SIARAN PERS – Presiden Jokowi telah memutuskan beberapa waktu lalu bahwa pembangunan kilang gas Blok Masela, yang disebutkan memiliki cadangan gas terbesar di dunia akan dibangun di darat.

Suara rakyat menjadi alasan yang paling mendasar bagi Presiden Jokowi dalam memutuskan pembangunan kilang gas ini, apakah dibangun di darat atau di laut. “Saya sudah turunkan intelejen untuk dengarkan suara di Maluku, di sini menghendaki darat,” kata Presiden saat memberikan kata sambutan pada peresmian Jembatan Merah Putih di Ambon, Maluku, 4 April 2016.

Presiden menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur berskala besar seperti Blok Masela harus memberikan dampak yang signifikan bagi daerah  sekitarnya. Atas alasan itu pula Presiden memutuskan untuk membangun di darat. Presiden menilai apabila kilang dibangun di darat, akan memudahkan pengawasan pembangunannya, tidak seperti jika dibangun di laut.

Presiden  menekankan soal penyiapan disain kewilayahan. Presiden memberi contoh yang terjadi di Bontang, di mana kawasan Bontang menjadi enclave yang tumbuh sendiri di luar lingkungannya. “Di darat kalau tidak didisain yang baik, jadinya juga tidak baik juga. Apalagi di laut,  ini nanti menjadi super enclave, jadi rakyat hanya lihat dari jauh,” kata Presiden.

Memang dari sisi investor, lanjut Presiden,  pasti senang di laut. Tapi dari sisi pembangunan regional, Blok Masela akan lebih memberikan multiplier effect yang besar di darat.

Siapkan SDM Lokal

Presiden mengharapkan bahwa putra-putri daerah Maluku dapat berperan dalam pengelolaan Blok Masela ketika selesai dibangun nanti pada tahun 2024, khususnya di bidang partisipasi sumber daya manusia (SDM).

“Ini dibangun sekitar 8 tahun yang akan datang. Mestinya SDM diambil oleh Maluku, jangan sampai saya sudah maksa di darat seperti ini, nanti dari luar (tenaga kerjanya),” kata Presiden

Presiden telah memerintahkan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi untuk mempersiapkan ahli-ahli minyak dan gas dari Universitas Pattimura sehingga dalam kurun waktu 4-5 tahun yang akan datang tenaga terampil sudah siap. “Saya perintahkan ke Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi siapkan Politeknik Ambon dan Universitas Pattimura. Siapkan ini. Tidak ada lagi alasan SDM tidak ada. Dihitung sekalian dari sekarang, kalau mereka butuh 1000, siapkan 2000,” ungkap Presiden.

 

4 April 2016

Tim Komunikasi Presiden