Foto: Biro Pers, Media, dan Informasi, Sekretariat Presiden

SIARAN PERS – Setelah bersantap siang dengan berbagai komunitas, mulai dari pengemudi ojek, pengemudi angkutan umum, penjual beras, blogger, guru, rektor perguruan tinggi hingga komedian; Selasa, 22 Desember 2015, Presiden Joko Widodo juga bersantap siang dengan cendekiawan dan budayawan di Istana Negara. Tujuan Presiden bertemu dengan berbagai komunitas ini adalah untuk mendengarkan langsung masukan obyektif dari masyarakat

 

Foto: Biro Pers, Media, dan Informasi,Sekretariat Presiden
Foto: Biro Pers, Media, dan Informasi,Sekretariat Presiden

Cendekiawan dan budayawan yang hadir itu antara lain Radhar Panca Dahana, Franz Magnis-Suseno, Nungky Kusumastuti, Yockie Suryoprayogo, Butet Kartarejasa, Mohammad Sobary, Haidar Bagir, Nasirun, Tisna Sanjaya, Putu Supadma, Suhadi Senjaya dan Sys NS.

Dalam pertemuan, tersebut Presiden menjelaskan bahwa dialog dengan budayawan diperlukan agar kebijakan tidak kering. “Ekonomi itu jangan menjadi kering. Membangun waduk, jalan dan sebagainya ada nilai-nilai kebudayaannya, ada nilai-nilai spiritualnya,” ucap Presiden.

Foto: Biro Pers, Media, dan Informasi, Sekretariat Presiden
Foto: Biro Pers, Media, dan Informasi, Sekretariat Presiden

Untuk mewujudkan pembangunan yang tidak kering, Presiden berharap ada pertemuan rutin antara cendekiawan dan budaya dengan menteri atau kepala lembaga negara. “Pertemuannya bisa dua bulan sekali, yang penting ada masukan kepada menteri-menteri,” kata Presiden.

Radhar Panca Dahana‎ dalam konferensi pers usai pertemuan mengatakan bahwa para cendekiawan dan budayawan bersepakat dengan Presiden bahwa ‎pembangunan yang terjadi belakangan ini mengalami semacam defisit kelembaban. “Terlalu kering kalau pembangunan itu hanya diisi oleh pencapaian-pencapaian atau ambisi yang bersifat material,” kata Radhar.

Penyebab dari keringnya pembangunan itu karena tidak adanya fundamen kebudayaan. Untuk itu, kata Radhar, mulai hari ini diupayakan agar pembangunan dilandasi oleh pemahaman yang komprehensif dan hal-hal yang sangat penting dalam kebudayaan. “Yaitu norma, nilai-nilai, moralitas, etika dan lain-lain,” ucap Presiden.

Cendekiawan dan budayawan memahami bahwa mengubah cara pembangunan yang telah dilakukan selama ini, tentunya tidak akan mudah, bahkan tidak mustahil mendapatkan perlawanan resistensi-resistensi dari pihak tertentu. “Kita semua bersiap untuk mendukung Presiden dengan kapasitas dan kemampuan yang kita miliki bersama. Mulailah satu perubahaan baru‎ dalam cara kita hidup, bernegara, menjalankan pembangunan yang selama ini kita selenggarakan,” ucap Radhar.‎

 

 

Jakarta, 22 Desember 2015

Tim Komunikasi Presiden