Saat ini tengah diupayakan agar bangsa Indonesia mampu tampil di dunia internasional sebab Indonesia memiliki potensi besar, namun dibutuhkan pendampingan profesional agar bisa berkembang. Hal ini disampaikan Presiden Joko Widodo saat bertemu Masyarakat Indonesia di Belanda yang dihelat di Grand Hotel Amrath Kurhaus, Den Haag, Kamis malam 21 April 2016.

Optimisme Presiden ini disampaikan karena meyakini generasi muda Indonesia memiliki potensi yang luar biasa dan bisa berkembang dan berkibar di dunia internasional, terlebih lagi setelah melihat pameran desainer muda Indonesia di London. “Saya bangga para desainer Indonesia bisa melakukan pameran di departemen store terkemuka di London. Dan busana yang diperdagangkan laku keras dalam seminggu. Padahal harganya sekitar 30-an juta rupiah jika dikurs,” ungkap Presiden.

IMG-20160420-WA0012Pemerintah pun tidak tinggal diam untuk mendukung potensi anak-anak muda Indonesia ini. Pemerintah melalui Badan Ekonomi Kreatif akan terus membantu dan memfasilitasi kebutuhan anak-anak muda Indonesia agar dapat berkibar di dunia internasional. “Saya telah meminta Kepala Badan Ekonomi Kreatif untuk memikirkan cara-caranya”.

Demikian pula halnya dengan kuliner. Presiden mengakui kuliner Indonesia perlu lebih dikembangkan. Untuk itu Presiden merasa perlu untuk mempelajari kisah sukses kuliner Thailand yang bisa menjamur di manca negara. “Saya akan coba minta Garuda mungkin bisa memberi keringanan biaya pengiriman bahan baku untuk menunjang progam ini”, kata Presiden seraya mengakhiri sesi tanya jawab ini.

Era Persaingan Tidak Dapat Dihindari

Presiden menyampaikan bahwa dalam tiga hari, dirinya sudah bertemu para pemimpin negara-negara di Eropa, termasuk Presiden Parlemen Eropa, Presiden Dewan Eropa, dan Presiden Komisi Eropa serta Raja Philippe dari Belgia.

“Kenapa kita harus bertemu mereka-mereka?” tanya Presiden. Sebab, menurut Presiden, Indonesia sudah memasuki era persaingan. Ada banyak blok perdagangan, seperti Uni Eropa (UE), blok Cina, belum lagi TPP Amerika Serikat. Semua harus digarap dan menurut Presiden lagi, “Ini dunia yang kita hadapi, tidak bisa kita bilang tidak mau gabung”.

Lebih lanjut, Presiden menyatakan bahwa sebenarnya bangsa Indonesia memiliki kemampuan, namun seringkali terlena. Presiden mencontohkan, subsidi BBM selama ini menghabiskan sekitar Rp 300 Trilyun setahun yang menurut Presiden terbuang percuma. Karena yang merasakan manfaatnya adalah para pemilik mobil yang merupakan golongan masyarakat mampu. Padahal lanjut Presiden, “Subsidi itu harus untuk membantu yang tidak mampu”, yang disambut tepuk tangan hadirin.

Oleh karena itu, di awal pemerintahannya, Presiden Jokowi langsung memotong subsidi BBM. Diakui oleh Presiden ini merupakan kebijakan yang tidak populer dan pasti menurunkan elektabilitas. Namun sebagai Presiden, resiko itu harus berani diambil. “Jadi Presiden kok nyari popularitas”, ucap Presiden yang disambut tepuk tangan.

Lebih lanjut Presiden mengatakan bahwa subsidi BBM sebesar itu sudah dapat membangun jalur kereta api dari Sabang sampai Merauke. Presiden menyampaikan bahwa pembangunan infrastruktur seperti tol, pelabuhan, bandara membutuhkan sekitar Rp 5500 trilyun. Itu bisa diwujudkan bila alokasi dana subsidi digunakan sebagaimana mestinya.

Visi Indonesia : Keterbukaan dan Kompetisi

Pada kesempatan ini, Presiden kembali mengingatkan bahwa visi Indonesia ke depan adalah keterbukaan dan kompetisi. Sehingga yang kurang harus dibenahi dan diperbaiki. “Kita harus yakin bahwa kita mampu bersaing dengan siapapun”, kata Presiden.

