonesia mengungsi ke Yogyakarta. Presiden Sukarno dan Moh Hatta lalu memimpin pemerintahan dari Yogyakarta.

Gedung Agung dibangun sebagai kediaman resmi Residen pada Mei 1824 ketika Residen Anthonie Hendriks Smissaert memegang jabatan. Gubernur Jenderal di Batavia menunjuk seorang arsitek bernama A.A.J. Payen yang juga guru seni lukis Raden Saleh untuk membuat desain gedung.

Di dalam Gedung Agung ini Ibu Fatmawati yang hamil tua melahirkan Megawati Soekarnoputri pada Januari 1947.

Lokasi pembangunan kantor residen tepat berseberangan dengan benteng Rustenburg  yang sudah ada sejak 1767. Benteng ini sempat hancur karena gempa bumi lalu dibangun kembali  pada 1867 dan diberi nama baru menjadi benteng Vredenburg. Benteng itu dibangun dalam jarak tembak meriam ke arah Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk mencegah kemungkinan pembangkangan di lingkungan Kraton Yogyakarta.

Saat gedung sedang dibangun meletus  Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro.  Residen Smissaert mengungsi ke dalam Benteng pada 1832 sementara pemerintah kolonial juga menghabiskan banyak dana untuk menghentikan pemeberontakan ini. Perang Jawa mengajarkan Belanda untuk sangat mempertimbangkan soal keamanan tempat tinggal dan kantor bagi pejabat tingginya.

Gempa bumi pada 1867 telah meruntuhkan bangunan awal Residenan Yogyakarta. Bangunan baru segera didirikan di atas lahan yang sama dengan gaya arsitektur Eropa yang disesuaikan dengan iklim tropis. Kantor Residen  selesai dibangun pada 1869. Gedung baru inilah yang kemudian menjadi bangunan utama Gedung Agung. Pada masa pendudukan Jepang, Gedung Agung menjadi kediaman resmi Koochi Zimmukyoku Tyookan, penguasa tertinggi Jepang di Yogyakarta.

Rakyat Yogyakarta juga mempunyai julukan sendiri atas Gedung Agung. Orang Yogya pernah menyebutnya sebagai Residenan, yaitu tempat tinggal Residen. Ketika Karesidenan Yogyakarta ditingkatkan status administrasinya menjadi provinsi sejak tahun 1927, gedung itu kemudian berubah julukan menjadi Gubernuran atau Loji Gubernur. Gedung itu kemudian berubah julukan menjadi Presidenan ketika Bung Karno dan keluarganya tinggal di sana.

Ketika Agresi Belanda atas Indonesia dilakukan pada Januari 1946, Soekarno beserta keluarganya mengungsi ke Yogyakarta dan menempati sebuah rumah yang pernah menjadi kediaman resmi residen Belanda dan disebut dengan Gedung Agung, yang kini menjadi  salah satu Istana Kepresidenan. Di dalam Gedung Agung ini Ibu Fatmawati yang hamil tua melahirkan Megawati Soekarnoputri pada Januari 1947.

Saat Agresi Belanda dimulai, di Gedung Agung ini Panglima Besar Soedirman mohon diri kepada Presiden Soekarno untuk meninggalkan kota dalam rangka memimpin perang gerilya melawan Belanda. Perlawanan gerilya Jendral Soedirman menjadi penting untuk membuktikan bahwa pemerintahan republik Indonesia tidak tunduk di bawah politik agresi Belanda.

Gedung Agung Yogyakarta juga menjadi saksi sejarah pertikaian politik yang mencekam antara pemerintah di bawah Perdana Menteri Sutan Sjahrir dengan kaum oposisi revolusioner Persatuan Perjuangan (PP) di bawah pimpinan Tan Malaka. Pemicu peristiwa ini adalah ketidakpuasan Persatuan Perjuangan atas politik diplomasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia terhadap Belanda. Kelompok ini menginginkan pengakuan kedaulatan penuh (100%), sedangkan kabinet yang berkuasa di bawah PM Sjahrir hanya menuntut pengakuan kedaulatan atas Jawa dan Madura.

Kaum oposisi revolusioner Persatuan Perjuangan yang tidak puas dengan PM Sjahrir pada 3 Juli 1946 menghadap Soekarno dan menyodorkan maklumat untuk ditandatangani presiden. Maklumat itu berisi antara lain tuntutan untuk membubarkan kanbinet II PM Sjahrir dan membentuk Dewan Pimpinan Politik yang dipimpin oleh Tan Malaka. Presiden Soekarno tidak menerima maklumat tersebut dan memerintahkan penangkapan para pengantar maklumat.

