Foto: Intan_Biro Pers, Media, dan Informasi, Sekretariat Presiden

Urusan listrik sudah menjadi urusan negara bukan urusan PLN lagi. “Karena setiap saya ke daerah keluhannya sama byar pet, sehari mati dua kali. Listriknya mati, listriknya kurang. Itu yang saya temui,” ucap Presiden Joko Widodo ketika bertemu dengan investor pembangkit listrik di Istana Negara, Selasa 22 Desember 2015.

Foto: Intan_Biro Pers, Media, dan Informasi, Sekretariat Presiden
Foto: Intan_Biro Pers, Media, dan Informasi, Sekretariat Presiden

Presiden mengatakan bahwa terjadinya pemadaman listrik di banyak daerah bukan merupakan kesalahan Menteri atau Direktur Utama (Dirut) PLN. “Tapi ada problem seperti itu. Masalah seperti itu harus diselesaikan,” ucap Presiden.

Dengan pertumbuhan ekonomi, adanya kebutuhan industri, dan setelah dilakukan perhitungan, kebutuhannya adalah 35.000 MW. “Pertanyaannya mampukah target itu kita penuhi? Kita mampu dan bisa. Dengan catatan, izin yang terlalu ruwet, terlalu lama, harus dipotong baik di kementerian, pusat maupun daerah,” ujar Presiden.

Foto: Intan_Biro Pers, Media, dan Informasi, Sekretariat Presiden
Foto: Intan_Biro Pers, Media, dan Informasi, Sekretariat Presiden

Presiden menegaskan bahwa pembangunan pembangkit listrik sebesar 35.000 MW adalah kebutuhan. Memang diakui Presiden bahwa angka itu bukan angka yang kecil. “Setiap hari saya panggil menteri karena tidak mau meleset,” kata Presiden.

Presiden menjelaskan bahwa pada bulan Agustus 2015 baru terjadi penandatanganan kontrak sebesar 600 MW. Ketika itu Dirut PLN meyakinkan bahwa pada akhir tahun akan terjadi peningkatan penandatangan kontrak. Kini, berdasarkan laporan Dirut PLN akumulasi kontrak yang telah ditandatangani mencapai 17.340 MW.

Bekerja Detil Agar Tepat Waktu

Foto: Intan_Biro Pers, Media, dan Informasi, Sekretariat Presiden
Foto: Intan_Biro Pers, Media, dan Informasi, Sekretariat Presiden

Pada saat memberikan sambutan, Presiden melakukan pengecekan secara detil dan berdialog dengan para investor tentang target yang disanggupi. Tidak jarang Presiden minta dilakukan percepatan, seperti yang ditargetkan oleh investor yang baru menyanggupi penyelesaian pembangunan pembangkit listrik pada tahun 2020. Presiden meminta agar dipercepat menjadi 2019, bila perlu bekerja 24 jam sehari.

Presiden mengakui bahwa dirinya memiliki informasi mengenai pembangunan pembangkit listrik dari berbagai sumber energi. “Dipikir saya tidak ada yang membisiki. Saya paham, pembangunan pembangkit gas sekian tahun, batu bara sekian tahun, geothermal sekian tahun,” tutur Presiden.

Foto: Intan_Biro Pers, Media, dan Informasi, Sekretariat Presiden
Foto: Intan_Biro Pers, Media, dan Informasi, Sekretariat Presiden

Setelah melakukan pengecekan, Presiden menjelaskan bahwa gaya bekerjanya seperti ini. “Saya cek satu persatu. Pada tanggal-tanggal (target) ini, saya cocokkan. Saya ingin kerja detil dan segera kerja di lapangan,” ucap Presiden.

Setelah pembangunan pembangkit listrik, bukan berarti urusan sudah selesai. Tapi masih ada yang harus disiapkan, yaitu penyiapan transmisi sepanjang 46 rbu km. “Bisa rakyat yang marah pada saya kalau tidak jadi,” ujar Presiden.

Untuk itu Presiden akan membantu investor yang memiliki masalah dalam tahap pembangunan pembangkit listrik. Presiden meminta semua pihak bekerja keras untuk mewujudkan target pembangunan pembangkit listrik ini. “Karena dengan adanya listrik, terutama di tempat-tempat  terpencil, anak-anak kita bisa belajar malam hari. Industri kecil bisa bekerja malam hari,” ujar Presiden.

Tampak hadir pada acara ini, Menteri Koordinator bidang Maritim Rizal Ramli, Menteri ESDM Sudirman Said, Menteri BUMN Rini Sumarno, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Ferry Mursidan Baldan, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki dan Dirut PLN Sofyan Basir.