IMG-20160607-WA0075
Foto : Kris, Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden

SIARAN PERS – Memasuki minggu pertama bulan Ramadhan ini, Presiden Joko Widodo memastikan bahwa pemerintah masih tetap berpegang pada target penurunan harga daging sapi yang telah ditetapkan sebelumnya. Hal tersebut disampaikan oleh Presiden usai menghadiri Rapat Kerja Pemerintah dengan seluruh Pejabat Eselon II Kementerian/Lembaga di Gedung Dhanapala, Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa 7 Juni 2016.

Ketika diminta tanggapannya oleh para jurnalis mengenai harga daging sapi yang dinilai masih tinggi, Presiden menyampaikan bahwa sebagian daging yang diimpor masih belum sampai sehingga untuk saat ini hasil kebijakan tersebut masih belum dapat dilihat.

“Nanti dilihat. Ini kan sudah dimulai, tidak mungkin turun dalam satu, dua, atau tiga hari. Nanti kalau harganya sudah pada posisi yang kita inginkan, saya akan ke pasar. Sebagian daging kan belum sampai. Nanti kalau sudah sampai saya baru bicara,” jawab Presiden.

Presiden juga mengutarakan usaha yang sedang dilakukan pemerintah untuk menindaklanjuti harga daging sapi yang tinggi di bulan Ramadhan ini. Presiden mengatakan, di bulan Ramadhan ini, permintaan pasar akan daging sapi semakin meningkat. Oleh karena itu, pemerintah akan menaikkan persediaan stok daging sapi di pasaran.

“Ya perbanyak supply. Ini kan supply dan demand. Kalau demand-nya naik sementara supply tidak dinaikkan, harga pasti akan merangkak naik. Tapi kalau dipasok dengan jumlah yang lebih dari cukup, harga pasti turun. Tapi nanti dilihat ya,” terang Presiden.

Sebelumnya, Presiden telah memberikan instruksi kepada sejumlah menteri terkait agar berupaya menurunkan harga daging sapi hingga di bawah Rp 80 ribu per kilogram sebelum Lebaran tiba. Presiden mengeluhkan tingginya harga daging sapi di pasar domestik yang mencapai Rp 120-130 ribu per kilogram. Setiap menjelang Lebaran, inflasi pada komoditas ini malah bisa menaikkan harganya hingga Rp 15 ribu per kilogram

“Bertahun-tahun ini terjadi dan dianggap biasa. Bagi saya, ini tak biasa,” ujar Jokowi saat itu.

7 Juni 2016
Tim Komunikasi Presiden
Ari Dwipayana