Di ruang utama Gedung Agung yang diberi nama ruang Garuda menjadi tempat Soekarno menggelar rapat kabinet dan upacara resmi saat pemerintahan berpusat di Yogyakarta. Setiap minggu Bung Karno juga memberi kuliah ketatanegaraan dan politik yang terbuka bagi umum. Di ruangan ini terpampang beberapa lukisan pahlawan nasional seperti H.O.S. Tjokroaminoto (Affandi), Dokter Wahidin Sudirohusodo (Sudjono Abdullah), Dr. Sutomo (Dullah), M. Husni Thamrin (Soedarso), Dr. Tjipto Mangunkusumo (Soeromo), R.A. Kartini (Trubus S.), Diponegoro, Teuku Tjik Ditiro, dan Tuanku Imam Bondjol (S. Sudjojono).

Di ruang Garuda, terdapat dua ruang tamu utama. Ruang tamu di sebelah selatan disebut Ruang Soedirman, di ruang itulah Panglima Besar Soedirman dulu mohon diri kepada Presiden Sukarno untuk memimpin perang gerilya melawan Belanda. Sementara ruang tamu disebelah utara disebut Ruang Diponegoro untuk mengenang pahlawan besar tersebut. Sebuah reproduksi lukisan Pangeran Diponegoro dari lukisan Basuki Abdullah yang berada di Istana Merdeka diletakan di dalam ruangan ini.

Selama menetap di Gedung Agung Yogyakarta Presiden Soekarno mengambil kesempatan bertemu dengan para seniman Yogyakarta dan membeli beberapa lukisan dari Affandi, S. Sudjojono, dan Sudjono Abdullah (adik Basoeki Abdullah). Sebaliknya, para pelukis pun banyak menitipkan lukisan untuk menghias kediaman Presiden Soekarno. Istana Yogyakarta menjadi ruang pameran para seniman lukis Indonesia. Beberapa lukisan dibubuhi kata-kata yang menunjukkan bahwa lukisan itu dihadiahkan kepada Bung Karno, presiden yang dalam sejarah hidupnya telah memuliakan kehidupan seniman.
Selain lukisan, Istana Yogyakarta juga menyimpan sekitar 50 arca batu kuno yang ditemukan di daerah sekitar Yogyakarta dan kini dirawat serta dilestarikan di sebuah sudut halaman belakang Istana. Arca-arca yang dikumpulkan para Residen Belanda ini semula ditempatkan di Benteng Vredenburg.

Pada tahun 1972, di era Presiden Soeharto, Gedung Agung secara resmi diputuskan menjadi Istana Presiden Republik Indonesia pada 1972, dan dipergunakan sebagai tempat penginapan Presiden dan para tamu negara di Yogyakarta. Sebelumnya, pengelolaan dan perawatan Gedung Agung sejak 1954 ditangani oleh Kepatihan Danurejan. Sejak 1972, Gedung Agung mengalami renovasi agar layak bagi kepala negara dan kepala pemerintahan.

Bagian dari Gedung Agung yang menjadi kompleks Seni Sono dipugar sejak 1995 dan diresmikan saat B.J. Habibie menjadi presiden setelah reformasi. Gedung Seni Sono didirikan pada 1915 itu terletak di sudut selatan bagian depan kompleks Istana Yogyakarta. Bangunan ini pernah dipakai sebagai soos atau societeit, bioskop, sebelum akhirnya menjadi galeri seni.

Di era Presiden Soeharto sejak tahun 1988 Gedung Agung dijadikan tempat upacara Parade Senja setiap 17 Agustus dan acara perkenalan serta perpisahan Taruna Angkatan Udara. Sejak 17 Agustus 1991 Gedung Agung menjadi tempat resmi pemerintahan Yogyakarta untuk memperingati detik-detik peringatakan proklamasi. Sekarang Gedung Agung digunakan sebagai tempat menginap presiden dan wakil presiden bila sedang berkunjung ke Yogyakarta.

