Istana Tampaksiring

Dari keenam istana kepresidenan, Istana Tampaksiring mempunyai sejarah unik. Istana ini adalah satu-satunya yang  dibangun oleh pemerintah Indonesia setelah merdeka. Istana ini menjadi semakin berbeda dengan istana lainnya, sebab Presiden Soekarno memberi banyak masukan pada rancang-bangun Istana Tampaksiring.

Bung Karno menggagas pendirian sebuah kediaman presiden di Tampaksiring untuk merespon semakin seringnya menerima tamu negara dari berbagai negara. Pulau Bali yang tekenal di mancanegara karena keindahannya juga menjadi minat dari banyak tamu negara. Karena itu sebuah Istana kepresidenan untuk menyambut tamu negara didirikan di pulau Bali.

Bila lima istana lainnya dibangun dengan gaya arsitektur Eropa, maka Istana Tampaksiring sangat  kental dengan ciri ke Indonesiaan dan nuansa lokal Bali.

Istana Tampaksiring berdiri di desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Lahan pembangunan istana adalah pemberian dari Raja Gianyar. Presiden Soekarno memerintahkan arsitek R.M. Soedarsono membuat rancang-bangun untuk Istana Kepresidenan di sana. R.M Soedarsono adalah arsitek pada Jawatan Pekerjaan Umum. Pembangunan istana berada di bawah pengawasan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Seksi Gianyar, Tjokorda Gde Raka.

Pembangunan Istana Tampaksiring mulai dipersiapkan pada 1956. Pembangunannya dimulai pada 1957 dan selesai 1963. Gedung pesanggrahan Raja Gianyar dirobohkan dan atasnya dibangun gedung utama Wisma Merdeka pada 1957.

Bila lima istana lainnya dibangun dengan gaya arsitektur Eropa, maka Istana Tampaksiring sangat  kental dengan ciri ke Indonesiaan dan nuansa lokal Bali. Tidak ada pilar-pilar besar yang menampilkan kesan keagungan dan kekuasaan duniawi. Rancang-bangunnya sangat fungsional, menonjolkan kesederhanaan dan fungsinya sebagai wisma peristirahatan. Batu-batu alam dan batu bata halus khas Bali sengaja ditonjolkan untuk menciptakan corak kedaerahan. Ukiran batu paras dan tiang-tiang kayu gaya Bali terasa padu dalam konsep arsitektumya, bukan sebagai elemen tambahan yang ditempelkan. Semua bahan dari kayu jati didatangkan dari Jawa. Sementara elemen artistiknya dalam bentuk ukiran kayu dan batu dikerjakan oleh para seniman Bali.

Bung Karno tidak hanya memberi ide pembangunan istana Tampaksiring tapi sebagai insinyur sipil juga ikut mengamati proses pembuatan konstruksi. Dalam peninjauan ia sangat teliti melihat proses konstruksi. Dalam sebuah kesempatan Seokarno membetulkan sebuah papan lis sepanjang 25 meter yang tidak lurus terpasang.

Seperti istana presiden lainnya, Presiden Soekarno juga membawa karya seni bernilai  tinggi ke dalam Istana Tampaksiring. Koleksi benda-benda seni di Istana Tampaksiring antara lain karya-karya pematung Bali yang terkenal, Cokot, serta pelukis-pelukis kenamaan seperti Le Mayeur, Rudolf Bonnet, Dullah, Sudarso, dan Agus Djaja. Di Istana Tampaksiring juga ditemui sebuah karya langka Rudolf Bonnet berupa lukisan pemandangan. Bonnet biasanya melukis sosok manusia.

Seni tari juga menjadi pembeda istana Tampaksiring dengan istana lainnya. Semua tamu negara yang datang tidak disambut dengan upacara militer tapi disambut dengan dengan tari pendet – ucapan selamat datang dengan gerak-gerak lincah enam gadis penari – yang kemudian diikuti dengan taburan bunga ke arah sang tamu dan jalan yang hendak dilaluinya.

Selain tempat peristirahatan presiden dan keluarganya Istana juga dipakai untuk pertemuan-pertemuan informal bernuansa politik. Di Istana ini, Presiden Ne Win dari Burma melakukan perundingan dengan Presiden Soeharto pada 1982. Pertemuan informal antara Menteri Luar Negeri Ali Alatas dan Presiden Taiwan Lee Teng-hui pernah pula terjadi di sini untuk membicarakan berbagai isu strategis hubungan Indonesia-Taiwan.

Menyambut KTT ASEAN 2003, Presiden Megawati membangun gedung konferensi yang diberi nama Graha Bung Karno. Gedung konferensi ini dapat menampung 300 undangan. Dalam KTT ASEAN ini lahir Bali Accord. KTT ASEAN pada 2003 telah mendorong percepatan renovasi interior di hampir seluruh bagian Istana Tampaksiring dan penataan ulang lukisan-lukisan dan benda-benda seni di kompleks Istana. Lukisan-Iukisan terbaik Ida Bagus Made Poleng yang sempat dibawa keluar Istana Tampaksiring, misalnya, sekarang telah kembali ke tempat asalnya.

Sejak Istana Tampaksiring berdiri di tahun 1963 berbagai kepala negara dan kepala pemerintahan negara-negara sahabat tercatat pemah bertetirah di Istana Tampaksiring. Para tamu negara itu antara lain Presiden Josip Broz Tito (Yugoslavia), Presiden Ho Chi Minh (Vietnam), Perdana Menteri Jawaharlal Nehru (India), Perdana Menteri Nikita Kruschev (Uni Soviet), Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard (Belanda), Putra Mahkota Akihito dan Putri Michiko (Jepang), Presiden Ne Win (Birma), Pangeran Norodom Sihanouk (Kamboja), dan Sekretaris Jenderal PBB Javier Perez de Cuellar.

Pada masa Presiden Susilo Bambang Yudoyono Istana Tampaksiring pernah digunakan untuk pertemuan bilateral Indonesia-Timor Leste yang mengakhiri sengketa pasca kemerdekaan Timor Leste pada 1999. Pertemuan bilateral antara Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden Republik Demokratik Timor Leste, Kay Rala Xanana Gusmao, antara lain menyerukan agar masyarakat internasional memberikan dukungan sepenuhnya terhadap komisi kebenaran dan persahabatan (KKP) penyelesaian permasalahan dua negara bertetangga tersebut. Pertemuan ini penting menandai era rokonsiliasi kedua bangsa yang kini sudah menjadi negara yang terpisah.