SIARAN PERS – Presiden Joko Widodo menyatakan pentingnya menjaga kedamaian, kestabilan, dan keamanan kawasan sebagai faktor yang penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu kawasan. Hal ini disampaikannya untuk menanggapi sambutan Presiden Republik Korea Park Geun-hye dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN-Republik Korea Ke-18, yang digelar Rabu, 9 September 2016 di National Convention Centre, Vientiane, Republik Demokrasi Rakyat Laos.

Mengingat kondisi di Semenanjung Korea yang saat ini dinilai sangat memprihatinkan, Presiden Joko Widodo menekankan pentingnya sikap toleransi, saling menghormati dan saling menghargai antar setiap negara.

IMG-20160907-WA0076

Foto : Laily, Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden

“Saya menekankan pentingnya untuk menahan diri dan tidak melakukan provokasi. Saya menekankan agar Korea Utara menghormati semua resolusi Dewan Keamanan PBB terkait proses denuklirisasi di Semenanjung Korea,” tegasnya.

Selain itu, Presiden Joko Widodo juga mengajak ASEAN dan Republik Korea untuk meningkatkan kerja sama di bidang ekonomi berbasis kerakyatan yang bisa dinikmati langsung oleh rakyat. Hal ini berdasarkan bukti yang menyatakan bahwa Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di ASEAN dan Republik Korea telah berhasil menyerap tenaga kerja hampir 90% dan memberi kontribusi sekitar 50% GDP.

“Saya mengajak ASEAN dan Republik Korea untuk meningkatkan produktivitas dan kapabilitas UMKM, melalui penguatan inovasi dan penerapan teknologi,” ujar Presiden.

Namun, UMKM juga memerlukan daya saing yang tinggi sehingga bisa berkompetisi dengan produk-produk lainnya. Oleh karena itu, ASEAN dan Republik Korea harus bekerja sama dan saling memberikan informasi yang dapat membawa dampak positif bagi UMKM.

“Perlu didorong peningkatan akses terhadap ‘Research and Development’ bagi UMKM dan peningkatan kerja sama pemerintah dan bisnis untuk mendorong kewirausahaan,” imbuhnya.

Sementara itu, kerja sama sosial budaya melalui ‘people-to-people contacts’ juga mempengaruhi hubungan ekonomi di kawasan, sehingga menimbulkan sikap saling pengertian dan kontribusi antar ASEAN dan Republik Korea.

“‘People-to-people contacts’ merupakan kunci bagi penguatan kerja sama sosial budaya ASEAN-Repubik Korea,” terang Presiden.

Lebih lanjut Presiden Joko Widodo menyatakan terjadinya perkembangan positif pada industri ekonomi kreatif di ASEAN dan Republik Korea, mulai dari potensi ekonomi yang tinggi hingga peningkatan jumlah kunjungan wisatawan kedua kawasan.

“Potensi itu mencapai sekitar USD 26 milyar di Republik Korea dan USD 50 milyar di ASEAN serta 7 juta orang melakukan saling kunjung pada tahun 2015, ujarnya.

Menutup tanggapannya, Presiden Joko Widodo mengajak ASEAN dan Republik Korea untuk mendukung pendirian ASEAN Culture House di Busan pada tahun 2017 mendatang sebagai bentuk dorongan terhadap kerja sama ASEAN dan Republik Korea.

“Kita perlu terus mendorong kerja sama ASEAN-Republik Korea melalui peningkatan pertukaran antar masyarakat dan pemuda di bidang alih pengetahuan ekonomi kreatif dan pendirian ASEAN Culture House di Busan tahun 2017,” tutupnya.
Vientiane, 7 September 2016
Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden

Bey Machmudin