Gedung Agung Yogyakarta muncul dalam wacana Presiden Abdurrahman Wahid dalam pertemuan dengan para tokoh politik dengan menceritakan kembali sejarah rasa persaudaraan yang ada di kalangan pimpinan bangsa ini di masa lalu. Presiden Gus Dur bercerita mengenai Moh Yamin yang ketika itu ditahan Presiden Soekarno di Gedung Agung. Hampir setiap malam Bung Karno dan Bung Yamin berbincang-bincang dan makan bersama, tidak ada sikap saling bermusuhan di antara keduanya. “Persaudaraan semacam itu yang sekarang tidak ada dan hilang”, ujar Gus Dur.

Sementara bagi Presiden keempat Megawati Soekarnoputri, Gedung Agung Yogyakarta menjadi bagian penting dari hidupnya, putri Bung Karno Presiden ke 1 Republik Indonesia lahir di dalam Istana Gedung Agung 23 Januar 1947 saat Yogyakarta menjadi ibukota RI di masa revolusi. Menurut Megawati dia sejak lahir sudah jadi anak presiden, karena bapaknya sudah presiden.

Sementara Istana Gedung Agung Yogyakarta menjadi saksi perpisahan Presiden SBY dan Ibu Ani dengan netizen di dunia maya. Pada Kamis 16 Oktober 2014, Presiden SBY dan Ibu Ani mengundang 20 netizen terpilih dari dunia maya yaitu twitter, instagram, dan facebook melalui kuis kopi darat pamitan atau #kopdarpamitan. Tercatat kurang lebih 50.000 akun twitter, 7000 akun instagram dan 35.000 akun facebook mengikuti kuis kopdar pamitan ini.

Bagi Presiden Jokowi Gedung Agung Yogyakarta menjadi penting karena di sana presiden menyatakan komitmennya untuk menyelesaikan persoalan Hak Asasi Manusia di masa lalu. Di Gedung Agung Jokowi mengatakan bahwa pemerintah akan terus berkomitmen untuk menyelesaikan kasus HAM di masa lalu secara berkeadilan. Hak Asasi Manusia menurut Jokowi, juga bukan melulu hanya berkutat masalah pelanggaran masa lalu, namun juga soal jaminan pemenuhan hak ekonomi, sosial, budaya serta jaminan mendapat pelayanan pendidikan, kesehatan serta kebebasan beragama.

istana-tampaksiring

Dari keenam istana kepresidenan, Istana Tampaksiring mempunyai sejarah unik. Istana ini adalah satu-satunya yang  dibangun oleh pemerintah Indonesia setelah merdeka. Istana ini menjadi semakin berbeda dengan istana lainnya, sebab Presiden Soekarno memberi banyak masukan pada rancang-bangun Istana Tampaksiring.

Bung Karno menggagas pendirian sebuah kediaman presiden di Tampaksiring untuk merespon semakin seringnya menerima tamu negara dari berbagai negara. Pulau Bali yang tekenal di mancanegara karena keindahannya juga menjadi minat dari banyak tamu negara. Karena itu sebuah Istana kepresidenan untuk menyambut tamu negara didirikan di pulau Bali.

Bila lima istana lainnya dibangun dengan gaya arsitektur Eropa, maka Istana Tampaksiring sangat  kental dengan ciri ke Indonesiaan dan nuansa lokal Bali.

Istana Tampaksiring berdiri di desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Lahan pembangunan istana adalah pemberian dari Raja Gianyar. Presiden Soekarno memerintahkan arsitek R.M. Soedarsono membuat rancang-bangun untuk Istana Kepresidenan di sana. R.M Soedarsono adalah arsitek pada Jawatan Pekerjaan Umum. Pembangunan istana berada di bawah pengawasan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Seksi Gianyar, Tjokorda Gde Raka.

Pembangunan Istana Tampaksiring mulai dipersiapkan pada 1956. Pembangunannya dimulai pada 1957 dan selesai 1963. Gedung pesanggrahan Raja Gianyar dirobohkan dan atasnya dibangun gedung utama Wisma Merdeka pada 1957.

