SIARAN PERS – Presiden Joko Widodo menekankan betapa pentingnya perdamaian, keamanan, dan stabilitas guna mewujudkan kemakmuran kawasan Asia Tenggara (ASEAN). Hal tersebut disampaikannya saat memberikan tanggapan pada pertemuan dengan pemimpin negara-negara ASEAN dan perwakilan delegasi ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA), di National Convention Centre, Vientiane, Laos, pada 6 September 2016.

IMG-20160906-WA0026

Foto : Laily, Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Joko Widodo berpendapat bahwa kerja sama antara ASEAN dan AIPA sangat dibutuhkan. Sebab, di tengah kondisi politik dan keamanan yang tidak menentu di kawasan ASEAN, kerja sama antara keduanya dinilai dapat meningkatkan sentralitas ASEAN.

“Komitmen dan kerja sama parlemen menjadi kunci penguatan legislasi menghadapi tantangan keamanan tradisional dan non-tradisional. Perdamaian, keamanan, dan stabilitas sekali lagi menjadi kunci dan syarat bagi kemakmuran kawasan,” ujar Presiden.

ASEAN sendiri merupakan bentuk kerja sama negara-negara yang memfokuskan pada tiga pilar utama, yakni pilar politik dan keamanan, pilar ekonomi, serta pilar sosial dan kebudayaan. Ketiga pilar tersebut bersama-sama coba diwujudkan oleh sepuluh negara anggota ASEAN untuk menghadapi tantangan global yang akan datang.

*Pembahasan Sejumlah Isu pada Pertemuan Setingkat Menteri Negara ASEAN*

IMG-20160906-WA0027

Foto : Laily, Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden

Sebelumnya, pada pagi ini delegasi masing-masing negara ASEAN telah bertemu dan membicarakan isu-isu kawasan. Dalam keterangannya, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menerangkan bahwa dalam pilar politik dan keamanan, delegasi Indonesia menyampaikan beberapa isu pada pertemuan tersebut, utamanya mengenai penangangan terhadap terorisme dan keamanan wilayah.

“Kita mendorong digunakannya _ASEAN Convention on Counter-Terrorism_ dan mekanisme-mekanisme yang lain dalam rangka pemberantasan terorisme,” terang Retno.

Dalam pertemuan tersebut, delegasi Indonesia juga membahas tentang keamanan di wilayah perairan Sulu dan sekitarnya. Retno menerangkan bahwa Indonesia meminta komitmen tiga negara, yakni Indonesia, Filipina, dan Malaysia, untuk mempererat kerja sama guna mengamankan wilayah tersebut.

“Isu ini sebenarnya juga sudah kita sampaikan pada saat _retreat_ di AMM (ASEAN Ministerial Meeting) bulan Juli yang lalu,” imbuhnya.
Vientiane, 6 September 2016
Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden

Bey Machmudin