SIARAN PERS – [Pada acara KTT ASEAN-Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Sabtu, 21 November 2015, di Kuala Lumpur, Malaysia, Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa RRT merupakan mitra penting ASEAN. Dan kerjasama ASEAN-RRT akan memasuki usia seperempat abad (25 tahun) di tahun 2016 ini.

Lebih lanjut, Presiden Jokowi dalam pidatonya memberikan penekanan pada dua hal, yakni pertama, ASEAN dan RRT harus mampu menciptakan stabilitas dan perdamaian di kawasan. Dalam hal ini, terkait masalah Laut Cina Selatan, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa ketegangan di Laut Cina Selatan harus dikurangi.

Menurut Presiden, negara-negara di sekitar kawasan Laut Cina Selatan sebaiknya mengedepankan semangat kerjasamana (mood of cooperation). Presiden percaya, hal itu akan lebih baik daripada semangat saling bertentangan (mood of rivalries) yang dikedepankan. “Saya yakin tidak ada satupun dari kita yang menginginkan ketidakstabilan di Laut China Selatan,” kata Presiden.

Untuk itu Presiden Jokowi berharap, setiap negara yang terlibat dalam masalah Laut Cina Selatan hendaknya menghormati hukum internasional yang berlaku. Negosiasi Code of Conduct harus dipercepat. Selain itu, Declaration of Conduct harus diimplementasikan secara utuh dan efektif.

Penekanan kedua yang diserukan oleh Presiden Jokowi adalah bahwa ASEAN dan RRT harus mampu membangun suatu kemitraan ekonomi yang saling menguntungkan. Mengingat potensi ekonomi dari ASEAN dan RRT sangat besar. “Kita telah memiliki target perdagangan dua arah sebesar USD 1 trilyun pada tahun 2020. Selain itu, investasi ditargetkan mencapai USD 150 milyar.

Sebagai penutup, Presiden Jokowi juga menyampaikan apresiasi kepada RRT yang mendukung rancangan East Asia Summit (EAS) Statement on Enhancing Regional Maritim Cooperation untuk disepakati pada KTT ke-10 Asia Timur. Dengan demikian, kata Presiden, “Semua negara dalam EAS telah menyetujuinya.”

 

 

21 November 2015

Tim Komunikasi Presiden