Bila lima istana lainnya dibangun dengan gaya arsitektur Eropa, maka Istana Tampaksiring sangat  kental dengan ciri ke Indonesiaan dan nuansa lokal Bali. Tidak ada pilar-pilar besar yang menampilkan kesan keagungan dan kekuasaan duniawi. Rancang-bangunnya sangat fungsional, menonjolkan kesederhanaan dan fungsinya sebagai wisma peristirahatan. Batu-batu alam dan batu bata halus khas Bali sengaja ditonjolkan untuk menciptakan corak kedaerahan. Ukiran batu paras dan tiang-tiang kayu gaya Bali terasa padu dalam konsep arsitektumya, bukan sebagai elemen tambahan yang ditempelkan. Semua bahan dari kayu jati didatangkan dari Jawa. Sementara elemen artistiknya dalam bentuk ukiran kayu dan batu dikerjakan oleh para seniman Bali.

Bung Karno tidak hanya memberi ide pembangunan istana Tampaksiring tapi sebagai insinyur sipil juga ikut mengamati proses pembuatan konstruksi. Dalam peninjauan ia sangat teliti melihat proses konstruksi. Dalam sebuah kesempatan Seokarno membetulkan sebuah papan lis sepanjang 25 meter yang tidak lurus terpasang.

Seperti istana presiden lainnya, Presiden Soekarno juga membawa karya seni bernilai  tinggi ke dalam Istana Tampaksiring. Koleksi benda-benda seni di Istana Tampaksiring antara lain karya-karya pematung Bali yang terkenal, Cokot, serta pelukis-pelukis kenamaan seperti Le Mayeur, Rudolf Bonnet, Dullah, Sudarso, dan Agus Djaja. Di Istana Tampaksiring juga ditemui sebuah karya langka Rudolf Bonnet berupa lukisan pemandangan. Bonnet biasanya melukis sosok manusia.

Seni tari juga menjadi pembeda istana Tampaksiring dengan istana lainnya. Semua tamu negara yang datang tidak disambut dengan upacara militer tapi disambut dengan dengan tari pendet – ucapan selamat datang dengan gerak-gerak lincah enam gadis penari – yang kemudian diikuti dengan taburan bunga ke arah sang tamu dan jalan yang hendak dilaluinya.

Selain tempat peristirahatan presiden dan keluarganya Istana juga dipakai untuk pertemuan-pertemuan informal bernuansa politik. Di Istana ini, Presiden Ne Win dari Burma melakukan perundingan dengan Presiden Soeharto pada 1982. Pertemuan informal antara Menteri Luar Negeri Ali Alatas dan Presiden Taiwan Lee Teng-hui pernah pula terjadi di sini untuk membicarakan berbagai isu strategis hubungan Indonesia-Taiwan.

Menyambut KTT ASEAN 2003, Presiden Megawati membangun gedung konferensi yang diberi nama Graha Bung Karno. Gedung konferensi ini dapat menampung 300 undangan. Dalam KTT ASEAN ini lahir Bali Accord. KTT ASEAN pada 2003 telah mendorong percepatan renovasi interior di hampir seluruh bagian Istana Tampaksiring dan penataan ulang lukisan-lukisan dan benda-benda seni di kompleks Istana. Lukisan-Iukisan terbaik Ida Bagus Made Poleng yang sempat dibawa keluar Istana Tampaksiring, misalnya, sekarang telah kembali ke tempat asalnya.

Sejak Istana Tampaksiring berdiri di tahun 1963 berbagai kepala negara dan kepala pemerintahan negara-negara sahabat tercatat pemah bertetirah di Istana Tampaksiring. Para tamu negara itu antara lain Presiden Josip Broz Tito (Yugoslavia), Presiden Ho Chi Minh (Vietnam), Perdana Menteri Jawaharlal Nehru (India), Perdana Menteri Nikita Kruschev (Uni Soviet), Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard (Belanda), Putra Mahkota Akihito dan Putri Michiko (Jepang), Presiden Ne Win (Birma), Pangeran Norodom Sihanouk (Kamboja), dan Sekretaris Jenderal PBB Javier Perez de Cuellar.

Pada masa Presiden Susilo Bambang Yudoyono Istana Tampaksiring pernah digunakan untuk pertemuan bilateral Indonesia-Timor Leste yang mengakhiri sengketa pasca kemerdekaan Timor Leste pada 1999. Pertemuan bilateral antara Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden Republik Demokratik Timor Leste, Kay Rala Xanana Gusmao, antara lain menyerukan agar masyarakat internasional memberikan dukungan sepenuhnya terhadap komisi kebenaran dan persahabatan (KKP) penyelesaian permasalahan dua negara bertetangga tersebut. Pertemuan ini penting menandai era rokonsiliasi kedua bangsa yang kini sudah menjadi negara yang terpisah.