Untuk mencapai hal tersebut, pemerintah tengah melakukan pembenahan regulasi. Sebab banyak sekali regulasi yang justru menjerat dan mempersulit. Misalnya banyak sekali Perda yang berkaitan dengan retribusi. “Ini sangat menyusahkan masyarakat dan dunia usaha. Perda seperti ini harus dihapus”, ujar Peesiden. Salah satu langkah yang diambil oleh pemerintah adalah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi, yang sampai saat ini sudah mencapai 11 paket menyangkut deregulasi.

Presiden mencontohkan salah satu akibat dari regulasi yang menjerat pembangunan infrastruktur di Indonesia, yakni kasus listrik. Presiden mengatakan bahwa masalah listrik selalu dikeluhkan oleh masyarakat saat dirinya melakukan kunjungan kerja ke daerah-daerah. Penyebabnya karena investor yang ingin melakukan investasi di bidang energi mengeluhkan ijin yang terlalu banyak. Ada sekitar 59 perijinan harus diselesaikan sehingga untuk mengurus perijinan bisa sampai bertahun-tahun. “Bahkan ada yang sampai enam tahun belum selesai,” kata Presiden.

Selain perijinan, Presiden juga menekankan bahwa pembangunan infrastruktur harus cepat agar roda perekonomian bergerak. Disamping untuk mempercepat distribusi barang dan menekan biaya logistik. Ini tentu akan mengurangi kesenjangan atau disparitas harga.

Disampaikan bahwa saat kunjungan ke Papua, harga barang-barang di sana bisa berkali lipat dari di Jawa, karena ongkos pengangkutannya tinggi. Banyak daerah yang hanya bisa dicapai dengan pesawat karena jalan-jalan tidak tersedia.

Untuk itulah Presiden menyampaikan bahwa saat ini pembangunan didorong ke timur dan daerah perbatasan. Tujuannya agar wilayah Indonesia bisa terhubung, disamping juga meningkatkan kebanggaan serta menunjukkan Indonesia sebagai bangsa yang besar.

Pembangunan infratsruktur juga harus disesuaikan dengan kebutuhan wilayahnya. Di Nusa Tenggara Timur misalnya, dibutuhkan banyak bendungan sebagai solusi pengairan daerah yang kering. “Pemerintah menargetkan membangun 49 bendungan dalam lima tahun”, ujar Presiden.

Presiden juga mengatakan bahwa semua bisa berjalan dengan cepat karena terus dikontrol dan dicek sehingga pembangunan benar-benar berjalan. Dalam pembangunan tol trans Sumatera misalnya, sejak groundbreaking, sudah enam kali Presiden mengecek perkembangannya secara langsung di lapangan. “Kalau Presiden ngecek enam kali, biasanya menterinya ngecek bisa sampai 12 kali”, ucap Presiden yang disambut tawa hadirin.

Hangat, Penyambutan Presiden di Belanda

Suasana pertemuan masyarakat Indonesia yang berada di Belanda dengan Presiden sangatlah hangat, terlebih lagi setelah 16 tahun tidak ada Presiden Republik Indonesia yang berkunjung ke Belanda. Saat memasuki ruangan acara, melihat antusiasme hadirin, Presiden menyempatkan diri untuk berjalan berkeliling ruangan seraya menyalami serta menerima permintaan selfi.

Suasana pertemuan pun menjadi hangat. Terlebih karena Presiden Jokowi memulai sambutannya dengan menanyakan, “Tadi yang sudah selfi berapa orang? Yang belum siapa?” Serentak semua menjawab, “Sayaaaaa”. Presiden pun menanggapinya dengan canda, “Yang sudah juga tunjuk jari.” Kontan hadirin tertawa.

Dalam laporannya, Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja menyampaikan bahwa 500 orang yang hadir dalam acara ini mewakili lebih kurang 15 ribu masyarakat Indonesia di Belanda.

Pertemuan yang berlangsung lebih kurang 2 jam ini diakhiri dengan kumandang lagu “Padamu Negeri” oleh seluruh hadirin. Suasana syahdu sangat terasa dalam pertemuan ini, saat lagu dikumandangkan. Demikian pula saat lagu “Indonesia Raya” dinyanyikan bersama oleh seluruh hadirin di awal acara. Ini menunjukkan bahwa kecintaan masyarakat Indonesia yang sudah lama menetap di luar negeri tidak hilang, bahkan kerinduan akan tanah air seringkali muncul.

Den Haag, 21 April 2016
Tim Komunikasi Presiden

Ari Dwipayana